Di antara kerumunan, Nemliwarni Zein (53) dan Titin Sumarni (49) berdiri di barisan depan, menyimak penjelasan BNPB dan Pemkab tentang relokasi.
Mata mereka berkaca, tangan sesekali menggenggam erat kain yang dikenakan—menahan emosi yang sulit ditata sejak bencana itu datang.
Ketika Air Menguasai Rumah
Sebelum tanah bergerak dan bukit bergeser, air terlebih dahulu mengambil alih tempat tinggal Nemliwarni.
Rumahnya yang berdiri tak jauh dari aliran sungai sudah ia tempati selama sepuluh tahun.
Pada hari hujan tak kunjung berhenti itu, air naik cepat, menghantam dinding rumah hingga setinggi paha orang dewasa.
“Waktu itu air deras sekali. Kami langsung lari ke atas bukit di belakang rumah,” kenangnya, Selasa (6/1/2026).
Lima hari lima malam ia dan keluarga tinggal di rumah kerabat. Ketika banjir mulai surut dan ia kembali menengok rumah, sesuatu yang lebih mengkhawatirkan terlihat: tanah di perbukitan mulai retak dan bergerak. Warga melapor ke jorong, ke bamus, hingga ke wali nagari.
“Habis itu kami disuruh ngungsi,” ujarnya. Nemliwarni dan keluarga kemudian pindah ke Masjid Aia Angek.
Tanah Turun, Rumah Retak
Di jorong yang sama, Titin Sumarni merasakan ancaman itu lebih dekat. Rumahnya berada di lereng perbukitan.
Ketika tanah mulai berubah, lantai rumah turun hampir satu setengah meter. Sebagian naik, sebagian miring, seolah rumah itu berusaha bertahan, tetapi kalah oleh gerakan bumi.
“Rumah retak, sudah condong. Takut kami,” katanya lirih.
Ia sempat mengungsi dua hari di posko MDA, lalu ikut dipindahkan ke Masjid Aia Angek, tempat ia masih menetap hingga hari ini.
Setiap kali ia memberanikan diri kembali melihat rumahnya, retakan itu tampak makin lebar.
Bangunan yang dulu menjadi tempatnya membesarkan anak-anak kini berdiri rapuh.
Rumah itu adalah bantuan pemerintah untuk keluarga kurang mampu; kehilangan tempat itu terasa seperti kehilangan dua kali.
“Kadang mau nangis saja. Kalau hujan turun, kami tambah takut,” ucapnya sambil mengusap mata.
Ladang yang Diam, Pemasukan yang Hilang
Bagi warga Aia Angek, termasuk Nemliwarni dan Titin, tanah bukan sekadar tempat tinggal—tetapi sumber hidup.
Mereka petani. Namun banjir dan longsor mengubur tanaman cabai, merusak sawah, dan menutup ladang dengan lumpur.
“Pemasukan belum ada. Tanaman habis. Sawah kena air,” tutur Nemliwarni.
Mereka bertahan dari bantuan pemerintah dan uluran tangan masyarakat. “Alhamdulillah, cukup,” tambahnya.
Huntara: Sebuah Awal yang Baru
Karena itu, ketika undangan sosialisasi dari BNPB dan Pemkab datang, keduanya hadir dengan perasaan yang sulit dijelaskan: lega, takut, haru, dan sedikit harapan.
“Senanglah hati, sudah ada tempat untuk tidur. Tenang keluarga,” kata Nemliwarni saat membayangkan pindah ke huntara.
Dari sana, ia bisa kembali ke ladang yang masih bisa diselamatkan—memeriksa apa yang tersisa, apa yang harus ditanam ulang.
“Memulai kembali ini yang sulit,” ujarnya, tersenyum getir.
Titin juga memeluk harapan serupa. Ia tahu hunian tetap (huntap) yang direncanakan berjarak lebih dari satu kilometer dari huntara. Tanpa kendaraan, ia akan menempuh jalan itu dengan langkahnya sendiri.
“Paling nanti jalan kaki. Sambil olahraga,” katanya tersenyum kecil, menerima kenyataan itu dengan ikhlas.
Menunggu Rumah Baru, Menjaga Asa
Di tengah retakan tanah, masjid yang menjadi tempat mengungsi, dan ladang yang belum bisa digarap, Nemliwarni dan Titin memilih menjaga asa.
Mereka tak tahu kapan benar-benar akan kembali memiliki rumah yang aman. Tetapi bagi mereka, setiap langkah menuju huntara adalah langkah untuk bangkit.
Dengan bantuan yang terus mengalir dan proses relokasi yang berjalan, dua perempuan Aia Angek itu perlahan menata kembali hidup yang sempat runtuh. Meski perjalanan masih panjang, mereka percaya satu hal: selama harapan tetap hidup, mereka pun akan bertahan.(CR4)
Editor : Hendra Efison