Beruntung, ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa mencegah munculnya sikap negatif dan membantu pasangan tetap bertahan, bahkan saat menghadapi masa-masa sulit.
Pasangan yang sedang berkonflik cenderung membangun dinding untuk melindungi diri, yang justru menciptakan jarak dan menjauhkan mereka dari pernikahan yang bahagia. Sebaliknya, pasangan yang sukses mampu menjadikan komunikasi positif sebagai prioritas.
Dilansir dari laman Your Tango pada Jumat (16/05/2025), terdapat lima kebiasaan kecil yang membuat pasangan tetap bersama di masa sulit, menurut psikologi, berikut ulasannya.
- Terbuka dan Jujur
Masing-masing pasangan mengungkapkan kebenaran dengan kasih sayang. Tidak ada rasa takut untuk membicarakan pikiran dan perasaan kepada pasangan.
Bukan soal menang dalam argumen, memaksakan kehendak, atau selalu merasa paling benar. Ini tentang kejujuran dalam menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan mengenai suatu situasi.
Ingat, pikiran dan pendapat adalah milik kamu. Tidak harus selalu sama dengan pasangan, dan begitu pun sebaliknya.
Tidak ada yang benar atau salah secara mutlak, hanya berbeda pendapat. Tidak apa-apa bila sesekali kamu sepakat untuk tidak sepakat.
Namun, mungkin ada saatnya ketika masing-masing perlu berkompromi agar bisa mengambil keputusan penting bersama.
- Memulai dengan Empati
Pasangan yang memiliki hubungan sehat mampu menunjukkan empati dalam berkomunikasi. Mereka menyadari bahwa untuk menciptakan interaksi positif, penting untuk bisa menempatkan diri di posisi satu sama lain.
Pasangan yang baik mampu menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh pasangannya, meskipun mereka sendiri tidak merasakan hal yang sama.
Komunikasi yang positif membuat pasangan meluangkan waktu untuk membicarakan sudut pandang masing-masing dan berusaha memahami bagaimana rasanya menjadi orang lain.
- Berbicara dari Hati
Komunikasi yang baik dalam hubungan berarti setiap orang merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pasangannya.
Artinya, pasangan saling menyampaikan, “Aku mencintaimu, dan karena itu aku peduli dengan apa yang kamu pikirkan dan rasakan”
Penting untuk menunjukkan kepada pasangan bahwa kamu peduli dan ingin mendengarkan. Namun, ucapan saja tidak cukup. Kamu harus benar-benar menunjukkan kepedulian tersebut dengan mendengarkan dan memahami apa yang disampaikan pasanganmu.
- Tidak Menggunakan Sarkasme yang Menyakitkan
Terkadang, seseorang menggunakan kata-kata yang menyakitkan dan sarkastik untuk menjatuhkan pasangannya atau mendapatkan apa yang diinginkan. Ini berbeda dengan candaan ringan yang biasa terjadi saat pasangan bersenda gurau.
Sarkasme yang dimaksud di sini adalah bentuk komunikasi yang merendahkan dan menyakiti. Komunikasi yang sehat berarti kamu dan pasangan sama-sama menghindari kata-kata yang menyakitkan dan komentar yang bersifat menyindir.
- Saling Mendengarkan
Setiap pasangan harus benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan pasangannya. Ini berarti mereka saling menatap dan tidak terdistraksi oleh hal lain, seperti komputer, ponsel, televisi, atau anak-anak.
Jika kamu sulit fokus saat pasangan berbicara, coba tanyakan apakah pembicaraan bisa dilanjutkan di waktu yang lebih tepat, ketika kamu bisa lebih konsentrasi.
Atau, mintalah klarifikasi jika kamu belum memahami maksud pasangan. Bagi pihak yang sedang berbicara, penting juga untuk menyadari apakah pasangannya masih fokus.
Jangan berbicara terlalu panjang tanpa henti, sesekali tanyakan apakah pasanganmu masih mengikuti atau butuh jeda. (*)
Editor : Adetio Purtama