Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dwiyogo Mantap Bersolo Karier: Usung Romantic Pop, Terinspirasi Musik Era 60-90an

Adetio Purtama • Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:14 WIB
Dwiyogo. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dwiyogo. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Musisi asal Sumatera Barat, Dwiyogo, semakin memantapkan langkahnya sebagai solois setelah sebelumnya dikenal sebagai personel band Santvara. Lewat proyek solonya, Dwiyogo memilih menghadirkan warna romantic pop yang terinspirasi dari musik Indonesia era 1960-an hingga 1990-an, sekaligus menjadi identitas baru dalam perjalanan bermusiknya.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--

Kepada Padang Ekspres, Dwiyogo bercerita, keinginannya menjadi solois telah tumbuh sejak lama. Ia ingin memiliki ruang yang lebih luas untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri dan menyampaikan cerita yang lebih personal melalui musik.

"Sejak lama saya memang punya keinginan untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaan sendiri. Menjadi solois adalah cara paling tepat untuk menyampaikan cerita dan karakter musik yang memang ingin saya bawa," ujarnya.

Baca Juga: Bupati Annisa Temui Menteri PKP, Dharmasraya Usulkan Dukungan Program 3 Juta Rumah

Musisi yang mulai serius meniti karier solo sejak akhir 2024 itu mengaku jalur solo memberinya kebebasan dalam seluruh proses kreatif, mulai dari penulisan lirik, penyusunan aransemen, hingga membangun suasana lagu sesuai dengan visi yang diinginkannya.

Menurut Dwiyogo, pilihannya menjadi solois bukan karena ingin meninggalkan dunia band ataupun menganggap band sebagai pesaing. Sebaliknya, ia melihat keduanya sebagai wadah berkarya yang memiliki keunikan masing-masing.

"Saya tidak pernah melihat band sebagai saingan. Saya hanya merasa jalur solo adalah cara yang paling tepat untuk menyampaikan karya-karya saya," katanya.

Baca Juga: Pemkab Dharmasraya Mulai Rehabilitasi Jalan Simpang Tiga Sitiung Lama–Pulai, Anggaran Hampir Rp2 Miliar

Dalam membangun karakter musiknya, Dwiyogo mengaku banyak belajar dari berbagai musisi lintas generasi. Nama-nama seperti Eric Clapton, The Beatles, Rudy Rusadi, Betharia Sonata, hingga Gito Rollies menjadi referensi penting dalam perjalanan musikalnya.

Meski demikian, ia menegaskan inspirasi tersebut hanya menjadi bagian dari proses belajar. "Saya ingin orang mengenal karya saya, bukan hanya mengenal siapa yang menginspirasi saya. Saya ingin tetap berkarya dengan cara saya sendiri," tuturnya.

Tetap Aktif Bersama Band

Selain fokus sebagai solois, Dwiyogo masih memiliki hubungan dengan band Santvara yang mengusung genre alternative rock dan shoegaze.

Baca Juga: The Balibis, Seiris Bali di Ranah Minang

Ia mengakui membagi waktu antara aktivitas band dan proyek solo bukan perkara mudah. Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses yang dinikmatinya sebagai musisi.

"Tentu ada kendala, terutama membagi waktu dan menjaga konsistensi berkarya. Tapi saya menikmati prosesnya," ujarnya.

Meski memiliki dua warna musik yang berbeda, ia merasa tidak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan keduanya. "Setiap musisi pasti punya banyak referensi. Saat menjadi solois, saya merasa romantic pop adalah warna musik yang paling menggambarkan diri saya," katanya.

Baca Juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Sumbar Sabtu 11 Juli 2026, Simak Kondisi di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh

Salah satu ciri khas Dwiyogo sebagai solois adalah konsistensinya mengusung romantic pop dengan nuansa musik Indonesia era 60-an hingga 90-an.

Menurutnya, lagu-lagu pada masa tersebut memiliki kekuatan melodi, lirik yang sederhana namun menyentuh, serta nuansa hangat yang masih relevan dinikmati hingga sekarang.

"Saya ingin menghadirkan kembali rasa itu, tetapi bukan untuk mengulang masa lalu. Saya juga tidak ingin terkekang oleh satu genre. Saya ingin membuat lagu yang merdeka," jelasnya.

Baca Juga: Sempat Diisukan Mundur, Jampidsus Pilih Bertahan, Pasca Temuan Uang serta 74 Kg Emas

Single perdananya bertajuk Hitam Manisku menjadi awal perjalanan musikal Dwiyogo sebagai solois dengan karakter pop retro yang khas.

Dalam waktu dekat, Dwiyogo akan merilis EP perdana bertajuk Puri Baluwarti yang dijadwalkan meluncur pada Juli 2026 ini.

EP tersebut akan berisi enam lagu yang sebagian besar lahir dari pengalaman pribadi, dipadukan dengan cerita-cerita fiksi yang dibangunnya agar tetap terasa jujur dan dekat dengan pendengar.

Baca Juga: Sempat Diisukan Mundur, Jampidsus Pilih Bertahan, Pasca Temuan Uang serta 74 Kg Emas

"Saya berharap EP ini bisa menjadi langkah baru dalam perjalanan saya sebagai solois dan menemukan pendengarnya sendiri," katanya.

Harapan untuk Musik Sumatera Barat

Di tengah dominasi band di Sumatera Barat, Dwiyogo menilai kehadiran solois justru dapat memperkaya ekosistem musik daerah.

Ia berharap semakin banyak musisi lokal yang berani menampilkan identitas mereka sendiri tanpa terpaku pada tren tertentu.

Baca Juga: KPK Duga Rumah Jampidsus Febrie di Sentul Pakai Nama Orang Lain

"Saya berharap dunia musik di Sumatera Barat semakin terbuka dan saling mendukung, apa pun genre maupun bentuk musiknya. Semoga semakin banyak musisi yang berani berkarya dengan identitas mereka sendiri dan semakin banyak ruang untuk memperkenalkan karya-karya lokal ke luar daerah," pungkasnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
solois Padang Dwiyogo romatic pop musik era 60-an