Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Program MAMAKU SIGAP Pertamina Dorong Kemandirian Warga Kutawaru dan Kelola 7,6 Ton Sampah per Tahun

Hendra Efison • Jumat, 17 April 2026 | 12:02 WIB
Program MAMAKU SIGAP Pertamina di Kutawaru kelola 7,6 ton sampah per tahun dan dorong ekonomi warga hingga Rp366 juta per bulan.
Program MAMAKU SIGAP Pertamina di Kutawaru kelola 7,6 ton sampah per tahun dan dorong ekonomi warga hingga Rp366 juta per bulan.

CILACAP — PT Pertamina Patra Niaga menjalankan program MAMAKU SIGAP di Kelurahan Kutawaru, Kabupaten Cilacap, sejak 2020 untuk mengelola lingkungan dan meningkatkan ekonomi masyarakat, dengan capaian pengelolaan 7,6 ton sampah per tahun dan perputaran ekonomi Rp366 juta per bulan.

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini dirancang sebagai solusi terpadu atas persoalan sosial dan lingkungan di wilayah pesisir tersebut.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menyebut Kutawaru memiliki lebih dari 4.600 warga berpendapatan rendah atau sekitar 320 kelompok rentan.

Baca Juga: Pemkab Dharmasraya Bangun MCK Sekolah, Dukung Lingkungan Belajar Sehat

Kelompok tersebut terdiri dari mantan pekerja migran, anak buah kapal, buruh harian, hingga perempuan prasejahtera.

Selain itu, wilayah ini juga menghadapi persoalan lingkungan dengan produksi sampah mencapai 240 ton per tahun dan belum memiliki fasilitas tempat pembuangan akhir.

“Kondisi ini menegaskan perlunya solusi terpadu yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Roberth.

Program MAMAKU SIGAP mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Baca Juga: HUT Bank Nagari ke-64, Aksi Donor Darah Jadi Wujud Kepedulian Sosial

Salah satu implementasinya adalah Bank Sampah Abhipraya yang menerapkan prinsip Refuse, Rethink, Repurpose, Recycle, dan Recover.

“Bank sampah ini berhasil mengelola 7,6 ton sampah per tahun dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata Roberth.

Selain pengelolaan sampah, Pertamina juga melakukan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi serta memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.600 Wattpeak.

Di sektor ekonomi, warga didorong mengembangkan Kampoeng Kepiting sebagai sentra kuliner berbasis hasil laut.

Kawasan ini kini menjadi destinasi wisata lokal dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Baca Juga: Pendaftaran Mahasiswa Baru ITP 2026 Dibuka

Pertamina juga mengembangkan Pasar Amarta sebagai pusat pemasaran UMKM serta Integrated Farming System untuk pertanian dan perikanan terpadu.

Roberth menyebut program ini memberikan dampak ekonomi signifikan dengan perputaran hingga Rp366 juta per bulan.

“Sebagian hasilnya juga dialokasikan untuk kegiatan sosial masyarakat,” ujarnya.

Program ini turut mendorong terbentuknya pusat pembelajaran masyarakat untuk pengelolaan sampah dan kemandirian ekonomi.

Pertamina menilai MAMAKU SIGAP mendukung berbagai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk pengentasan kemiskinan dan penanganan perubahan iklim.

“Program ini diharapkan menjadi contoh inovasi sosial yang dapat direplikasi di wilayah lain,” kata Roberth.(*)

Editor : Hendra Efison
#MAMAKU SIGAP Pertamina #Kutawaru Cilacap bank sampah #ekonomi sirkular Pertamina #program TJSL Pertamina