Muncul sebagai magnet wisata baru di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Tanahdatar, Banda Dareh lebih dari sekadar tempat wisata yang menawarkan keindahan alam, keceriaan keluarga, tren kekinian, serta cita rasa kuliner.
Laporan, Syafrizal Putra, Nagari Minangkabau
Wisata Banda Dareh yang berada di Jorong Badinah Murni, Nagari Minangkabau, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanahdatar, saat ini tumbuh sebagai penopang ekonomi nagari.
Di balik rimbunnya dedaunan dan hamparan hijau persawahan Kabupaten Tanahdatar, terdengar alunan desir air yang mengalir tenang membelah bukit. Di tempat ini, embun pagi seolah enggan beranjak cepat, membiarkan angin perbukitan menyapa setiap sudut kawasan yang kini menjadi perbincangan hangat para pengunjung wisata. Wisata Banda Dareh hadir bukan sekadar sebagai destinasi pelepas penat, melainkan sebagai wujud nyata perjuangan, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang membangkitkan senyum warga lokal.
Jalur menuju tempat ini menawarkan bentangan sawah bertingkat dengan siluet perbukitan sebagai latar belakang alami yang menenangkan jiwa. Namun, di balik keindahan panorama tersebut, tersimpan kisah perjalanan panjang tentang bagaimana sebuah ide sederhana mampu mengubah nasib masyarakat.
Dari Saluran Air hingga Menjadi Destinasi Wisata
Kawasan Wisata Banda Dareh resmi beroperasi dan mulai disesaki pengunjung sejak 2025. Namun, jika menengok ke belakang, perjalanan tempat ini penuh dengan dinamika yang tidak instan. Pada kurun waktu 2022 hingga 2024, lokasi yang kini berdiri megah tersebut hanyalah alur bandar (saluran air) biasa yang dimanfaatkan untuk budi daya ikan air tawar.
Selama dua tahun berjalan, potensi budi daya ikan dirasa kurang efektif untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat luas. Melihat kondisi tersebut, para pemuda setempat tidak tinggal diam. Gagasan segar muncul dari diskusi-diskusi hangat di warung kopi hingga teras rumah warga. Melalui musyawarah mufakat, disepakati sebuah keputusan besar untuk mentransformasi kawasan budi daya ikan menjadi wisata berbasis pemberdayaan masyarakat pada awal 2025.
Pergerakan besar ini kian menemukan bentuknya berkat kolaborasi sinergis berbagai elemen nagari. Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag) setempat hadir menjadi stimulan utama yang menggelontorkan dana segar untuk pembangunan beberapa saung pada tahap awal pengerjaan, tepat setelah pihak pengelola resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Suntikan modal awal dari Bumnag ini menjadi fondasi fisik pertama yang mengubah wajah kawasan tersebut.
Tak berhenti di situ, gelombang semangat pembangunan ini juga memantik kepedulian yang luar biasa dari para perantau Nagari Minangkabau. Dari seberang pulau hingga mancanegara, para perantau memberikan dukungan moral dan material yang tak terhingga. Sinergi antara pemuda-pemudi kampung halaman, Bumnag, dan sokongan kuat perantau inilah yang menjadi bahan bakar utama penjelmaan Banda Dareh.
Sejak saat itu, Banda Dareh bersolek. Saluran air yang dahulunya hanya difungsikan untuk budi daya ikan kini berubah menjadi magnet wisata baru. Kehadirannya tak hanya memikat mata yang haus akan ketenangan alam, tetapi juga menjadi motor penggerak roda ekonomi baru bagi masyarakat nagari setempat.
Akses Mudah dan Panorama Persawahan
Salah satu keunggulan utama Wisata Banda Dareh terletak pada lokasinya yang amat strategis. Berada hanya sekitar delapan kilometer dari jantung Kota Batusangkar, kawasan ini dapat dijangkau dalam waktu singkat, sekitar 10 menit perjalanan. Akses jalan yang memadai memudahkan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk melenggang mulus menuju lokasi.
Hal ini menjadikan Banda Dareh sebagai pilihan yang diminati masyarakat perkotaan maupun wisatawan luar daerah yang ingin beristirahat sejenak dari rutinitas harian. Tanpa perlu menempuh perjalanan berjam-jam yang melelahkan, pengunjung sudah bisa merasakan atmosfer pedesaan yang asri dan sejuk di tengah persawahan dan perbukitan.
Menyusuri aliran air Banda Dareh, pandangan mata akan dimanjakan oleh puluhan saung atau gubuk kayu berarsitektur estetik yang berjejer rapi di sepanjang tepi aliran air. Saung-saung ini dirancang dengan berbagai ukuran dan kapasitas, mulai dari saung untuk enam hingga delapan orang hingga saung berkapasitas puluhan orang yang sering dimanfaatkan untuk agenda rapat kedinasan, gathering keluarga, maupun diskusi komunitas.
Mengutamakan Keramahan dan Kenyamanan Pengunjung
Namun, yang membuat Banda Dareh benar-benar berbeda dari destinasi wisata pada umumnya adalah "jiwa" yang tertanam di dalamnya. Wisata ini tidak digerakkan oleh ambisi komersialisasi semata, melainkan atas dasar kepedulian mendalam terhadap sesama. Setiap jengkal pembangunan dan pelayanan dirancang untuk memberikan kehangatan layaknya bertamu ke rumah kerabat sendiri.
Kenyamanan pengunjung tidak hanya terpancar dari cita rasa hidangan yang disajikan atau harganya yang sangat ramah di kantong. Lebih dari itu, keramahan para pekerja dan pengelola yang merupakan warga lokal menjadi keunggulan utama yang membuat siapa saja rindu untuk kembali.
Fasilitas di Wisata Banda Dareh sengaja didesain untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang ingin bersantai dan merasakan sensasi berbeda. Salah satu daya tarik unik yang paling digemari adalah pengalaman menikmati kuliner khas sembari mencemplungkan kaki ke dalam aliran air sungai yang jernih dan dingin.
Nasi Baka dan Sensasi Kuliner di Aliran Air
Menu wajib yang paling dicari pengunjung adalah Nasi Baka (Nasi Daun). Bayangkan menikmati sebungkus nasi hangat beraroma daun pisang, disandingkan dengan telur balado yang pedas gurih, ikan sepat goreng renyah, serta sentuhan jengkol olahan khas Minang, sembari merasakan sensasi sejuknya air sungai yang mengalir membasahi jemari kaki. Pengalaman ini menjadi keunikan tiada dua yang sulit ditemukan di tempat lain.
Meski mengusung konsep alam dan kerakyatan, pengelola tidak main-main dalam menyediakan fasilitas penunjang. Kawasan ini dilengkapi dengan area parkir yang tergolong sangat luas di kelasnya. Area parkir roda dua mampu menampung hingga 600 unit sepeda motor yang tersebar di tiga lokasi, sementara kantong parkir mobil sanggup menampung sekitar 40 kendaraan roda empat serta area khusus yang memadai untuk empat bus pariwisata berukuran besar.
Menariknya, harga tiket masuk dan retribusi parkir yang ditetapkan pengelola pun tergolong sangat terjangkau bagi semua kalangan. Riki membeberkan rincian tarif masuk yang bersahabat tersebut.
"Untuk tiket masuk, sepeda motor hanya Rp5.000, termasuk uang masuk dan parkir. Untuk roda empat, parkirnya Rp5.000 ditambah biaya masuk per orangnya Rp2.000," jelas Riki merinci keterjangkauan tarif di kawasan wisata tersebut.
Selain lahan parkir yang lapang dan terjangkau, sarana ibadah seperti musala yang bersih, fasilitas toilet yang terawat, hingga belasan spot foto kekinian seperti Mirror Selfie (atau swafoto cermin) juga disediakan. Berkat perpaduan keindahan alam dan sentuhan modern tersebut, Banda Dareh berhasil menggaet kunjungan wisatawan tidak hanya dari dalam daerah Sumatera Barat dan provinsi tetangga, tetapi juga wisatawan mancanegara.
Keseruan semakin bertambah dengan tersedianya kesempatan bagi pengunjung, khususnya anak-anak dan keluarga, untuk merasakan sensasi memberi makan ikan secara langsung dari genggaman tangan. Pengelola telah menyiapkan pakan ikan berupa pelet yang dikemas rapi dalam cangkir (cup) dan dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Investasi Jalan Allah, Wisata yang Berbagi
Di balik hilir mudik pengunjung dan riak air Banda Dareh, ada filosofi pengelolaan yang sangat menyentuh hati. Pengelola Wisata Banda Dareh menerapkan sebuah sistem manajemen transparan dan religius yang dinamakan Investasi Jalan Allah (IJA).
Melalui program IJA ini, pengelola secara konsisten menyisihkan sebagian dari pendapatan bersih operasional wisata untuk disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan di nagari tersebut. Mulai dari bantuan untuk anak yatim, lansia, hingga perbaikan sarana umum desa, semuanya disokong dari hasil transaksi wisata. Konsep ini membuat setiap rupiah yang dikeluarkan oleh pengunjung tidak hanya berbalik menjadi makanan dan peningkatan fasilitas, tetapi juga menjadi ladang amal jariah.
Kuliner Beragam dan Pelayanan Ramah
Keberagaman kuliner menjadi alasan lain mengapa pengunjung betah berlama-lama di Banda Dareh. Berbagai variasi menu makanan ringan hingga makanan berat tersedia lengkap untuk memenuhi selera seluruh pengunjung.
Selain Nasi Baka yang menjadi pahlawan kuliner tempat ini, kudapan tradisional seperti pisang goreng hangat yang renyah di luar dan lembut di dalam, kopi seduh lokal, serta aneka minuman segar menjadi teman setia saat berbincang di atas saung.
Kehangatan pelayanan dan kelezatan sajian ini diakui langsung oleh para pengunjung. Salah seorang anggota rombongan wisatawan yang ditemui di lokasi mengungkapkan rasa puasnya terhadap pengalaman berkunjung ke Banda Dareh.
"Yang kita makan di sini itu tadi pisang goreng, enak banget. Pelayanannya ramah-ramah. Minumannya juga enak-enak," ungkap salah seorang anggota kelompok wisatawan dengan nada ceria.
Banda Dareh Menggerakkan Ekonomi Warga
Dampak paling nyata dari hadirnya Wisata Banda Dareh adalah kebangkitan ekonomi warga setempat. Keberadaannya berhasil membuka lapangan pekerjaan baru serta memicu tumbuhnya jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat lokal, mulai dari penyedia makanan hingga pemuda yang mengelola area parkir dan kebersihan.
Kehadiran destinasi ini benar-benar membawa angin segar bagi perekonomian warga lokal. Dini, salah seorang pemudi setempat yang kini dipercaya mengelola administrasi media sosial Wisata Banda Dareh, merasakan betul kemandirian finansial sejak bergabung.
"Alhamdulillah, setelah bekerja di Wisata Banda Dareh itu, sudah bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus minta lagi ke orang tua, bahkan juga bisa kasih orang tua uang," ungkap Dini penuh rasa syukur.
Senada dengan Dini, raut kebahagiaan juga terpancar dari Suci, seorang ibu rumah tangga yang kini mengadu nasib sebagai pencuci piring di kawasan wisata tersebut. Kehadiran Banda Dareh diakui sangat membantu menopang beban dapur keluarganya.
"Bahwa semenjak bekerja di Wisata Banda Dareh itu, tidak terlalu khawatir dengan biaya buat anak. Dan sangat meringankan beban ekonomi keluarga," terangnya jujur.
Fokus Membuka Lapangan Pekerjaan
Ketua Wisata Banda Dareh, Asri A atau yang akrab disapa Riki, menegaskan bahwa fokus utama mereka sejak awal adalah kebermanfaatan sosial, bukan sekadar menumpuk keuntungan finansial semata.
Saat ditemui di lokasi wisata pada Kamis (21/8/2026), Riki membagikan visi dan landasan emosional di balik pengelolaan Banda Dareh dengan penuh kesederhanaan dan ketulusan.
"Alhamdulillah dengan adanya Wisata Banda Dareh ini, sudah mulai ngurangi angka pengangguran yang ada di nagari kami. Kita berharap sebagai orang yang dituakan selangkah di sini, dapat membuka lapangan kerja sebanyak mungkin untuk masyarakat yang membutuhkan kerja di sini," ujar Riki.
Riki menambahkan bahwa nilai keberhasilan bagi mereka tidak diukur dari seberapa tebal kas atau modal yang terkumpul, melainkan dari seberapa banyak warga yang bisa menyambung hidup dari tempat ini.
"Kita tidak butuh banyak kas ataupun pendapatan, target misalkan dalam tiga bulan harus mendapatkan 30-50 juta bukan itu. Yang penting bagi kita sudah banyak orang kerja di sini meskipun hasilnya baru cukup untuk memenuhi keperluan operasional serta membayar gaji para yang bekerja gak masalah. Soalnya dasar kita membuka usaha, untuk membuka lapangan pekerjaan, memanusiakan manusia dan kita tidak lari dari tujuan awal," terang Riki tegas kepada Padang Ekspres di lokasi Wisata Banda Dareh, Kamis (21/8/2026).
Menjaga Alam dan Mengembangkan Fasilitas
Menatap masa depan, pihak pengelola tidak berniat untuk berhenti berbenah. Rencana pengembangan jangka panjang telah disusun guna memastikan kenyamanan pengunjung tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian alam dan nilai-nilai sosial yang ada.
Fasilitas-fasilitas penunjang akan terus dilengkapi, kebersihan lingkungan akan makin ditingkatkan, dan penambahan spot foto bertema alam akan terus berlanjut.
"Untuk kebersihan itu nomor satu bagi kita. Keramahan dalam melayani pengunjung hal yang sangat utama bagi kita di Wisata Banda Dareh. Dan kami berencana memperbanyak spot foto ke depannya," lanjut Riki menjelaskan komitmen timnya.
Wisata Banda Dareh kini telah menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat untuk menghabiskan akhir pekan. Ia telah menjadi simbol baru tentang bagaimana sebuah nagari di Kabupaten Tanahdatar mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri. Lewat semangat kebersamaan, kepedulian sosial melalui Program Investasi Jalan Allah, serta komitmen mendalam untuk "memanusiakan manusia", Banda Dareh memberi pelajaran berharga: bahwa pariwisata sejati adalah pariwisata yang memiliki jiwa dan memberi kehidupan bagi sekitarnya.(Safrizal Putra)
Editor : Hendra Efison