Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kasus Perundungan Meningkat: Siswa SMP di Tangsel Meninggal, Insiden Serupa Terjadi di Probolinggo

Novitri Selvia • Senin, 17 November 2025 | 13:06 WIB
Ilustrasi bullying.
Ilustrasi bullying.

PADEK.JAWAPOS.COM-SELAIN penculikan, perundungan anak juga terus memicu kekhawatiran. Belum sepenuhnya mereda keterkejutan akibat peledakan di SMAN 72 Jakarta yang dilakukan siswa yang diduga kerap menjadi korban bullying, pelajar lain di Tangerang Selatan juga meninggal akibat perundungan.

Kemarin (16/11) pagi pukul 06.00, setelah dirawat selama sekitar sepekan di Rumah Sakit (RS) Fatmawati, Jakarta, Muhammad Hisyam, siswa SMPN 19 Tangerang Selatan, meninggal dunia. Kabar duka ini dibenarkan oleh kuasa hukum keluarga Alvian Adji Nugroho.

“Pada pukul enam pagi, keluarga yang ada di rumah mendapat kabar dari paman korban yang di rumah sakit,” ujar Alvian kepada wartawan, seperti dikutip dari JawaPos.com (grup Padang Ekspres).

Hisyam yang berdomisili di Kampung Maruga, Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, menjadi korban perundungan teman kelasnya.

Kepala bocah 13 tahun tersebut diduga dipukul menggunakan kursi besi oleh terduga pelaku berinisial RI di ruang sekolah saat hendak jam istirahat pada 20 Oktober lalu.

Setelah kejadian tersebut, menurut pengakuan keluarga, korban sering mengeluhkan sakit. Dia juga mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti rabun hingga gangguan saraf dan bahkan sempat koma. Korban pernah mengaku sudah sering dirundung, dari dipukul hingga ditendang.

Dalam Penyelidikan

Polres Tangsel masih menelusuri kasus perundungan terhadap Hisyam. Sedikitnya enam saksi telah diperiksa untuk membuat kasus ini terang benderang.

“Petugas Satreskrim Polres Tangsel berinisiatif membuat laporan informasi dalam rangka proses penyelidikan, kemudian penyidik sudah meminta keterangan klarifikasi dari beberapa saksi, ada enam termasuk guru pengajar,” kata Kasihumas Polres Tangsel AKP Agil kepada JawaPos.com kemarin.

Pihaknya, lanjut Agil, sebenarnya juga telah beberapa kali mengupayakan pertemuan untuk menemui korban saat dilakukan perawatan.

“Penyidik Satreskrim Polres Tangerang Selatan sudah melakukan upaya beberapa kali menemui siswa yang bersangkutan, didampingi keluarga bersama dengan KPAI dan Dinas Pendidikan, serta UPTD PPA Kota Tangsel,” katanya.

Juga Terjadi di Probolinggo

Perundungan juga terjadi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Mengutip Radar Bromo Grup Jawa Pos, kemarin (16/11), korban, D, masih duduk di SD di kawasan Kecamatan Gading dan perundungan terjadi di SD tersebut.

Pelaku berjumlah lebih dari satu. Mereka juga masih di bawah umur. Aksi perundungan itu terjadi pada Rabu (12/11) lalu. Bermula pada Senin (10/11), saat D ditarik rambutnya oleh seorang siswi, A, di ruang kelas.

Mendapatkan aksi tersebut, korban kemudian memaki A. Mengetahui A dimaki, E, 12, yang merupakan teman dekat A, tidak terima. Akhirnya, E melakukan pemukulan pada D.

“Pelaku E melakukan pemukulan pada wajah korban,” kata Kapolsek Gading AKP Maskur Ansori kemarin.

Rasa kesal E pada D belum berakhir. Dua hari kemudian, setelah bermain voli di halaman sekolah, korban kembali mengalami perundungan. Korban dipukul.

Pemukulan tersebut dilakukan oleh B pada bagian perut, kemudian dilanjutkan pemukulan oleh E. Aksi perundungan itu direkam oleh salah satu anak yang berada di lokasi kejadian.

Rekaman video berdurasi satu menit 47 detik tersebut lalu menyebar cepat di WhatsApp dan Facebook. Sontak, aksi ini pun menyita perhatian publik.

“Pelaku bullying dan perundungan ialah E, siswa SD yang sama dengan korban. Dalam video tersebut juga terdapat siswa SMP, yaitu AD, 13; AN, 13; B, 13; U, 12; N, 13; dan R, 13. Seluruhnya merupakan anak-anak dari satu desa yang sama,” terangnya.

Polsek Gading sudah memanggil semua pihak. Mulai dari siswa yang terlibat dalam video, orang tua, dan guru. Karena peristiwa ini menimpa anak-anak, baik korban maupun pelaku, penanganan perkara dilakukan secara hati-hati dan humanis.

“Perkara ini lalu dimediasi, akhirnya semua pihak sepakat untuk saling memaafkan dan para pelaku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” terangnya. (jpc/ar/mie/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#SMAN 72 Jakarta #bullying anak sekolah #perundungan anak #SMPN 19 Tangerang Selatan