Di balik kepulan itu, tampak seorang lelaki paruh baya dengan gerak teratur, seolah setiap tusuk sate yang ia balik memiliki ritmenya sendiri.
Dialah Oyon, 55 tahun, pedagang sate yang sudah tiga dekade menambatkan hidupnya pada sebuah gerobak sederhana.
Di lokasi yang sama selama 30 tahun, Oyon berdiri menghadapi waktu. Pelanggan setianya menyapa tanpa perlu bertanya lagi siapa pemilik gerobak itu.
“Dari dulu sampai sekarang di sini saja, Pak?” tanya seorang pembeli muda. Oyon tersenyum sambil mengipas bara. “Iya, di sini tempat saya sejak masih bujang,” ujarnya lembut.
Ia memulai perjalanan sebagai penjual sate ketika usianya belum genap dua puluhan.
Pilihannya untuk tidak berkeliling membuat gerobak itu menjadi penanda bagi banyak orang—sebuah titik kecil namun kokoh di tengah perubahan zaman.
Dari deru kendaraan yang semakin memadati Jalan Moh. Hatta hingga wajah-wajah pelanggan yang berganti generasi, Oyon terus bertahan dengan semangat yang sama.
Di balik aromanya yang menggugah selera, gerobak sate itu menyimpan kisah lebih besar daripada sekadar sumber rezeki.
Dari sinilah ia membiayai pendidikan kedua anaknya, sedikit demi sedikit dari setiap tusuk sate yang laku.
“Alhamdulillah, dua-duanya tamat kuliah,” katanya dengan nada bangga, matanya menerawang seakan memutar kembali perjalanan panjang yang telah dilewati.
Tentu, jalan itu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami hari-hari sepi pembeli, pernah pula dihimpit naik turunnya harga bahan baku.
Namun Oyon menghadapinya dengan keteguhan yang sama—kipas di tangan, bara yang menyala, dan keyakinan yang tak pernah benar-benar padam.
“Sesulit-sulit apa pun, rasa senang akan datang juga. Yang penting kita sabar dan terus berusaha,” ucapnya pada Jumat (14/11), sambil tetap melayani pembeli yang mulai mengantre di depan gerobaknya.
Kata-kata itu meluncur tenang, seolah menjadi filosofi hidup yang menuntunnya melewati tahun-tahun penuh jatuh bangun.
Kini, ketika dua anaknya telah menamatkan pendidikan tinggi, gerobak sate itu bukan sekadar tempat berdagang.
Ia adalah saksi bisu dari harapan yang dibangun perlahan, dari perjuangan tanpa banyak keluh, dan dari keyakinan bahwa kerja keras—meski terlihat kecil di mata banyak orang—mampu menyalakan masa depan.
Di tengah riuhnya Jalan Moh. Hatta, kisah Oyon mengalir pelan namun kuat: sebuah pengingat bahwa ketabahan seorang ayah kadang tumbuh dari tempat yang paling sederhana—dari balik kepulan asap sate yang setiap hari ia jaga dengan tangannya sendiri.(CR2)
Editor : Hendra Efison