Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sun Flower: Menanam Harapan di Pop Alternatif, Siap Rilis Mini Album

Adetio Purtama • Sabtu, 20 Desember 2025 | 10:41 WIB

Para personel band alternatif pop, Sun Flower.
Para personel band alternatif pop, Sun Flower.
Di tengah geliat musik independen Sumatera Barat yang kian semarak, sebuah nama baru perlahan tumbuh dan mulai menarik perhatian: Sun Flower. Band pop alternatif ini terbentuk pada 2024, lahir dari pertemuan yang tak direncanakan, namun terasa begitu alamiah di lingkungan komunitas musik lokal.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—

Awalnya, Zaki (bass), Afid (drum), dan Randi (gitar) terlibat sebagai panitia dalam sebuah festival band komunitas. Festival itu menjadi ruang temu bagi banyak musisi muda, sekaligus membuka jalan perkenalan dengan seorang vokalis bernama Olan, yang saat itu tampil sebagai peserta.

Karakter vokal Olan yang khas langsung mencuri perhatian. Dari sanalah ide untuk membentuk sebuah proyek band baru mulai mengemuka.

“Waktu itu kami merasa, suara Olan punya warna yang pas dengan musik yang ingin kami mainkan. Dari sekadar obrolan ringan, akhirnya kami sepakat untuk membuat project bareng,” ujar Bassist Sun Flower, Muzakki kepada Padang Ekspres, sembari mengenang awal mula band ini berdiri.

Ia menngungkapkan, nama Sun Flower sendiri lahir dari candaan yang kemudian bermakna filosofis. Olan dikenal sangat menyukai kuaci—biji bunga matahari—yang akhirnya menginspirasi penamaan band.

Namun lebih dari sekadar lelucon, bunga matahari dipilih karena filosofinya: tidak harus menjadi yang paling spesial, tetapi disukai banyak orang. Sebuah refleksi sederhana dari visi bermusik Sun Flower—jujur, hangat, dan dekat dengan pendengar.

Sejak awal, formasi Sun Flower diisi oleh Olan (vokal), Zaki (bass), Afid (drum), dan Randi (gitar). Di tengah proses pengerjaan single perdana, Sun Flower kemudian diperkuat oleh Niko sebagai pemain keyboard.

“Kehadiran Niko memberi dimensi baru pada aransemen musik mereka, sekaligus memperkaya eksplorasi bunyi yang menjadi ciri khas Sun Flower,” ujar pria yang akrab disapa Zaki itu.

Sun Flower memilih pop alternatif sebagai rumah bermusiknya. Genre ini dianggap memberi ruang kebebasan dalam bereksplorasi, tanpa harus kehilangan aksesibilitas bagi pendengar lintas kalangan.

Bagi Sun Flower, pop alternatif adalah jalan tengah: tetap bisa dinikmati banyak orang, namun tidak terjebak dalam pakem yang kaku.

Para personel Sun Flower berfoto bersama para penonton usai penampilan.
Para personel Sun Flower berfoto bersama para penonton usai penampilan.

Dalam berkarya, Sun Flower tak menampik pengaruh kuat dari band-band seperti Paramore dan Owl City. Warna pop yang emosional, sentuhan elektronik, serta lirik yang dekat dengan perasaan anak muda terasa mengalir dalam karya-karya mereka.

Meski begitu, Sun Flower berupaya menjadikan pengaruh tersebut sebagai pijakan awal, bukan sekadar tiruan.

Untuk urusan penulisan lagu, Sun Flower memiliki dua penulis utama. Zaki kerap menulis lirik berdasarkan fenomena yang dekat dengan kehidupan anak muda masa kini—relasi, teknologi, hingga dinamika sosial.

Sementara Niko lebih banyak menggali inspirasi dari pengalaman pribadinya, menjadikan lagu-lagu Sun Flower terasa personal sekaligus relevan.

Single perdana mereka berjudul “Notifikasi” telah resmi dirilis dan menjadi penanda langkah awal Sun Flower di industri musik digital. Lagu ini merefleksikan kegelisahan generasi muda yang hidup di tengah banjir informasi dan notifikasi tanpa henti—tema yang sederhana, namun lekat dengan keseharian.

Di balik proses kreatif tersebut, tantangan terbesar Sun Flower justru datang dari dalam: menyatukan ego masing-masing personel. Sebagai band yang baru terbentuk, perbedaan sudut pandang dalam bermusik menjadi dinamika yang tak terhindarkan. Namun bagi Sun Flower, proses itu adalah bagian penting dari pertumbuhan.

Sejauh ini, Sun Flower telah tampil di berbagai panggung musik di Sumatera Barat dan satu kali di Riau. Penampilan di Riau menjadi pengalaman paling berkesan bagi mereka. Song list harus dirombak total hanya sehari sebelum tampil, bahkan saat mereka masih dalam perjalanan menuju Pekanbaru. Tanpa latihan, minim istirahat, dan semalaman menyusun sequencer baru, Sun Flower tetap naik panggung dan tampil maksimal.

Pengalaman tersebut justru menguatkan mental dan kekompakan mereka sebagai band. Tak lama berselang, Sun Flower terpilih mendapatkan reward Cross City setelah tampil di iven Swaraskena, sebuah pencapaian yang memberi semangat baru untuk melangkah lebih jauh.

Di era digital, Sun Flower memanfaatkan platform streaming sebagai medium utama distribusi karya. Mereka menilai platform digital sangat membantu musisi untuk berkarya dari mana saja, tanpa harus bergantung pada rilisan fisik yang kini dianggap sudah tidak lagi efektif.

Menurut Sun Flower, ekosistem gigs musik di Sumatera Barat saat ini juga berkembang ke arah yang positif dan semakin berpihak kepada musisi. Beragam genre memiliki pasarnya masing-masing, membuka ruang inklusif bagi band-band baru untuk tumbuh.

Aksi panggung Sun Flower di salah satu iven beberapa waktu lalu.
Aksi panggung Sun Flower di salah satu iven beberapa waktu lalu.

Meski begitu, Sun Flower menilai kehadiran manajemen yang kompeten masih menjadi kebutuhan besar bagi musisi daerah. Mereka berharap ke depan ada manajemen yang handal dan profesional untuk mendampingi musisi Sumatera Barat agar bisa melangkah ke level yang lebih luas.

Ke depan, Sun Flower telah menyiapkan rencana besar. Mereka menargetkan perilisan mini album yang dijadwalkan setelah Lebaran 2026. Sebuah langkah lanjutan yang diharapkan mampu memperkenalkan Sun Flower lebih jauh, tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi juga ke panggung musik nasional. (*)

Editor : Adetio Purtama
#musisi #Rilis #sumbar #Sun Flower #band #padang #mini album #pop alternatif