DI tengah maraknya musisi cover yang mendominasi panggung kafe dan acara hiburan di Kota Padang, ada satu nama yang menonjol karena idealismenya dalam berkarya. Brian Rahmattio, solois muda asal Padang, memilih berjalan di jalur independen dengan keyakinan bahwa musik sejati lahir dari kejujuran dan pengalaman pribadi. Seperti apa ceritanya?
Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
“Awalnya, saya jatuh cinta sama musik pas kelas dua SMA,” kenang Brian membuka kisahnya kepada Padang Ekspres. Kala itu, ia sering menonton teman-teman sekolahnya tampil di acara band antar sekolah.
Namun benih kecintaannya terhadap musik tumbuh lebih dalam berkat pengaruh kakak kandungnya yang memiliki selera musik British pop. “Saya sering dengerin koleksi lagu di laptop abang, full lagu-lagu berbahasa Inggris. Dari situ saya mulai tertarik bikin lirik juga,” ujarnya.
Nama Brian Rahmattio ternyata bukan nama panggung, melainkan nama aslinya, lengkapnya, Brian Rahmattio Valentino. Ia memilih menggunakan nama aslinya karena dianggap paling mewakili identitas musiknya.
“Brian agak kebarat-baratan, sementara Rahmattio itu ada unsur Indonesia-nya. Cocok buat branding musikku,” kata musisi yang dikenal dengan gaya santai ini.
Dari Curhat jadi Karya
Brian mulai menapaki karier profesional di dunia musik pada 2021. Lagu pertamanya yang dirilis berjudul Bad Days, menjadi tonggak awal perjalanan bermusiknya. Uniknya, Brian tidak memulai musik dengan ambisi menjadi terkenal.
“Saya mulai bermusik karena gak punya tempat bercerita. Jadi, semua curhatan hidup, kegalauan, sampai pencarian jati diri saya tuangkan ke lirik,” ungkapnya.
Tak heran jika banyak pendengarnya merasa relate dengan lagu-lagunya. Lirik-lirik Brian lahir dari pengalaman nyata, bukan kisah orang lain. “Semua lagu yang saya buat based on my true story. Tidak ada cerita orang lain di dalamnya,” tegasnya.
Kini, Brian telah merilis dua album dengan total sekitar 22 lagu. Beberapa lagu yang mencuri perhatian publik di antaranya It’s Okay Nevermind, Time Heals You, West Sumatra, dan Mom, You Are My Home. Lagu-lagunya sebagian besar berbahasa Inggris.
Baca Juga: Pedagang Nasi Bungkus di Padang Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Cabai dan Beras
“Saya suka bahasa Inggris, dan menurut saya pribadi lagu-lagu cinta kalau pakai bahasa Indonesia sering kedengaran ”lebay,” Kalau pakai bahasa Inggris, feel-nya lebih universal. Sekalian orang atau pendengar bisa belajar bahasa Inggris lewat diksi-diksi sederhana di lagu-lagu saya,” ujarnya.
Musik Indie dengan Cita Internasional
Brian menyebut genre musiknya sebagai Indie Pop atau Alternative Pop. Ia banyak terinspirasi oleh musisi-musisi luar yang mungkin belum populer di telinga umum, seperti Inhaler, Patrick Watson, Dayglow, dan The Backseat Lovers.
“Saya memang suka eksplor sound yang beda. Dengerin musik anti mainstream bukan buat gaya-gayaan, tapi biar dapat inspirasi baru,” tuturnya.
Namun perjalanan bermusik di Sumatera Barat tak selalu mulus. Brian mengaku kerap menghadapi diskriminasi di awal kariernya. “Dulu saya sering diejek sok Inggris lu di Padang. Pernah juga dikucilkan karena dianggap aneh dan terlalu beda,” kisahnya.
“Tantangan terbesar itu memperkenalkan lagu ke orang-orang di luar Sumbar. Tapi setelah aktif bikin konten di TikTok dan Instagram, pendengar lagu saya makin banyak, bahkan sampai luar negeri,” ungkap Brian.
Alasan utama dirinya menulis semua lagu dengan berbahasa Inggris adalah karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional jadi ada kesempatan untuk bisa didengarkan di semua negara sangat terbuka lebar. “Jadi saya punya mimpin dan tujuan bisa tampil di panggung luar negeri seperti Coachella, dan lainnya,” ungkap Brian.
Manggung dari Padang hingga Jakarta
Meski berasal dari daerah, panggung yang telah disinggahi Brian cukup impresif. Ia pernah tampil di Mblocspace Jakarta, Evoria JKT, Swarnalandfest Padang, Patarafest Padang, Menfest Padang, hingga menjadi opening act Reality Club dan Baale.
Ia bahkan sempat tur ke beberapa kota di Jawa, seperti Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Namun bagi Brian, yang paling berkesan justru ketika tampil di acara kolektif tanpa bayaran. “Kalau konteksnya kolektif, aku fine aja. Karena semangatnya sama-sama berbagi musik,” ujarnya.
Menurut Brian, masih banyak hal yang harus dibenahi dalam ekosistem musik di Sumbar. “Jujur aja, gigs di sini belum berpihak pada musisi karya. Penyanyi cover sering dibayar lebih mahal dari musisi yang punya lagu sendiri. Padahal kalau iven besar yang disponsori brand-brand nasional, seharusnya musisi dengan karya dibayar lebih layak,” tegasnya.
Baca Juga: Tren Positif Investasi Padang, Fadly Amran Ajak Pengusaha Muda Majukan Ekonomi Daerah
Ia juga berharap istilah musisi lokal diubah menjadi musisi Padang. “Label lokal itu sering bikin orang meremehkan. Saya pernah manggung di iven besar, panitianya bilang Ah band lokalnyo banyak lo gaya. Itu bikin sedih,” katanya.
Media Sosial bisa jadi Senjata Tembus Pendengar Global
Di tengah perkembangan digitalisasi, tak terkecuali industri musik, Brian mengakui bahwa platform digital seperti Instagram dan TikTok memiliki peran besar dalam memperluas jangkauan karyanya ke berbagai daerah bahkan mancanegara.
“Media sosial sangat membantu, terutama Instagram dan TikTok. Dua platform itu jadi tempat paling tepat untuk promosi karena bisa menjangkau banyak pendengar baru dari berbagai negara,” ujar Brian.
Selain itu, Brian juga menilai bahwa rilisan fisik seperti kaset atau piringan hitam kini bersifat relatif. “Tergantung orangnya. Ada yang beli untuk koleksi, ada juga yang mencari pengalaman dan kualitas suara berbeda,” ujarnya.
Meski jumlah pendengarnya di Spotify termasuk tinggi di antara musisi Padang lain, Brian mengaku tidak terlalu fokus pada angka pemutaran.
“Saya gak peduli lagu mana yang paling tinggi stream-nya. Tujuan saya cuma satu, yaitu bikin puluhan album seumur hidup dan terus bermusik untuk melanjutkan hidup,” ungkapnya.
Sebagai musisi independen, Brian mengaku harus bekerja keras secara mandiri untuk membangun kariernya. “Saya bikin lagu sendiri, edit sendiri, desain sendiri, video klip sendiri, dan promo juga sendiri. Jadi, kalau musik ini bisa berkembang, semua hasil kerja keras tanpa tim besar seperti di label mayor,” tutupnya.
Antara Skena dan Harapan
Bicara soal skena musik di Padang, Brian menilai kondisinya masih terkotak-kotak. “Saya sering datang ke berbagai gigs, semua genre saya tonton. Tapi jujur aja, skena musik Padang belum kompak. Masih ada kelompok-kelompok kecil. Kurasi media nasional juga belum merata. Banyak musisi Padang yang karyanya sebenarnya layak tampil di media besar, tapi tidak dikasih kesempatan,” sebutnya.
Meski begitu, semangat Brian untuk berkarya tak pernah padam. Ia percaya kemajuan musik Sumbar membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari media, sponsor, hingga musisinya sendiri.
Baca Juga: Ketika Istri Memilih Pergi: Potret Sunyi di Balik Meningkatnya Angka Perceraian
“Kita butuh relasi, support, dan yang paling penting effort dari diri sendiri buat ngenalin karya lewat media sosial,” ujarnya.
Harapannya sederhana tapi kuat. “Semoga gak ada lagi pilih-pilih dalam kurasi musik di media nasional, gak ada lagi kubu-kubuan di skena, dan semoga bayaran musisi dibayar sesuai kapasitasnya. Musik Padang harus punya warna yang unik dan maju,” katanya.
Showcase Intim di Pustaka
Untuk waktu dekat, Brian tengah menyiapkan Intimate showcase album pertamanya yang akan digelar di Pustaka Steva, 30 Oktober 2025 pukul 20.00 WIB. Formatnya akustik dan hanya dihadiri 10 orang penonton terpilih.
“Showcase ini akan lebih personal. Saya mau nyanyi langsung di antara buku, di tempat yang tenang, biar pesan lagunya bisa lebih nyampe,” ungkapnya.
Ke depan, Brian juga berencana merilis album baru atau EP setiap tahun. “Aku punya goal buat bikin puluhan album seumur hidup. Aku akan terus bermusik, apapun keadaannya,” tutup Brian dengan senyum penuh keyakinan. (*)
Editor : Adetio Purtama