Jika dibiarkan terlalu lama, anak bisa tumbuh dengan sikap egois, sulit bekerja sama, dan kurang menghargai orang lain. Dikutip dari laman Fatherly pada Selasa (18/3/25), berikut tujuh tanda bahwa anak butuh bimbingan disiplin lebih baik, beserta cara mengatasinya secara positif.
- Anak Merasa Berhak Mendapatkan Segalanya
Baca Juga: Puasa Membingkai Harmoni Sosial
Jika anak sering menuntut sesuatu tanpa usaha dan marah saat tidak mendapatkannya, itu tanda bahwa ia belum memahami konsep usaha dan penghargaan. Solusinya, gunakan aturan yang jelas.
Misalnya, daripada berkata, “Ayo, bereskan mainanmu!”, lebih baik katakan, “Mainan harus disimpan setelah digunakan.” Dengan cara ini, anak memahami aturan sebagai bagian dari kebiasaan, bukan sekadar perintah orang tua.
- Sulit Menerima Kata “Tidak”
Apakah anak sering merengek atau tantrum saat permintaannya ditolak? Ini bisa menjadi tanda bahwa ia belum terbiasa dengan batasan. Untuk mengatasinya, gantilah larangan dengan pernyataan positif.
Daripada mengatakan, “Jangan berlari di dalam rumah!”, katakan, “Di dalam rumah, kita berjalan dengan tenang.” Dengan pendekatan ini, anak lebih mudah menerima aturan tanpa merasa dilarang.
- Tidak Peduli dengan Perasaan Orang Lain
Jika anak kurang empati atau tidak mau berbagi, ini bisa menjadi tanda bahwa ia belum memahami pentingnya kepedulian terhadap orang lain. Salah satu cara efektif untuk mengatasinya adalah dengan memberikan contoh dan pengakuan positif.
Misalnya, jika anak membantu temannya, katakan, “Terima kasih sudah membantu, itu perbuatan yang baik.” Dengan cara ini, anak belajar bahwa kebaikan adalah sesuatu yang dihargai dan layak dilakukan.
- Tidak Mau Mengakui Kesalahan
Anak yang selalu menyalahkan orang lain atau mencari alasan saat berbuat salah perlu dibantu untuk belajar bertanggung jawab. Daripada langsung memarahi, ajak anak memahami dampaknya.
Misalnya, “Saat kamu tidak mengembalikan mainan temanmu, dia jadi sedih. Bagaimana kalau itu terjadi padamu?” Pendekatan ini membantu anak memahami konsekuensi dari perbuatannya tanpa merasa disudutkan.
- Tidak Menghargai Batasan Orangtua
Jika anak sering membantah atau tidak peduli saat orang tua menegur, itu tanda bahwa ia belum memahami pentingnya menghormati batasan. Untuk mengatasinya, gunakan pernyataan berbasis aku.
Baca Juga: DPR Lanjutkan Proses Revisi UU TNI, Hanya Menyasar Tiga Pasal
Daripada berkata, “Kamu nakal karena tidak mendengar!”, lebih baik katakan, “Ibu merasa sedih kalau kamu tidak mendengarkan saat berbicara.” Dengan cara ini, anak akan lebih memahami dampak perilakunya terhadap orang lain.
- Sering Meminta Hal Secara Berlebihan
Jika anak selalu ingin lebih dan tidak puas dengan apa yang diberikan, ini bisa menjadi tanda bahwa ia belum memahami konsep syukur dan batasan. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengajarkan pilihan terbatas.
Misalnya, “Kamu mau susu atau jus?” atau “Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” Dengan memberikan dua pilihan yang sudah ditentukan, anak tetap merasa memiliki kendali tanpa terbiasa menuntut berlebihan.
- Sulit Mengikuti Aturan di Rumah atau Sekolah
Jika anak sering melanggar aturan, baik di rumah maupun di sekolah, ini tanda bahwa ia perlu bimbingan dalam memahami konsekuensi. Untuk membantu anak lebih disiplin, tetapkan aturan yang konsisten dan konsekuensi yang logis.
Misalnya, jika anak lupa mengerjakan tugas, konsekuensinya bukan marah-marah, tetapi membantu mereka membuat jadwal agar lebih disiplin.
Konsistensi dalam menerapkan aturan akan membuat anak lebih mudah memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat.
Disiplin bukan berarti hukuman, tetapi pembelajaran agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Dengan pendekatan yang tepat, anak bisa belajar memahami aturan tanpa merasa terkekang. Jadi, sudahkah anakmu mendapatkan bimbingan disiplin yang cukup? (*)
Editor : Adetio Purtama