Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

ROOTZ: Lahir dari Proyek Iseng, Siap Rilis Album Penuh

Adetio Purtama • Sabtu, 31 Januari 2026 | 10:15 WIB

Para personel band post-garage punk asal Padang, ROOTZ (ki-ka) Tures (gitaris), Rayya (drum), Ara (vokalis), dan Uul (bass).
Para personel band post-garage punk asal Padang, ROOTZ (ki-ka) Tures (gitaris), Rayya (drum), Ara (vokalis), dan Uul (bass).
Skena musik independen Kota Padang kembali melahirkan nama baru yang mencuri perhatian. ROOTZ, band beraliran post-garage punk, muncul sebagai proyek yang lahir dari spontanitas namun berkembang dengan visi yang matang.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—

Dibentuk pada pertengahan 2024, ROOTZ beranggotakan Tures (Restu Dimas Pratama) pada gitar, Rayya di drum, Ara sebagai vokalis, serta Uul di posisi bass. Tak berselang lama, Yogo kemudian ikut bergabung memperkuat formasi.

Awal mula terbentuknya ROOTZ berangkat dari keisengan Tures yang ingin membuat proyek garage punk dengan karakter vokal perempuan yang kuat dan khas. Ide tersebut kemudian ia sampaikan kepada Ara, yang saat itu kebetulan tengah memiliki waktu luang. Dari pertemuan sederhana itulah cikal bakal ROOTZ mulai terbentuk.

Merasa format gitar dan vokal belum cukup, Tures lalu mengajak Rayya, yang juga merupakan rekan satu proyek di band shoegaze, Distance. Untuk melengkapi formasi, Uul direkrut mengisi posisi bass. Empat personel ini kemudian sepakat berjalan bersama dan membentuk ROOTZ sebagai band dengan identitas kolektif.

Nama ROOTZ sendiri lahir dari permainan kata. Terinspirasi dari kata roots yang berarti akar, nama tersebut merupakan hasil plesetan spontan yang kerap dilakukan para personelnya dalam keseharian. Tanpa perencanaan matang, nama itu justru dirasa mewakili semangat dasar band: kembali ke akar, jujur, dan tanpa pretensi berlebihan.

Dalam urusan musikal, ROOTZ mempercayakan proses mixing maxi-single mereka kepada Abuy, yang menggarap rilisan bertajuk Bonnie. Meski demikian, Tures tetap mengirimkan sejumlah referensi sound yang menjadi acuan, mulai dari Lips, Short Days, Bikini Kill, Red Aunts, hingga Hong!. Dari perpaduan pengaruh tersebut, ROOTZ menyebut karakter musik mereka sebagai post-garage punk.

Identitas sound ROOTZ dibangun dari kombinasi ide seluruh personel. Mereka sepakat menghadirkan musik dengan tempo cepat, pelafalan vokal yang jelas, serta warna suara yang khas. Pengaruh musikal tiap personel pun beragam, mulai dari Creem, Skeggs, hingga The Cure, yang secara tidak langsung membentuk dinamika bunyi ROOTZ.

Pada 2025, ROOTZ resmi merilis maxi-single bertajuk Bonnie yang memuat tiga lagu, yakni Nigeyou!, Sekedar Mengingatkan, dan Basa-basi Busuk. Lagu-lagu tersebut menjadi pintu masuk ROOTZ ke ranah rekaman dan memperkenalkan karakter mereka ke publik yang lebih luas.

Menurut ROOTZ, materi lagu-lagu mereka lahir dari pengamatan terhadap kehidupan sosial di sekitar. Tures, sebagai penulis lagu, banyak menuangkan pandangannya tentang bagaimana interaksi sosial terjadi, serta pentingnya saling menghormati hak-hak yang seharusnya dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam perjalanan bermusik, ROOTZ mengakui tantangan terbesar adalah ketika mereka harus menghadapi arus yang berpotensi menenggelamkan band, padahal arus tersebut sejatinya masih bisa dilewati. Namun bagi mereka, konsistensi dan keyakinan pada identitas musik menjadi kunci untuk tetap bertahan.

ROOTZ juga aktif tampil di berbagai gigs dan showcase lokal, seperti Record Store Day Padang 2025, Ground Zero, hingga Padang Skateland. Salah satu momen paling berkesan bagi mereka adalah saat tampil di Record Store Day, di mana kelelahan seolah terbayar lunas karena penampilan mereka mendapat perhatian langsung dari Jimi Multhazam (Morfem, The Upstairs).

Dalam pandangan ROOTZ, promosi menjadi aspek krusial bagi band-band lokal. Mereka menilai pengiriman rilis pers dan membagikan karya kepada jejaring pertemanan merupakan langkah penting, karena relasi dan koneksi sangat menentukan keberlanjutan band independen.

Soal keberlangsungan band indie di era sekarang, ROOTZ menilai perjuangan tersebut masih layak dijalani. Menurut mereka, masih banyak pendengar yang mau memberikan dukungan terhadap band-band lokal, termasuk ROOTZ sendiri.

Menanggapi ekosistem musik di Sumatera Barat, ROOTZ memandang kondisinya cukup sehat selama tidak diwarnai praktik nepotisme. Bagi mereka, nge-band bukan soal menjadi selebriti, melainkan medium untuk menyalurkan ekspresi yang selama ini terpendam.

Penampilan ROOTZ di salah satu iven beberapa waktu lalu.
Penampilan ROOTZ di salah satu iven beberapa waktu lalu.

Skena musik Padang sendiri dinilai cukup aktif dengan hadirnya berbagai kolektif dan event organizer seperti Swara Skena, Invasion Crew, Mamamia Chaotic Club, hingga Wave Attack, yang menjadi ruang tumbuh bagi band-band lokal.

Ke depan, ROOTZ berharap para pelaku musik Sumbar dapat menembus panggung internasional dan semakin diperhitungkan oleh masyarakat luas.

Sejalan dengan harapan tersebut, ROOTZ tengah menyiapkan rilisan album penuh yang direncanakan berisi sekitar 10 hingga 11 lagu, dengan warna musik yang lebih beragam dan energi yang lebih eksplosif dibandingkan rilisan sebelumnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#band post garage punk #Rilis #ROOTZ #band asal padang #album penuh