Pidato berdurasi sekitar 20 menit itu menegaskan posisi Indonesia mendukung Palestina dan mengecam genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Gaya penyampaian, aksentuasi diksi, dan gestur Presiden Prabowo mendapat apresiasi luas dari kalangan diplomatik.
Dino Patti Djalal, mantan Dubes RI untuk AS, menilai pidato Presiden Prabowo menunjukkan kembalinya Indonesia dalam diplomasi multilateral.
“Pesan penting dari pidato Presiden Prabowo adalah Indonesia is back in multilateral diplomacy. Selama 11 tahun terakhir, sejak Presiden Joko Widodo tidak hadir secara fisik di Sidang Majelis Umum PBB, ada persepsi bahwa Indonesia menjauh dari diplomasi multilateral. Pidato hari ini menghapus persepsi itu,” ujar Dino melalui akun Instagram pribadinya @dinopattidjalal, Rabu (24/9/2025).
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu menambahkan, pidato Presiden Prabowo akan menjadi referensi penting bagi mahasiswa hubungan internasional dan akademisi di Indonesia. “Ini adalah a speech to remember. Pidato yang akan diingat dan dipelajari mahasiswa dan dunia akademisi Indonesia,” tuturnya.
Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin juga memuji pidato Presiden Prabowo. Ia menilai Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan aktif dalam diplomasi global yang mengedepankan perdamaian.
“Aktif dalam upaya perdamaian dunia adalah perintah konstitusi Republik Indonesia. Kita patut bangga Presiden Prabowo berhasil mempertahankan prinsip diplomasi Indonesia yang menyerukan perdamaian dunia, dengan sikap saling mengakui eksistensi dan kedaulatan setiap bangsa,” kata Sultan di Jakarta, Kamis (25/9/2025).
Menurut Sultan, sikap Presiden Prabowo menunjukkan keseimbangan diplomasi Indonesia, menolak penjajahan, dan mengedepankan keadilan serta perdamaian global.
Pidato tersebut juga menghidupkan kembali politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, sesuai warisan para pendiri bangsa.(*)
Editor : Heri Sugiarto