Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Analis Global Peringatkan Dampak Satgas Penyitaan Lahan Sawit terhadap Produksi Indonesia dan Harga Dunia

Hendra Efison • Sabtu, 15 November 2025 | 18:47 WIB

Thomas Mielke, Direktur Eksekutif Oil World, menilai satgas penyitaan lahan sawit berisiko menekan produksi Indonesia dan memicu lonjakan harga minyak nabati global. (Mifta/Radar Bali)
Thomas Mielke, Direktur Eksekutif Oil World, menilai satgas penyitaan lahan sawit berisiko menekan produksi Indonesia dan memicu lonjakan harga minyak nabati global. (Mifta/Radar Bali)
PADEK.JAWAPOS.COM—Dua analis minyak nabati dunia, Dorab Mistry dan Thomas Mielke, mengingatkan dampak kebijakan pembentukan satuan tugas (satgas) pemerintah yang menyita dan mengambil alih hak kelola lahan perkebunan sawit.

Dalam konferensi pers usai paparan di ajang IPOC 2025, keduanya menilai langkah tersebut berpotensi menekan proyeksi produksi sawit Indonesia dalam beberapa tahun ke depan dan mengguncang pasar global.

Baik Mistry maupun Mielke sepakat bahwa tanpa kebijakan yang mendukung peningkatan produksi, Indonesia berisiko menghadapi stagnasi output dalam jangka pendek serta tekanan harga tinggi di pasar internasional. Kondisi tersebut dapat mempersempit daya saing ekspor dan menekan industri hilir domestik.

Proyeksi Produksi Stagnan

Dorab Mistry, Direktur Godrej International Ltd, menyatakan bahwa pertumbuhan produksi sawit Indonesia diperkirakan stagnan pada 2026.

“Dengan kondisi saat ini, produksi Indonesia tahun depan paling bagus hanya datar atau sedikit meningkat. Dalam dua tahun mendatang, produksi tidak akan bertambah lebih dari 1 hingga 1,5 juta ton,” ujarnya di BICC The Westin, Nusa Dua, Jumat (14/11/2025).

Menurut Mistry, ketiadaan izin baru untuk perkebunan—baik plasma maupun swasta—membuat peningkatan produksi sulit tercapai. Jika izin tanam baru diterbitkan segera, tambahan produksi baru akan terasa dalam 3–4 tahun mendatang.

Ia juga menyoroti pesatnya ekspansi industri hilir, terutama oleokimia, yang akan menyerap lebih banyak CPO di dalam negeri.

Kondisi ini memperkecil pasokan ekspor, termasuk ke India sebagai pembeli terbesar. Jika pasokan ke India tidak mencukupi, harga diperkirakan naik.

“Proyeksi kami bullish, tetapi bullish tidak selalu baik karena konsumen yang akan menanggung dampaknya,” kata Mistry. Ia menekankan perlunya tindakan cepat pemerintah dengan menerbitkan izin tanam baru demi mencegah masalah jangka panjang.

Prediksi Penurunan Produksi 2026–2027

Thomas Mielke, Direktur Eksekutif Oil World, menyampaikan prediksi yang lebih tegas. “Kami memperkirakan produksi Indonesia akan turun pada 2026 dan turun lebih jauh pada 2027,” ujarnya.

Ia menyebut ketidakpastian terkait luas lahan yang diambil alih satgas. Jika mencapai 3 juta hektare atau lebih, dampaknya dinilai sangat serius karena mengganggu struktur suplai global.

Mielke mengingatkan bahwa Indonesia tidak dapat mengendalikan harga dunia. Harga global minyak nabati pada 2026–2027 akan turut menentukan harga domestik, sehingga implikasi kenaikan tidak dapat sepenuhnya ditahan.

Ia juga menegaskan bahwa Malaysia tidak dapat menutup kekurangan ekspor Indonesia akibat keterbatasan lahan matang, lambatnya replanting, dan penurunan produktivitas.

“Jika pasokan Indonesia turun, harga naik. Ketika harga naik, negara lain akan menambah produksi minyak nabati lain dan konsumen beralih dari sawit karena sensitif harga,” katanya.

Perlu Tata Kelola Profesional dan Izin Tanam Berkelanjutan

Mielke menilai keputusan pemerintah membuka peluang 600.000 hektare tanam baru merupakan langkah tepat selama dilakukan secara berkelanjutan. Namun hasilnya baru akan terlihat pada 2028–2030.

Ia menekankan pentingnya tata kelola perkebunan oleh tenaga profesional.
“Jika manajemen kebun diambil alih dari para profesional, hasilnya menurun. Pengelolaan oleh orang yang tidak berpengalaman tidak akan efektif,” ujarnya.

Peringatan kedua analis ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk memastikan kebijakan produksi sawit tetap stabil agar Indonesia dapat mempertahankan posisinya sebagai produsen utama dan menjaga keseimbangan pasar global.(*)

Editor : Hendra Efison
#harga minyak nabati #Thomas Mielke #Dorab Mistry #produksi sawit Indonesia