Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

7 Perkataan yang Diam-Diam Menyakiti Anak, Menurut Psikologi

Suci Kurnia Putri • Jumat, 14 Februari 2025 | 10:26 WIB

Ilustrasi ayah sedang memarahi anaknya.
Ilustrasi ayah sedang memarahi anaknya.
PADEK.JAWAPOS.COM—Sebagai orangtua, kita sering berbicara tanpa berpikir panjang. Komentar singkat atau candaan yang tampaknya sepele bisa meninggalkan dampak mendalam pada anak.

Psikologi menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk membentuk harga diri, kepercayaan diri, dan cara anak melihat dunia.

Tanpa sadar, beberapa ucapan yang sering digunakan justru bisa melukai perasaan anak lebih dari yang kita bayangkan. Dikutip dari laman Geediting pada Jumat (14/2/25), berikut adalah 7 pernyataan yang sebaiknya dihindari diucapkan kepada anak.

  1. Kamu terlalu Sensitif

Mengatakan ini bisa membuat anak merasa emosinya tidak valid. Seiring waktu, mereka mungkin belajar menekan perasaan mereka, bukannya mengelolanya dengan sehat.

Lebih baik akui perasaan mereka dan ajak berbicara, misalnya dengan mengatakan, "Aku lihat ini benar-benar membuatmu sedih. Mau cerita ke Mama/Papa?"

  1. Kenapa Kamu tidak Bisa Seperti Kakakmu?

Perbandingan dengan saudara kandung atau anak lain bisa merusak harga diri anak dan menciptakan persaingan tidak sehat. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing, dan lebih baik fokus pada kekuatan mereka.

Katakan sesuatu seperti, "Aku suka caramu berpikir kreatif," atau "Aku lihat kamu berusaha keras, dan itu luar biasa."

  1. Aku Kecewa dengan Kamu

Baca Juga: Semen Padang FC vs Persita Tangerang, Rindu Kemenangan di Rumah Sendiri

Kekecewaan dari orangtua bisa sangat menyakitkan bagi anak. Mereka mungkin menganggap bahwa mereka gagal sebagai pribadi, bukan hanya dalam tindakan tertentu.

Daripada membuat mereka merasa bersalah, lebih baik arahkan mereka untuk memperbaiki kesalahan dengan mengatakan, "Itu bukan pilihan terbaik, tapi mari kita bahas bagaimana melakukannya lebih baik lain kali."

  1. Berhenti Menangis, Itu Bukan Masalah Besar

Apa yang tampak kecil bagi orang dewasa bisa terasa besar bagi anak-anak. Mengabaikan perasaan mereka bisa membuat mereka belajar untuk menekan emosi.

Lebih baik validasi perasaan mereka dengan mengatakan, "Aku tahu ini membuatmu sedih. Mau cerita supaya kita cari solusi bersama?"

  1. Kamu Selalu Mengacaukan Segalanya

Kalimat ini bisa membuat anak merasa tidak mampu dan takut mencoba. Jika sering didengar, mereka bisa kehilangan rasa percaya diri dan berhenti berusaha.

Daripada menyoroti kesalahan, lebih baik fokus pada solusi dengan mengatakan, "Itu tidak berjalan sesuai rencana, tapi apa yang bisa kita lakukan berbeda lain kali?"

  1. Karena Aku Bilang Begitu

Anak-anak butuh alasan yang jelas agar memahami aturan, bukan sekadar dipaksa menurut. Jika hanya disuruh patuh tanpa penjelasan, mereka bisa kesulitan berpikir kritis saat dewasa.

Sebagai gantinya, coba jelaskan alasannya secara sederhana, seperti, "Kamu harus tidur lebih awal supaya besok tubuhmu segar untuk sekolah."

  1. Aku Harap Kamu Lebih Seperti...

Ucapan ini bisa membuat anak merasa tidak cukup baik. Dibanding membangun kepercayaan diri, mereka justru bisa tumbuh dengan perasaan minder dan selalu mencari validasi orang lain. Setiap anak istimewa dengan cara mereka sendiri.

Daripada membandingkan, lebih baik katakan sesuatu yang menunjukkan apresiasi, misalnya, "Aku bangga dengan caramu mencoba hal-hal baru."

Apa yang kita katakan pada anak setiap hari membentuk bagaimana mereka melihat diri sendiri. Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pesan yang terus-menerus mereka dengar akan menjadi bagian dari keyakinan mereka tentang diri sendiri.

Satu kalimat yang diucapkan tanpa berpikir bisa meninggalkan luka mendalam, sementara kata-kata yang penuh dukungan bisa menjadi bekal mereka untuk tumbuh dengan percaya diri.

Dengan lebih sadar dalam berkomunikasi, kita bisa menciptakan lingkungan di mana anak merasa dihargai, dipahami, dan mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. (*)

Editor : Adetio Purtama
#anak #orangtua #perkataan orangtua