PADEK.JAWAPOS.COM-Lebih 40 tahun Ery Mefri mengarungi dunia tari kontemporer bersama Nan Jombang Dance Company. Puluhan karya ia hasilkan.
Mentas di berbagai belahan dunia. Kini, jalan tersebut telah tuntas ia lewati. Tapi ada warisan yang layak untuk dilanjutkan.
ERY Mefri membuat sebuah rumah yang ganjil. Seperti kastil, tapi bertolak belakang dengan kastil, sebab terbuka untuk siapa saja.
Tanahnya, dibeton sekeliling, dengan batu air. Lalu di dalamnya dibuat gedung pertunjukan yang artistik, tak diperbuat orang, tapi ia bisa.
Begitulah sekelumit catatan wartawan senior juga sahabat dekatnya, Khairul Jasmi, dalam epilog buku Salam Tubuh pada Bumi, Perjalanan 40 Tahun Karya Ery Mefri yang ditulis Hendra Makmur.
Orang-orang kemudian mengenalnya sebagai Ladang Tari Nan Jombang di Rimbotarok, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Di sanalah sebagian proses kreatif Ery berlangsung. Bahkan sebelum pembangunan selesai, setelah dimulai secara bertahap dari tahun 2009.
Selain gedung pertunjukan, medan nan bapaneh dan bangunan untuk tempat tinggal keluarga, ada juga museum di sebelah belakang komplek tersebut.
Halamannya cukup luas. Berkerikil dan ditanami beberapa pepohonan. Di bagian bawah dan depan museum tersebut ada kolam.
Di seberangnya tumbuh pula beringin besar dan tinggi. Khairul Jasmi telah berkali-kali menyuruh Ery untuk menebangnya. Namun tak dihiraukan.
Nah, dekat beringin itulah maestro tari kontemporer itu dimakamkan jelang zuhur kemarin.
Ia wafat sekitar pukul 13.20 WIB, Rabu (11/2), setelah berjuang melawan diabetes, komplikasi dengan ginjal. Meninggalkan lima orang anak, 10 cucu, dan tiga orang istri.
Ladang Tari Nan Jombang warisan penting lelaki kelahiran 23 Juni 1958 ini. Sebab, tidak saja menjadi tempat ia dan keluarga tinggal.
Tidak pula hanya tempat Nan Jombang Dance Company yang ia dirikan pada 1 November 1983 menjalankan proses kreatif.
Tapi juga menjadi ruang terbuka bagi banyak seniman untuk menampilkan karya-karya mereka. Beberapa di antaranya lewat Festival Tanggal 3 yang digelar setiap bulan, serta Kaba Festival yang berlangsung sekali setahun.
Namun seniman asal Saniangbaka, Kabupaten Solok ini, tak hanya meninggalkan Ladang Tari Nan Jombang dan Nan Jombang Dance Company semata. Menurut Khairul Jasmi, warisan penting lain dari Ery adalah semangat berkarya.
“Kalau kawan, bisuak lah, taun muko lah, beko lah. Tapi Ery, berproses dengan berkelanjutan,” sebutnya kepada Padang Ekspres, kemarin.
Maka, dengan kegigihannya mentas lah Ery di berbagai belahan dunia. “Yang lain, rasanya tak ada yang sesering Ery (mentas di luar negeri, red),” sambung KJ, sapaan akrabnya.
Hendra Makmur pun menyampaikan hal yang tak jauh berbeda. Katanya, kiprah penting Ery Mefri untuk dunia kesenian selama hidup adalah kerja keras dan kesetiaannya pada proses untuk menghasilkan karya tari yang menjembatani tradisi dan modernitas.
Ery memperkenalkan tari kontemporer yang berbasis identitas budaya Minangkabau ke panggung dunia, sekaligus membangun ruang dan peluang bagi generasi seniman selanjutnya.
“Kiprahnya selama dua dekade terakhir tampil di puluhan negara di empat benua, membuktikan Indonesia mendapat tempat dalam peta seni pertunjukan dunia sekaligus memperkaya warisan kesenian nasional,” ungkapnya terpisah.
Bersama Nan Jombang Dance Company, setidaknya ada 70 karya yang dihasilkan Ery Mefri semasa hidup. Namun untuk membaca karya-karya Ery, ujar Sardono W Kusumo, menarik dilihat dari lingkungan ia bertumbuh.
Yakni budaya perkotaan, karena berbasis di Kota Padang. Hidup dalam dinamika budaya perkotaan.
“Nah, ekspresinya itu (dalam karya, red) sangat individual. Sehingga dia lepas dari pola tari (tradisi) Minang, pola-pola harmoni, pola kelembutan,” sebut tokoh tari kontemporer Indonesia itu.
Jadi, sambung dia, karya-karya Ery ekspresif sekali. Dengan tubuh bisa meloncat, berguling-guling, dan menjatuhkan diri dengan dramatis sekali.
“Wilayah Ery di situ. Gaya berat tubuh, keseimbangan tubuh, dinamiki otot, kemarahan, tangisan, masuk jadi bagian pandang ekspresinya,” tutur mantan rektor Institut Kesenian Jakarta tersebut.
Lalu, setelah ditinggal Ery Mefri bagaimanakah keberlanjutan Nan Jombang Dance Company?
“Beliau (Ery Mefri, red) memang punya ketakutan tentang keberlanjutan Nan Jombang. Di hati terdalamnya (Ery Mefri, red) menginginkan Rio untuk melanjutkan,” kata Rio Mefri, anak Ery Mefri yang juga salah seorang penari utama di Nan Jombang Dance Company.
Rio pun menekankan, Na Jombang akan terus bergerak seperti biasa. “Seperti pesan beliau, apapun yang terjadi kehidupan harus terus berjalan di Nan Jombang, dunia Nan Jombang, dan nafas Nan Jombang,” tukasnya. (GANDA CIPTA—Padang)
Editor : Novitri Selvia