Peristiwa ini terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari dalam jarak relatif jauh, sehingga piringan Matahari tidak tertutup penuh dan tampak membentuk cincin cahaya di tepinya.
Berdasarkan data lintasan gerhana, Indonesia tidak dilalui bayangan inti maupun bayangan sebagian gerhana Matahari Cincin tersebut.
Faktor utamanya adalah posisi geografis Indonesia. Saat gerhana berlangsung, Matahari di wilayah Indonesia sudah berada di bawah cakrawala sehingga tidak terlihat.
Informasi tersebut disampaikan akun informasi lokal @pontianak.folk pada unggahan 5 Februari 2026 yang mengacu pada data Mozaik dan NASA.
“Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena ini karena jalur gerhana tidak melintasi wilayah Indonesia. Pada waktu terjadinya gerhana, posisi Matahari di Indonesia sudah berada di bawah cakrawala,” tulis akun tersebut.
Jalur Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 tercatat melintasi wilayah ekstrem selatan Bumi, termasuk Antarktika, bagian selatan Afrika, dan ujung selatan Amerika Selatan.
Selain daratan, lintasan gerhana juga melewati Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik.
Bagi masyarakat Indonesia, pengamatan hanya dapat dilakukan melalui siaran langsung daring yang biasanya disediakan lembaga antariksa dan observatorium internasional, termasuk NASA.
Gerhana Matahari Cincin ini berdekatan dengan awal Ramadhan 1447 Hijriah, sehingga menjadi fenomena astronomi yang tetap relevan untuk dicermati meski tidak terlihat langsung dari Indonesia.(cr3)
Editor : Hendra Efison