Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Catatan Ekspedisi Seven Summit West Sumatera ke Gunung Kerinci (Keempat): Batu Gantung, Tugu Yudha, dan Puncak Indrapura

Two Efly • Senin, 4 Mei 2026 | 06:30 WIB
Perjuangan Tim Seven Summit West Sumatera menaklukkan Gunung Kerinci menuju Puncak Indrapura, menghadapi jalur ekstrem, dingin menusuk, dan batas fisik pendaki.
Perjuangan Tim Seven Summit West Sumatera menaklukkan Gunung Kerinci menuju Puncak Indrapura, menghadapi jalur ekstrem, dingin menusuk, dan batas fisik pendaki.

Etape ketiga menuju Top Kerinci (3.805 mdpl) menjadi lintasan terberat sekaligus paling menguras tenaga. Sabtu dini hari, pukul 04.00 WIB, tim harus mulai bergerak agar tidak kehilangan momen terbaik di Puncak Indrapura. Seperti apa perjuangan itu? Berikut reportasenya.

Laporan: Two Efly & Azib Fattah

Berbeda dengan pendakian di gunung lain, perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci harus dimulai lebih awal—bahkan bisa disebut “curi start”. Jika pada umumnya summit attack dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, di Gunung Kerinci pendakian ke puncak dilakukan jauh lebih dini.

Hal yang sama dilakukan oleh Tim Seven Summit West Sumatera. Sabtu dini hari, pukul 03.00 WIB, seluruh anggota tim sudah bangun dan bersiap. Lihun Alfonso dan Bang Roy selaku pendamping mulai menyiapkan kebutuhan pendakian, dari memasak air hingga menyiapkan sarapan sederhana.

“Kita mulai bergerak menuju summit pukul 04.00 WIB. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 2,5 hingga 3 jam. Jalurnya menanjak dan curam, didominasi batu serta pasir vulkanik yang mudah lepas. Setiap langkah harus benar-benar diperhatikan,” ujar Lihun.

Dini hari di ketinggian di atas 3.500 mdpl menghadirkan dingin yang sulit dijelaskan. Angin berembus bebas tanpa penghalang, kabut menyelimuti, dan suhu terasa menusuk hingga tulang. Lingkungan terbuka tanpa pepohonan membuat tubuh benar-benar terekspos bebas tanpa hambatan.

“Dini hari pasti dingin, Pak. Bapak termasuk beruntung karena cuaca cerah. Malam kemarin sempat hujan es di puncak lokasi kita sekarang. Pastikan pakaian berlapis, gunakan sarung tangan, dan kaus kaki,” tambah Lihun.

Arahan itu kami patuhi. Lapisan pakaian kami pasangkan dengan rapi. Baju dipakai berlapis-lapis. Lapis pertama kaus dalaman. Lapis kedua baju kaus Ollin Bank Nagari tipe lengan panjang. Lapis ketiga mantel hujan dan lapis terakhir jaket tebal sebagai pelindung terluar. Sarung tangan dan kaus kaki pun digunakan berlapis oleh sebagian anggota tim.

“Mantel hujan itu penting. Selain menahan dingin dari luar, juga menjaga panas tubuh agar tidak cepat hilang,” jelas Lihun.

Menembus Gelap, Menaklukkan Tanjakan

Pukul 04.05 WIB, tim mulai bergerak. Headlamp terpasang di kepala, trekking pole di tangan, langkah pun diayunkan.

Seperti hari sebelumnya, tim dibagi menjadi dua rombongan. Tim advance terdiri dari Lihun Alfonso sebagai leader, Azib Fattah Mandala Putra, Two Efly, dan Habil sebagai sweeper. Tim kedua dipimpin Dani Fauzi, Suci, Ciday, Zira, Dima, Abrar, dan Bang Roy sebagai sweeper.

Baru beberapa menit berjalan, jarak antar tim mulai terbentang. Jalur langsung menanjak tajam sejak dari area camp. Pijakan didominasi batu dan pasir vulkanik, tanpa pegangan berarti. Tanaman centigi yang tumbuh rendah pun tidak cukup membantu sebagai tumpuan dan pegangan.

Pendaki hanya bisa mengandalkan kekuatan fisik, keseimbangan, dan fokus. Dengan cahaya headlamp yang terbatas, jarak pandang hanya sekitar empat hingga lima meter. Kondisi semakin menantang karena pijakan yang rawan lepas, dipadukan dengan hembusan angin dan kabut pagi. Tidak ada pilihan selain menjaga langkah dengan hati-hati.

Langkah demi langkah kami ayunkan. Napas mulai tersengal, tubuh yang sebelumnya hangat di dalam tenda kini harus cepat beradaptasi dengan suhu sangat dingin. Otot terasa kaget.

Target awal adalah plataran pertama yang diperkirakan dapat dicapai dalam 20 menit. Namun, plataran di Kerinci bukanlah “bonus” seperti yang dikenal para pendaki. Jalurnya tetap menanjak dengan pasir vulkanik sebagai pijakan utama. Di sisi kiri dan kanan, jurang menganga cukup dalam.

Menuju Batu Gantung: Ujian Fisik dan Mental

Dari plataran, target berikutnya adalah Batu Gantung, sekitar 30–40 menit perjalanan. Namun, jalur menuju titik ini benar-benar menguji nyali, fisik, dan napas.

Langkah terasa berat. Untuk setiap 10–15 langkah, kami harus berhenti sejenak. Jarak 10 meter terasa seperti 100 meter. Napas tersengal, dada terasa sesak, dan mulai mengarah ke sedikit rasa sakit.

“Ada istilah di jalur ini, Pak: naik dua, turun satu,” ujar Lihun, menggambarkan kondisi pijakan yang mudah longsor.

Benar saja, setiap dua langkah maju, satu langkah mundur akibat pasir yang bergeser. Fisik terkuras, mental diuji. Namun, menyerah bukan pilihan. Tim bersepakat untuk terus melangkah, sepelan apa pun. Ritme dijaga, napas diatur.

Saya dan Azib mulai sering berhenti. Napas terdengar berat seperti kendaraan bermuatan besar menuruni tanjakan ekstrem “Sitinjau Lauik”. Di sisi lain, waktu terus berjalan. Puncak Indrapura hanya “ramah” pada pukul 06.30 hingga 08.00 WIB. Setelah itu, kabut belerang akan menebal dan angin pun mulai bertiup kencang.

Dengan tertatih, saya coba terus melangkah. Rasa lelah dan napas sesak saling berpacu. Jarak antara saya dan Azib mulai terpisah. Seiring waktu dan ayunan langkah, saya kian tertinggal.

Di titik ini saya menyadari bahwa usia tak bisa dilawan. Sekuat apa pun tekad dan keinginan, ketika tubuh diserang lelah, langkah melambat dan rehat menjadi satu-satunya jalan. Makin lama berhenti, makin tertinggal dari rombongan.

Ini takdir. Saya pun tak mau memaksakan diri melampaui batas kemampuan badan. Tanda-tanda kelelahan makin terasa. Jika sebelumnya untuk memulihkan napas saya mendongak ke atas, kini berubah.

Kepala mulai relatif berat untuk didongakkan. Secara refleks dalam ayunan langkah dan ketika berhenti, kepala tertunduk lelah. Telapak tangan ditumpukan ke salah satu lutut sebagai topangan agar tubuh tidak goyah dan tumbang. Berulang-ulang tindakan itu dilakukan.

Terus terang ingin rasanya menyerah. Namun, di balik keinginan menyerah, rasa ingin menggapai puncak kembali menggema. Sebagai pendaki tua, saya coba merajut perca-perca pengalaman di masa lalu. Apa pun yang terjadi, puncak harus mampu ditapaki.

Langkah diayunkan kembali. Ukuran langkah pun mulai disesuaikan kemampuan. Jika sebelumnya melangkah dengan ukuran normal, kini mulai dikurangi. Strategi pun diubah. Langkah pendek merupakan satu-satunya cara agar bisa beranjak ke depan.

Strategi lama ini ternyata cukup efektif. Walau terlihat lambat dan lamban, namun pergerakan ada. Capek berhenti, lelah berkurang, berjalan kembali. Tak terasa Batu Gantung sebagai target kedua akhirnya kian dekat.

Dengan sisa tenaga, akhirnya saya mencapai Batu Gantung. Di Batu Gantung, Lihun, Azib, dan Habil sudah menunggu. Sesampai di Batu Gantung, saya langsung duduk. Botol minum dibuka. Air hangat yang sudah disiapkan langsung dituang dan diminum.

“Mas, fotokan siluet, ya. Itu matahari sudah mulai memendarkan cahaya paginya,” pinta Azib.

Tugu Yudha dan Batas Daya Tahan

Perjalanan berlanjut menuju Tugu Yudha. Jalurnya semakin curam, dengan kombinasi batu dan pasir vulkanik yang labil.

Di titik ini, saya mulai tertinggal lagi. Napas semakin berat, dada terasa sesak. Usia benar-benar menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Langkah kecil kembali dilakukan sebagai satu-satunya strategi. Satu demi satu langkah diayunkan, perlahan namun pasti.

Kabut mulai bercampur dengan aroma belerang. Udara terasa semakin tipis. Saya harus sering berhenti. Itulah upaya yang dapat dilakukan agar tubuh masih bisa digerakkan menuju Tugu Yudha.

Sama dengan tanjakan sebelum Batu Gantung, posisi makin berjarak. Saya kian tercecer walaupun masih dalam jarak pandangan mata. Azib yang berada di depan mulai sering melihat ke belakang guna memastikan apakah sang ayah masih aman atau sudah tak sanggup melanjutkan perjalanan.

Waktu terus berjalan dan langkah gontai tetap diayunkan. Jarak ke Tugu Yudha pun kian dekat. Dari ujung tanjakan terlihat bentangan di kemiringan. Di situ telah berdiri Lihun, Azib, dan Habil.

“Dikit lagi. Ini kami sudah di Tugu Yudha,” kata Azib sambil menunjuk ke monumen Yudha yang terletak di tengah-tengah tumpukan batu.

Informasi Azib menjadi penyemangat. Langkah mulai saya pacu. Makin cepat sampai di Tugu Yudha, makin cepat pula tubuh ini dapat diistirahatkan.

Menuju Top Indrapura

Target terakhir adalah Top Indrapura, puncak tertinggi di Sumatera. “Dari sini (Tugu Yudha—red) dibutuhkan sekitar 30–40 menit lagi. Kita upayakan sebelum pukul 07.00 WIB sudah sampai di puncak,” ajak Lihun.

Jalur menuju puncak sangat curam. Pendakian harus dilakukan dengan lebih keras lagi. Jika pendakian dilakukan dengan pola tembak lurus, dapat dipastikan sangat jarang pendaki yang bisa sampai ke puncak.

Para pemandu dan penggiat Gunung Kerinci menyadari itu. Satu-satunya cara agar pendaki bisa dengan relatif nyaman menggapai puncak adalah membuat jalur pendakian meliuk dan berbelok bak ulir baut. Tujuannya agar tanjakan tidak terlalu curam dan ekstrem. Di kalangan pendaki, ini dikenal dengan teknik zig-zag.

Seiring ayunan langkah lelah mengikuti putaran waktu, akhirnya tapak langkah sampai juga di Puncak Indrapura. Inilah puncak tertinggi Kerinci. Puncak Indrapura dengan ketinggian 3.805 mdpl. “Alhamdulillah, kita sampai di Top Indrapura,” ujar Lihun.

Sorak bahagia pecah. Rasa lelah terbayar lunas. Cahaya matahari pagi menyinari puncak, membentuk siluet indah yang tak terlupakan. Kami saling mendokumentasikan momen, mengabadikan sejarah kecil dalam perjalanan hidup.

Perjalanan Turun: Ujian Berikutnya

Perjuangan belum usai. Turun ke Shelter 3 justru membutuhkan energi ekstra. Gravitasi menjadi tantangan tersendiri.

Dengan fokus tinggi, satu per satu turunan berhasil dilalui hingga akhirnya kami tiba di Shelter 3. Setelah beristirahat dan makan, muncul keputusan penting: turun langsung ke Pintu Rimba tanpa bermalam di Shelter 1.

Pilihan tembak langsung ke Pintu Rimba menjadi keputusan penting. Pasalnya, dua malam sebelumnya Azib selalu kram paha dan betis kaki. Azib tak mau lagi penyakit itu menyerang salah satu kakinya jika terpaksa lagi nge-camp di Shelter 1. Pilihan untuk langsung ke Pintu Rimba menjadi keputusan yang paling rasional.

Usulan Azib kami diskusikan. Dengan pertimbangan matang, tim sepakat. Syaratnya, harus tiba di Shelter 1 sebelum pukul 16.00 WIB. Jika di atas itu, sangat berisiko melintasi jalur Shelter 1 hingga ke Pintu Rimba.

“Sebagai pendamping, saya merekomendasikan jika kita tiba di Shelter 1 menjelang pukul 16.00 WIB maka kita bisa lanjut ke Pintu Rimba. Sebaliknya, kalau lewat dari pukul 16.00 WIB sampai di Shelter 1, sebaiknya kita tetap nge-camp di Shelter 1 semalam lagi,” ungkap Lihun.

Mendengar opsi itu, Azib mulai semangat. Sejumlah strategi perjalanan kami rancang. Kami bergerak cepat dan lincah menuruni trek. Lenturkan kaki, fleksibelkan pijakan dan lompatan. Shelter 3 ke Shelter 2 kami tempuh 45 menit. Shelter 2 ke Shelter 1 bisa diselesaikan sekitar 2,5 jam. Pukul 15.15 WIB, kami tiba di Shelter 1.

Di Shelter 1, kami rehat singkat. Kami hanya makan makanan ringan dan minum susu. Sembari rehat, kedua kaki dirilekskan agar kuat berpacu kembali menuju Pos 3 (Pondok Panorama).

Strategi yang sama kembali kami lakukan setibanya di Pos 3 (Pondok Panorama). Rehat sebentar, minum air, dan rilekskan kaki. Tak lama kami berhenti di Pos 3, hanya hitungan menit. Setelah itu, langkah kembali kami pacu menuju Pos 2 (Batu Lumut).

Di Pos 2 Batu Lumut, kami rehat lebih singkat lagi. Hari kian sore, sementara waktu hanya tinggal 60 menit lagi menjelang pukul 18.00 WIB. Dua titik perhentian tersisa harus bisa diselesaikan dalam waktu 60 menit ke depan.

Pukul 17.05 WIB, kami bergegas menuju Bangku Panjang (Pos 1). Lebih kurang 35 menit, kami sampai di Pos 1 Bangku Panjang. Sama dengan Pos 2 Batu Lumut, kami hanya rehat sebentar. Target 30 menit tersisa benar-benar terpenuhi sampai ke Pintu Rimba.

Akhirnya, kerja keras membuahkan hasil. Tepat pukul 18.00 WIB, kami sampai di Pintu Rimba. “Kita foto dulu di gerbang ini untuk diinformasikan ke Bunda di rumah,” ujar Azib.

Di warung depan gerbang Pintu Rimba, kami rehat cukup lama. Akhirnya, setelah berjalan selama 14 jam (04.00 WIB–18.00 WIB), misi pendakian tuntas dilaksanakan. (Bersambung)

Editor : Hendra Efison
#Seven Summit West Sumatera #Puncak Indrapura #pendakian ekstrem #jalur Batu Gantung #gunung kerinci