Langit baru saja menuntaskan semburat jingganya ketika azan Magrib bersahut-sahutan dari masjid-masjid tua di Kota Malang.
Laporan: Endang Pribadi, Kota Malang
Perlahan, lorong-lorong sempit di Kajoetangan Heritage dipenuhi langkah kaki. Cahaya lampu temaram memantul di dinding rumah-rumah kolonial yang telah bertahan lebih dari seabad.
Aroma kopi yang mengepul dari sudut gang bercampur dengan harum jajanan tradisional yang baru diangkat dari penggorengan.
Di sela-selanya, tawa pengunjung berpadu dengan sapaan hangat warga yang tetap menjalani kehidupan seperti biasa.
Di tempat ini, sejarah tidak dikurung dalam etalase museum. Ia berjalan bersama manusia, menyapa setiap tamu yang datang, dan tetap bernapas di antara rumah-rumah tua yang masih dihuni pemiliknya.
Pemandangan itu mungkin sulit dibayangkan jika mengingat bagaimana Kajoetangan pernah dikenal bertahun-tahun silam.
Kawasan ini dahulu hanyalah perkampungan padat dengan gang-gang sempit, bangunan tua yang mulai lapuk, serta lingkungan yang kurang tertata.
Bahkan, tidak sedikit yang menilainya sebagai kawasan kumuh yang tak memiliki masa depan.
Namun, sejarah membuktikan hal yang berbeda. Alih-alih merobohkan bangunan-bangunan lama, masyarakat justru memilih merawatnya.
Bersama Pemerintah Kota Malang, mereka bergotong royong menata lingkungan, memugar rumah-rumah tua, sekaligus menghidupkan kembali identitas kawasan yang pernah menjadi bagian penting perkembangan Kota Malang sejak masa kolonial.
Ikhtiar panjang itu berbuah ketika pada 22 April 2018, Kampoeng Heritage Kajoetangan resmi ditetapkan sebagai destinasi wisata sejarah.
Kini, setiap akhir pekan, terutama selepas Magrib, lorong-lorong yang dahulu sepi berubah menjadi ruang perjumpaan.
Wisatawan datang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Bule-bule dengan santainya menikmati secangkir kopi yang dijual dari pekarangan rumah-rumah warga yang disulap menjadi etalase kedai kopi nan memikat.
Mereka bukan sekadar mencari latar foto bernuansa tempo dulu, melainkan pengalaman yang membuat sejarah terasa dekat.
Tak jarang, bule-bule ikut berebut bertransaksi jajanan dengan wisatawan lokal di jajanan kaki lima yang ditawarkan warga.
Di antara para pengunjung malam itu, hadir Dr. Rani Asmara, S.Si., M.Pd., guru Biologi SMA Negeri 2 Kota Mojokerto yang juga dikenal sebagai guru berprestasi tingkat nasional.
Menurutnya, kekuatan terbesar Kajoetangan justru bukan terletak pada usia bangunannya, melainkan pada kehidupan yang terus berlangsung di dalamnya.
"Di sini yang ditawarkan adalah sebuah pengalaman, ruang yang nyaman untuk berjalan kaki, berbincang dengan warga, menikmati secangkir kopi di sudut gang, hingga merasakan bagaimana sejarah masih hidup berdampingan dengan aktivitas sehari-hari," ujar Rani Asmara saat mendampingi penulis menyusuri Kajoetangan Heritage, Minggu (3/8/2026) malam.
Bagi Rani, wisata sejarah tidak akan memiliki makna apabila hanya menghadirkan bangunan tua tanpa kehidupan. Yang membuat Kajoetangan berbeda adalah interaksi yang tercipta antara warga dan wisatawan.
"Setiap lorong menghadirkan cerita, setiap rumah memiliki kenangan, dan setiap percakapan menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa pulang para pengunjung," paparnya.
Pandangan itu terasa nyata sepanjang menyusuri gang-gang sempit Kajoetangan. Di depan rumah-rumah tua, warga membuka kedai kopi sederhana, menjual makanan tradisional, kerajinan tangan, hingga suvenir.
"Lihat saja, di dalam begitu banyak warga yang menjual makanan dan minuman. Tentu akan membantu perekonomian warga. Selain itu, wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari kehidupan kampung yang hangat dan penuh cerita," kata Rani.
Kehidupan itulah yang membuat Kajoetangan berbeda dari banyak kawasan heritage lainnya yang pernah ditemui di Sumatera Barat.
Kajoetangan berdiri di koridor yang dahulu dikenal sebagai Kajoetanganstraat, salah satu ruas jalan terpenting pada masa Hindia Belanda.
Puluhan rumah bergaya kolonial masih berdiri kokoh dengan pintu-pintu kayu yang tebal, jendela-jendela besar, dan atap tinggi khas Eropa.
Sebagian besar bangunan itu masih dihuni keluarga pewaris generasi terdahulu sehingga kawasan ini tetap mempertahankan denyut kehidupan yang autentik.
Di beberapa sudut, pengunjung dapat menemukan galeri benda antik, tempat ibadah, mural edukatif, hingga kisah-kisah lama yang masih dituturkan langsung oleh warga.
Seolah setiap rumah memiliki suara dan setiap lorong menyimpan ingatan yang belum selesai diceritakan.
Bahkan, nama Kayutangan sendiri lahir dari kisah sederhana. Konon, dahulu terdapat penunjuk arah berbentuk tangan dari kayu di sebuah persimpangan jalan.
Penanda itu memudahkan para pelintas menentukan tujuan perjalanan. Dari benda sederhana itulah nama Kayutangan lahir dan bertahan hingga kini.
Jejak sejarah kawasan ini membentang jauh ke masa lalu. Kajoetangan diyakini telah menjadi bagian dari Kampung Talun sejak sekitar tahun 1198 pada masa Hindu-Buddha.
Ketika Belanda menjadikan Malang sebagai pusat administrasi dan perdagangan pada abad ke-19, kawasan ini berkembang menjadi permukiman elite bergaya Eropa.
Memasuki dekade 1920-an, jalur trem uap Malang–Stoomtram–Maatschappij melintasi kawasan tersebut dan menjadikannya salah satu pusat aktivitas perdagangan kota.
Selepas kemerdekaan, masyarakat membangun rumah-rumah bergaya arsitektur jengki yang kemudian berpadu harmonis dengan bangunan kolonial. Perjumpaan dua zaman itulah yang kini menjadi wajah khas Kajoetangan Heritage.
Keberhasilan Kajoetangan menyimpan pesan penting bagi banyak kota di Indonesia, termasuk Kota Padang.
Padang memiliki kawasan-kawasan tua yang menyimpan jejak sejarah tidak kalah panjang. Purus, misalnya, dipercaya sebagai salah satu permukiman awal masyarakat Nias di Kota Padang.
Dalam tradisi lisan, nama Purus berasal dari kata furui atau vurui yang berarti melipat atau menggulung, merujuk pada ombak besar yang kerap menerjang pesisir. Dari ungkapan difurui ita, penyebutan Puruih perlahan berubah menjadi Purus seperti yang dikenal sekarang.
Di sisi lain, Batang Arau menjadi saksi awal berkembangnya Kota Padang sebagai kota pelabuhan.
Kawasan itu dikenal sebagai lokasi permukiman pertama para perantau dari darek yang datang ke pesisir pada abad ke-16. Dari tepian sungai itulah denyut perdagangan, pelayaran, dan kehidupan kota bertumbuh.
Seperti Kajoetangan pada masa lalu, kawasan-kawasan tersebut kini juga menghadapi tantangan sebagai permukiman padat.
Namun, pengalaman Malang menunjukkan bahwa kawasan tua tidak harus dihapus demi pembangunan. Dengan penataan yang tepat, pelestarian sejarah justru dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, kota yang berkarakter bukan hanya dibangun oleh jalan-jalan lebar dan gedung-gedung tinggi. Ia juga dibangun oleh keberanian warganya menjaga ingatan.
Kajoetangan telah membuktikannya. Di lorong-lorong yang tak pernah benar-benar sepi itu, masa lalu tidak sekadar dikenang.
Ia terus hidup melalui langkah para pengunjung, senyum warga yang menyambut, aroma kopi yang menguar dari sudut gang, dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (***)
Editor : Hendra Efison