Tahun ini, IPC mengusung tema “Praktik Dramaturgi Postdramatic dalam Pertunjukan Kontemporer”, yang menekankan eksplorasi tubuh sebagai arsip hidup dalam penciptaan karya seni.
Kegiatan ini diselenggarakan secara kolektif oleh Indonesia Performance Syndicate (IPS) bersama Kalabuku, Komunitas Seni Nan Tumpah, Nusantara Art, Komunitas Seni Hitam Putih, Pustaka Steva, Teraseni, dan Fabriek Padang.
Fokus: Riset Tubuh, Kolaborasi, dan Regenerasi
Pimpinan IPS, Wendy HS, menjelaskan bahwa IPC 2025 berfokus pada tiga hal utama: memperdalam kapasitas teknis performer, membuka ruang kolaborasi lintas disiplin, serta memperkuat regenerasi seni pertunjukan di Sumatera Barat.
Menurutnya, IPC menjadi ruang bagi performer untuk membaca ulang tubuh mereka—sebagai tempat penyimpanan memori, pengalaman sosial, dan gagasan artistik—serta menjembatani tradisi lokal dengan praktik postdramatic yang eksperimental.
Workshop Dramaturgi Postdramatic
Program utama IPC 2025 adalah Workshop Dramaturgi Postdramatic, yang menghadirkan dua pengajar: Kai Tuchmann, dramaturg dan sutradara asal Jerman, serta Ibed S. Yuga, pendiri Kalanari Theatre Movement Yogyakarta.
Workshop ini dirancang sebagai ruang dialog lintas-komunitas, mempertemukan pelaku seni teater, tari, musik, dan seni visual.
Melalui enam sesi pelatihan, peserta diajak mengolah tubuh sebagai pusat penciptaan dan riset, memahami bagaimana tubuh merekam keseharian serta merespons ruang sosial dan budaya.
Kai Tuchmann dikenal lewat praktik teater dokumenter dan karyanya yang menyoroti isu sosial serta perkembangan teknologi digital dalam pertunjukan.
Sementara itu, Ibed S. Yuga dikenal sebagai penulis dan sutradara yang banyak mengeksplorasi kebudayaan Bali dan praktik teater reflektif di Indonesia.
Pertunjukan Apresiasi
Selain workshop, IPC juga menghadirkan pertunjukan apresiasi pada 9 dan 10 November di ruang Exhibition Fabriek Padang.
Pada 9 November pukul 20.00 WIB, Indonesia Performance Syndicate menampilkan karya “Soliloque Perburuan” garapan Wendy HS, yang menafsir ulang naskah legendaris Wisran Hadi dengan pendekatan tubuh dan pengalaman aktor.
Sedangkan pada 10 November, Komunitas Seni Hitam Putih akan mementaskan “Pintu” karya Yusril Katil dan T. Wijaya.
Pertunjukan ini merefleksikan perubahan kehidupan pascapandemi dan batas ruang antara koneksi digital dan keterasingan manusia modern.
Diskusi Seni Pertunjukan Kontemporer
Sebagai bagian penutup, IPC akan menggelar forum diskusi pada 11 November 2025 pukul 20.00 WIB di Pustaka Steva, Padang.
Diskusi ini menghadirkan Kai Tuchmann, Ibed S. Yuga, Wendy HS, Tatang R. Machan, dan Mahatma Muhammad, dengan Thendra BP sebagai moderator.
Forum ini membahas arah perkembangan seni pertunjukan kontemporer dan tantangan ekosistem seni di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.
Indonesia Performance Camp lahir pada 2019 melalui Padangpanjang Butoh Camp, hasil kolaborasi antara IPS dan Shinonome Butoh Tokyo.
Program ini menggabungkan teknik Butoh dengan Total Body Performance Method (TBPM) berbasis Tapuak Galemboang dan Silek Minangkabau.
Setelah sempat terhenti karena pandemi, IPC kembali pada 2024 menghadirkan seniman internasional Mutsumi-Neiro dan Wendy HS dengan dukungan berbagai komunitas seni di Sumatera Barat.
Kini, IPC 2025 menegaskan posisinya sebagai laboratorium ketubuhan dan ruang riset artistik lintas disiplin yang berakar pada lokalitas namun terbuka terhadap percakapan global.(*)
Editor : Hendra Efison