Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Inspirasi penamaan Pita Kaset datang dari pengalaman kolektif para personelnya yang akrab dengan dunia kaset sejak kecil.
Mereka tumbuh dengan kebiasaan mengulik lagu dari radio, merekam suara sendiri, dan menggenggam koleksi kaset band-band favorit yang menjadi harta tersendiri pada zamannya. Memori itu kemudian menjelma menjadi identitas, sesuatu yang mereka bawa hingga kini.
Saat ini Pita Kaset digawangi lima personel, yaitu Eldy pada vokal, Mbut pada keyboard, Mudin pada gitar, Fikri pada bass, serta Niko pada drum.
Kepada Padang Ekspres, gitaris Pita Kaset, Mudin menceritakan, formasi ini terbangun dari pertemuan yang tidak serentak, tetapi bertemu secara alamiah di ruang-ruang yang menjadi rumah bagi musisi muda. Ada yang bertemu di studio musik, ada pula yang berjumpa semasa kuliah.
Kesamaan latar belakang itu kemudian memunculkan gagasan untuk berkarya bersama. Mereka sepakat membentuk band bukan hanya karena kesukaan pada musik, tetapi karena dorongan kuat untuk menghasilkan karya yang bisa mereka tinggalkan pada pendengar.
Ia menambahkan, dalam perjalanan kreatifnya, Pita Kaset memilih berlabuh pada genre alternative-gaze. Pilihan itu bukan karena mengikuti tren, tetapi karena sesuai dengan suasana hati serta warna ekspresi mereka saat ini.
Musik bagi mereka adalah cerminan mood, dan mood itu berlabuh pada nuansa alternative yang penuh atmosfer.
Deretan musisi yang mempengaruhi Pita Kaset juga cukup luas dan beragam. Mereka banyak menyerap energi dari Title Fight, The Temper Trap, Mew, Radiohead, Deftones, Nirvana, hingga Bring Me The Horizon.
Pengaruh itu tidak menjadikan mereka imitasi, melainkan acuan untuk menemukan warna khas mereka sendiri.
Proses penciptaan lagu di Pita Kaset sebut Mudin, selalu berangkat dari pandangan mereka terhadap kehidupan. Lagu-lagunya menjadi ruang cerita, dari persoalan sehari-hari, keresahan atas kondisi alam, hingga empati terhadap tragedi kemanusiaan.
Dalam lagu berjudul Berita, misalnya, mereka menuangkan kesedihan mendalam atas konflik yang terjadi di Palestina. Sementara Emosi menjadi refleksi gelisah terhadap kerusakan alam.
Sejak berdiri pada 2011, band ini telah menciptakan sekitar 20 lagu. Single pertama mereka, Ilusi, dilepas pada tahun pertama mereka berdiri.
Tiga tahun kemudian mereka menggarap mini album Di Atas Bumi Di Bawah Langit pada 2014. Perjalanan itu berlanjut menuju rilisan terbaru, EP bertajuk Berita-Berita, yang dirilis pada 2025.
Perjalanan panjang itu tentu tidak selalu mulus. Mereka menghadapi berbagai tantangan, namun hal yang paling berat adalah menjaga konsistensi. Dunia musik bergerak cepat; selera berubah, platform bermunculan, dan tren datang silih berganti. Tetap berkarya di tengah perubahan itu membutuhkan keteguhan hati.
Meski begitu, perkembangan dunia digital membuka angin segar. Platform musik kini menjadi ruang yang memperluas jangkauan karya.
Bagi Pita Kaset, digitalisasi adalah kesempatan untuk menyebarkan musik mereka lebih jauh, melewati batas-batas yang dulu terasa sulit ditembus.
Walau aktif di ranah digital, mereka tetap memandang rilisan fisik sebagai hal yang berharga. Kaset dan piringan hitam menurut mereka memiliki nilai emosional.
Ada kepuasan tersendiri ketika karya diwujudkan dalam bentuk fisik yang bisa dipegang, disimpan, dan dikoleksi oleh pendengar.
Dalam rencana ke depan, Pita Kaset tidak ingin berhenti. Mereka ingin terus menulis, memperbanyak lagu, dan memperluas karya. Tujuan mereka sederhana, berkarya sebanyak-banyaknya dan menghadirkan musik yang bisa menjadi memori baru bagi pendengarnya, sebagaimana kaset pita dulu menciptakan memori bagi mereka.
Perjalanan panjang sejak 2011 membawa Pita Kaset kepada bentuk mereka saat ini. Dengan segala pengalaman, keresahan, dan inspirasi yang dikumpulkan, mereka terus melangkah sembari menjaga esensi yang sejak awal menghidupkan band ini.
Di tengah dunia musik yang terus berubah, Pita Kaset tetap teguh pada jalurnya. Mereka tetap memegang teguh nilai awal: berkarya dari hati, menyampaikan keresahan, dan menyalurkan energi melalui musik yang mereka cintai.
Dan seperti kaset pita yang tidak pernah benar-benar mati, semangat mereka pun tetap hidup, berputar, dan terus meninggalkan jejak. (*)
Editor : Adetio Purtama