Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengulik Album Perdana Poor Too Geez: 9 Lagu tentang Utang, UMKM, hingga Tekanan Usia 30 Tahun

Adetio Purtama • Sabtu, 27 Juni 2026 | 11:12 WIB
Grup musik Poor Too Geez merilis album perdana mereka yang berisi 9 lagu. (DOKUMENTASI POOR TOO GEEZ)
Grup musik Poor Too Geez merilis album perdana mereka yang berisi 9 lagu. (DOKUMENTASI POOR TOO GEEZ)

PADEK.JAWAPOS.COM--Grup musik Poor Too Geez resmi memperkenalkan album perdana mereka yang berjudul Studi Komparatif atas Harapan Finansial, Tekanan Ekonomi, dan Imajinasi Kemapanan pada Kelas Menengah Produktif dalam Perspektif Irama Kemiskinan Modern.

Album yang mulai tersedia di berbagai platform musik digital pada 26 Juni 2026 ini menjadi penanda debut resmi band yang mengusung tema ekonomi sebagai identitas utama karya-karyanya.

Poor Too Geez lahir dari gagasan sederhana yang kemudian berkembang menjadi sebuah konsep musikal yang unik. Band ini dibentuk oleh St. Rajo Alam dan Noki pada Oktober 2021.

Baca Juga: IUP Batu Andesit Padang Pariaman Dipastikan Sesuai Aturan, ESDM Sumbar Ungkap 4 Fakta Proses Perizinan

Awalnya hanya berangkat dari candaan, namun keduanya melihat persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat sebagai tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan layak diangkat menjadi karya musik.

Kepada Padang Ekspres, para personel menceritakan, nama Poor Too Geez—dibaca Purtujis—dipilih karena dianggap mampu merepresentasikan identitas band. Jika diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, nama tersebut berarti "Miskin Juga, Ya Ampun".

Melalui nama itu, mereka ingin menghadirkan ruang bagi pendengar untuk menertawakan kerasnya kehidupan ekonomi secara bersama-sama tanpa kehilangan empati terhadap kenyataan yang dihadapi banyak orang.

Baca Juga: Prof Rima Semiarty Resmi Jadi Guru Besar Unand, Soroti 5 Penyebab Masyarakat Berobat ke Luar Negeri

Berbeda dari kebanyakan grup musik yang mengangkat tema percintaan, Poor Too Geez justru mengubah formula lagu-lagu pop melankolis Indonesia era 1980-an menjadi cerita tentang tekanan ekonomi modern.

Inspirasi musikal mereka berasal dari grup-grup legendaris seperti Black Brothers, The Mercys, D’Lloyd, Trio Ambisi, serta musik pop Indonesia klasik lainnya.

Nuansa musik lawas dipadukan dengan budaya populer masa kini, kemudian dibungkus dengan lirik yang satir, humor yang ringan, dan berbagai persoalan ekonomi yang akrab dengan kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi ciri khas Poor Too Geez dalam membangun identitas musikalnya.

Baca Juga: FKM Unand Kini Miliki 5 Guru Besar, Dua Profesor Baru Perkuat Riset Kesehatan Masyarakat

Album perdana mereka mengusung judul yang sangat panjang dan bergaya akademik. Meski terdengar seperti judul sebuah penelitian ilmiah, pilihan tersebut justru menjadi bentuk satire terhadap kehidupan kelas menengah produktif yang setiap hari bergulat dengan tekanan finansial, impian kemapanan, dan tuntutan sosial.

Menurut Poor Too Geez, istilah seperti studi komparatif, harapan finansial, hingga imajinasi kemapanan sengaja digunakan untuk menggambarkan bagaimana persoalan ekonomi saat ini sering kali terasa begitu kompleks. Namun, isi album justru berbicara tentang pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Album ini berisi sembilan lagu yang saling terhubung dan membentuk satu narasi utuh mengenai perjalanan emosional kelompok masyarakat kelas menengah bawah produktif.

Baca Juga: Festival Maantaan Sambareh 2026 Hidupkan Tradisi Piaman, Yota Balad: Jangan Sampai Generasi Muda Lupa Budaya

Mereka digambarkan sebagai kelompok yang terus bekerja, tetap produktif, memiliki berbagai impian, namun masih berada dalam tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Album dibuka melalui lagu Mars Poorta dan Poorti, sebuah mars satir yang terdengar penuh semangat tetapi sesungguhnya menggambarkan perjuangan masyarakat kelas menengah bawah dalam mengejar kesejahteraan.

Lagu kedua, Pinjamkan Aku Uang, mengangkat bagaimana persoalan utang dapat memengaruhi hubungan sosial, mengubah rasa empati menjadi kekecewaan ketika kondisi ekonomi menjadi semakin sulit.

Baca Juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Bukittinggi Capai 18 Derajat

Nuansa cerita kemudian menjadi lebih personal dalam Kesayangan Bapak Wahai Bubu. Lagu ini menggunakan sudut pandang seorang kepala keluarga yang bahkan harus menjelaskan kondisi ekonomi kepada hewan peliharaan kesayangannya. Di balik pendekatan humor dan absurditas, tersimpan rasa bersalah karena tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga secara maksimal.

Selanjutnya, Mahligai Kemiskinan berbicara mengenai penyesalan atas keputusan finansial di masa lalu. Lagu tersebut menggambarkan seseorang yang pernah berada dalam kondisi ekonomi mapan, namun gagal mempersiapkan masa depan akibat gaya hidup konsumtif, minimnya tabungan, serta dampak pandemi.

Pada lagu Symphony Finansial, Poor Too Geez mengangkat kecemasan generasi digital yang hidup berdampingan dengan mobile banking, ATM, investasi, aplikasi keuangan, dan berbagai instrumen finansial modern, namun tetap mengalami kesulitan mengatur kondisi ekonomi pribadi.

Baca Juga: Bantuan Pangan Kota Pariaman Tuntas, 9.938 KPM Terima Beras dan Minyak Goreng dalam 4 Hari

Sisi emosional album mencapai puncaknya melalui lagu Rendang Ibu. Lagu ini mengisahkan kehidupan seorang perantau yang bertahan hidup berkat kiriman rendang dari kampung halaman.

Rendang dihadirkan bukan hanya sebagai makanan, melainkan simbol kasih sayang keluarga, penghematan, sekaligus bentuk ketahanan hidup.

Nuansa nostalgia kemudian muncul melalui Masih Ku Ingat (Mau Beli PS5) yang membandingkan masa kecil ketika bermain di warnet atau rental PlayStation dengan kondisi saat dewasa, ketika hiburan menjadi semakin mahal akibat berbagai kebutuhan ekonomi.

Baca Juga: Pembesaran Kelenjar Tiroid Belum Tentu Kanker

Lagu Rezeki Harimau menggambarkan realitas pelaku usaha kecil dan UMKM di era digital yang harus beradaptasi dengan promosi media sosial, cashback, penjualan daring, hingga penghasilan yang tidak menentu.

Album ditutup melalui 30 Under Thirty, lagu yang mengangkat tekanan usia dan standar kesuksesan generasi muda modern. Referensi terhadap daftar Forbes Under Thirty menjadi simbol bagaimana banyak anak muda merasa tertinggal karena belum mencapai kesuksesan sebelum usia 30 tahun.

Lagu penutup ini menjadi refleksi mengenai penerimaan terhadap kenyataan hidup sekaligus harapan bahwa masa depan dapat berubah menjadi lebih baik.

Baca Juga: Di Sumbar hingga Provinsi Tetangga, Solar Subsidi Langka: Antre dari Subuh karena Siang sudah tak Tersedia

Poor Too Geez memperkenalkan istilah "Irama Kemiskinan Modern" sebagai benang merah album ini. Menurut mereka, kemiskinan modern bukan hanya tentang tidak memiliki uang, tetapi kondisi ketika seseorang tetap bekerja, tetap produktif, aktif di media sosial, memiliki akses terhadap teknologi digital, namun masih terus hidup dalam tekanan ekonomi yang tidak kunjung berakhir.

Album ini juga menjadi dokumentasi emosional mengenai generasi yang tumbuh bersama internet, cicilan, aplikasi mobile banking, media sosial, inflasi gaya hidup, dan impian besar yang kerap berbenturan dengan realitas ekonomi.

Salah satu lagu yang menjadi representasi utama album adalah Mars Poorta dan Poorti. Lagu tersebut dikemas layaknya mars perjuangan dengan semangat kolektif, tetapi berisi satire mengenai kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah yang terus didorong bekerja keras, menabung, dan mengejar kemapanan meskipun kondisi ekonomi tidak selalu mendukung.

Baca Juga: Pelajaran Gempa Kembar Venezuela bagi Sumbar

Kalimat seperti "Maju, majulah kelas menengah kebawah!" menjadi seruan yang terdengar heroik sekaligus ironis. Poor Too Geez memperkenalkan istilah Poorta dan Poorti sebagai identitas simbolik bagi generasi pekerja, pencicil, pemburu promo, penikmat payday, hingga mereka yang terus bermimpi menjadi mapan meski hidup dalam keterbatasan finansial.

Lebih dari sekadar lagu pembuka, Mars Poorta dan Poorti diposisikan sebagai arsip emosional bagi generasi yang tumbuh dengan berbagai motivasi untuk mencapai kebebasan finansial, namun harus hidup berdampingan dengan kecemasan ekonomi yang semakin kompleks.

Album Studi Komparatif atas Harapan Finansial, Tekanan Ekonomi, dan Imajinasi Kemapanan pada Kelas Menengah Produktif dalam Perspektif Irama Kemiskinan Modern resmi tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, serta video musiknya dirilis melalui YouTube mulai 26 Juni 2026. (adt)

Editor : Adetio Purtama
#Poor Too Geez #irama kemiskinan #lagu #album perdana #umkm