Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden RI Prabowo Subianto meninjau lokasi pembangunan Huntara di Kabupaten Aceh Tamiang pada Kamis (1/1/2026). Program ini bertujuan memastikan pemulihan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat terdampak.
Dr. Iswadi, M.Pd., akademisi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, para pemangku kepentingan, serta pihak yang berkontribusi dalam pembangunan Huntara.
Menurutnya, langkah ini mencerminkan kepedulian, tanggung jawab kemanusiaan, dan komitmen bersama untuk menghadirkan hunian aman dan layak bagi para penyintas.
Selain itu, Iswadi menilai Huntara tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung. Hunian sementara, menurutnya, menjadi ruang awal bagi pemulihan fisik, sosial, dan psikologis masyarakat terdampak.
“Saya berharap pembangunan ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, serta diiringi dengan perencanaan yang matang menuju hunian tetap,” ujarnya.
Iswadi juga menyarankan agar pembangunan Huntara mengacu pada standar pascabencana tsunami Aceh. Standar tersebut dinilai telah memperhatikan aspek keamanan, kelayakan huni, kesehatan lingkungan, serta kebutuhan sosial masyarakat.
“Dengan menerapkan standar yang telah teruji, diharapkan hunian sementara tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal darurat, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan yang lebih baik dan bermartabat,” tambahnya.
Pandangan Akademisi Lain dan Harapan kepada Pemerintah
Di sisi lain, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur sekaligus Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPFTIM), Umaimah Wahid, menilai hunian merupakan kebutuhan utama masyarakat terdampak bencana di Aceh.
“Patut diapresiasi langkah pemerintah ini. Namun, jangan sampai berhenti sampai pembangunan rumah sementara,” ujar Umai.
Dia berharap pemerintah tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat setelah pembangunan Huntara rampung. Menurutnya, beberapa warga kehilangan sawah dan lahan mata pencaharian akibat bencana.
Oleh karena itu, pemerintah diharapkan memberikan dukungan terhadap pemulihan ekonomi warga.
Perkembangan Pembangunan Huntara dan Fasilitas yang Disediakan
Sebagai informasi, pembangunan Huntara Danantara dimulai pada 24 Desember 2025. Dalam waktu kurang dari dua minggu, progres konstruksi menunjukkan percepatan signifikan.
Sebanyak 600 unit dijadwalkan diserahkan kepada Pemerintah Daerah pada 8 Januari 2026 untuk selanjutnya diberikan kepada warga terdampak bencana.
Pembangunan akan terus berlanjut dengan target 15.000 unit dalam tiga bulan ke depan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan tersedianya hunian layak sementara bagi keluarga terdampak bencana di Aceh.
Danantara Indonesia Tegaskan Komitmen dan Sinergi Lintas Pihak
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menyampaikan bahwa Huntara dibangun sesuai standar kelayakan hunian darurat dengan struktur aman dan sanitasi memadai.
Pembangunan dilengkapi fasilitas umum berupa klinik, taman bermain, serta akses internet dan listrik tanpa biaya.
Rosan menegaskan bahwa percepatan pembangunan Huntara tidak terlepas dari kerja keras lintas pihak, termasuk BUMN. “Target pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang ditetapkan secara jelas sejak awal, dan capaian hingga 1 Januari 2026 menunjukkan komitmen kuat di seluruh pihak untuk menepatinya,” jelasnya.
Menurut Rosan, BUMN bergerak cepat dan bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah untuk memastikan masyarakat segera memperoleh hunian yang layak.
Kisah Penyintas: Rumah Hilang, Harapan Baru Hadir
Sebelumnya, para penyintas mulai memasuki Huntara yang telah selesai dibangun. Rizki, warga Aceh Tamiang, mengabarkan melalui pesan WhatsApp bahwa ia telah memasuki hunian barunya. “Rumah baru kami di sebelah masjid, masya Allah,” tulisnya, Jumat (2/1), setelah menunaikan salat Jumat.
Huntara yang bertetangga dengan Masjid Darussalam memberi simbol kuat bahwa Aceh tetap dikenal sebagai Serambi Mekkah Indonesia. Pada masa Hindia Belanda, Aceh menjadi pelabuhan terakhir sebelum jamaah haji bertolak menuju Jeddah, sehingga banyak jamaah menetap sementara di Aceh sebelum keberangkatan.
Rizki menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang datang dari berbagai pihak. “Bismillah… kami tidak sendiri. Banyak tangan saudara kami dari berbagai daerah di Indonesia lewat pimpinan bangsa ini, Bapak Prabowo Subianto, berjibaku bantu Aceh Tamiang pulih,” ujarnya.
Ia mengaku rumah sebelumnya telah tertelan lumpur. Beberapa rumah warga lain bahkan hilang dan tidak berbentuk lagi dalam bencana yang terjadi 37 hari lalu.(*)
Editor : Heri Sugiarto