PADEk.JAWAPOS.COM-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berakhir kemarin (22/10) memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 4,75 persen.
Langka itu sembari mencermati transmisi kebijakan suku bunga ke sektor keuangan. Meskipun demikian, ruang penurunan suku bunga acuan itu masih terbuka.
“Dewan Gubernur BI memandang bahwa ruang penurunan suku bunga (BI rate) ke depan itu masih terbuka,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta kemarin (22/10).
Dasar pertimbangannya, inflasi tahun ini dan inflasi tahun depan masih rendah. Terutama, inflasi inti yang terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen. BI bersama pemerintah bakal mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
Perry memandang pertumbuhan ekonomi yang saat ini maupun tahun depan masih di bawah kapasitas output nasional, sehingga mendorong permintaan domestik mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu tentu saja sejalan. Namun, tanpa menimbulkan risiko-risiko kenaikan inflasi, khususnya inflasi inti.
“Oleh karena itu, kenapa bersama Pak Menteri Keuangan yang terus berupaya menambah ekspansi fiskal pengeluaran pemerintah untuk mendorong sektor-sektor riil,” ujar alumnus Iowa State University itu.
Bank sentral bersama pemerintah juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi likuiditas dan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).
Oleh karena itu, sinergi kebijakan fiskal dan moneter sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.
“Sehingga menjadi landasan utama kami masih memandang ruang penurunan suku bunga itu masih terbuka,” imbuhnya.
Perry menjelaskan, BI sudah menurunkan enam kali BI rate. Fokus saat ini memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter yang sudah ditempuh.
Masalahnya adalah suku bunga dana pihak ketiga (DPK) dan suku bunga kredit yang turunnya masih berjalan lambat. “Itu yang kami terus untuk dorong agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan, pihaknya sudah menurunkan BI rate 150 basis point (bps) sejak September 2024. Transmisi suku bunga kebijakan ke pasar uang berjalan baik.
Suku bunga INDONIA turun 204 bps dari 6,03 persen di awal 2025 menjadi 3,99 persen pada 21 Oktober 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 251 bps, 254 bps, dan 257 bps sejak awal 2025.
Hanya saja, penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat dan karenanya perlu dipercepat. Suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 29 bps dari 4,81 persen menjadi 4,52 persen pada September 2025.
Penurunan suku bunga kredit perbankan bahkan berjalan lebih lambat. Yaitu 15 bps dari 9,20 persen di awal tahun ini menjadi 9,05 persen di September 2025. “Jadi inilah yang ingin dilakukan oleh Bank Indonesia,” pungkasnya. (han/dio/jpg)
Editor : Novitri Selvia