Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Hallow Ungkap Perjalanan Berkarya: Proyek Musik yang Lahir dari Kegelisahan

Adetio Purtama • Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:20 WIB
Hallow. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Hallow. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Di tengah kesibukannya sebagai musisi yang aktif di sejumlah proyek seperti Voidgrip, Norbit, Wart, hingga berbagai proyek kreatif di bidang artwork dan branding melalui NVST, Hallow hadir sebagai ruang personal untuk bereksplorasi tanpa batas. Seperti apa ceritanya?

Adetio Purtama, Padang--

Bagi sang penggagas, Hallow bukan sekadar proyek musik sampingan, melainkan wadah untuk mengolah kegelisahan, mencoba perspektif baru, sekaligus menghidupkan kembali materi-materi lama yang belum sempat digunakan di proyek musik lainnya.

"Hallow sebenarnya hanya sebuah media eksplorasi dan progresivitas untuk melihat perspektif baru sekaligus mengukur sejauh mana batas saya. Di sela-sela kesibukan bekerja dan bermusik, Hallow menjadi tempat saya mengisi ruang kosong," ujar Hallow kepada Padang Ekspres.

Baca Juga: Dwiyogo Mantap Bersolo Karier: Usung Romantic Pop, Terinspirasi Musik Era 60-90an

Perjalanan Hallow bermula dari proses mengumpulkan atau banking berbagai materi musik yang telah ditulis sejak 2021.

Saat itu, ia juga aktif sebagai vokalis sekaligus bassis di band Dieonic dan tetap menulis berbagai komposisi musik untuk proyek-proyek lain.

Memasuki 2024, ia mulai menyadari bahwa sejumlah materi yang dimiliki memiliki karakter berbeda dan tidak selalu cocok dengan band-band tempatnya berkarya. Dari situlah muncul gagasan untuk mengolah seluruh materi tersebut menjadi proyek musik yang berdiri sendiri.

Baca Juga: Bupati Annisa Temui Menteri PKP, Dharmasraya Usulkan Dukungan Program 3 Juta Rumah

"Kalau ada materi yang dirasa belum cocok dipakai di band-band yang ada, akhirnya muaranya ke Hallow," katanya.

Dalam membangun identitas musikal, Hallow mengaku banyak dipengaruhi oleh berbagai musisi dan band, baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu inspirasi terbesarnya adalah Ned Russin, personel Title Fight yang kini menjalankan proyek solo Glitterer. Dari Indonesia, proyek musik Collapse yang digawangi Andika Surya juga menjadi referensi penting dalam perjalanan kreatifnya.

Baca Juga: Pemkab Dharmasraya Mulai Rehabilitasi Jalan Simpang Tiga Sitiung Lama–Pulai, Anggaran Hampir Rp2 Miliar

Untuk karakter musik, Hallow menyebut sejumlah nama seperti Collapse, Peterpan, Perunggu, dan Skandal sebagai referensi lokal. Sementara dari kancah internasional terdapat Tigers Jaw, Glitterer, Modern Color, Citizen, serta Balance and Composure.

Nama Hallow dipilih bukan tanpa alasan. Secara terminologi, kata tersebut bermakna suci, mulia, atau sesuatu yang baik. Filosofi itu dianggap mewakili perjalanan kreatif yang lahir dari hal-hal yang tampak biasa, tetapi dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna.

"Hallow menjadi doa bagi diri saya sendiri dan juga bagi orang-orang di sekitar," ujarnya.
Berbeda dari Proyek Musik Lain

Jika Norbit dikenal dengan warna death metal/hardcore, sementara Voidgrip mengusung alternative metal/nu-gaze, Hallow justru memilih jalur alternative rock dan emo.

Baca Juga: The Balibis, Seiris Bali di Ranah Minang

Menariknya, proyek ini awalnya justru berangkat dari musik indie pop. Namun, seiring bertambahnya pengalaman dalam proses rekaman dan produksi musik digital, Hallow berkembang ke arah yang lebih eksploratif.

Ia mengaku banyak belajar mengenai digital audio workstation (DAW), tata suara, hingga produksi musik dari rekan-rekannya di Norbit dan Voidgrip.

"Awalnya Hallow itu indie pop karena keterbatasan alat dan pengetahuan recording. Setelah banyak belajar dari teman-teman, saya mulai mencoba genre yang lebih eksploratif," ungkapnya.

Baca Juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Sumbar Sabtu 11 Juli 2026, Simak Kondisi di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh

Sejauh ini, Hallow telah merilis satu mini album atau EP berjudul Feels yang berisi lima lagu, yakni While, Lifted/Chasing, Stay Close, Halcyon Day, dan Exile. Seluruh lagu dalam EP tersebut lahir dari pengalaman pribadi dan proses refleksi diri.

Lifted/Chasing mengangkat tema tentang melepaskan luka dan menemukan kembali kedamaian. Stay Close berbicara mengenai kehilangan dan keberanian untuk tetap membuka hati.

Sementara Halcyon Day menjadi refleksi tentang beristirahat, berdamai dengan waktu, dan mensyukuri setiap fase kehidupan, sedangkan Exile mengisahkan pencarian identitas, koneksi, dan harapan di tengah rasa keterasingan.

Baca Juga: Sempat Diisukan Mundur, Jampidsus Pilih Bertahan, Pasca Temuan Uang serta 74 Kg Emas

Selain EP tersebut, Hallow juga telah menyiapkan tiga materi baru yang hingga kini masih belum dirilis. Meski mengakui skena musik di Padang dipenuhi musisi dan band berkualitas, Hallow memilih untuk tidak mengikatkan diri pada kelompok atau komunitas tertentu.

Menurutnya, kebebasan berpikir dan berkarya menjadi nilai yang ingin terus dijaga. "Saya tidak ingin menempatkan diri dalam satu blok atau komunitas tertentu. Apa yang saya sampaikan melalui musik lahir dari kegelisahan dan keyakinan pribadi," katanya.

Siapkan Lagu Baru Bertema "Syukur"

Dalam waktu dekat, Hallow memastikan tengah menyiapkan karya terbaru. Meski belum mengungkap detail tanggal perilisannya, proyek tersebut dipastikan akan mengangkat tema "Syukur".

Baca Juga: KPK Duga Rumah Jampidsus Febrie di Sentul Pakai Nama Orang Lain

Lagu tersebut berpeluang menjadi bagian dari EP baru yang saat ini sedang dipersiapkan. Ia juga berharap skena musik Sumatera Barat terus berkembang dengan karya-karya yang lahir dari kejujuran para musisinya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Hallow #musisi asal Padang #Kegelisahan