Karhutla Way Kambas Sisakan 40 Hektare, Pemadaman Darat dan Udara Berlanjut

Hendra Efison • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:16 WIB
Karhutla di Taman Nasional Way Kambas menyisakan sekitar 40 hektare area terbakar. Pemadaman darat dan udara berlanjut di Lampung Timur.
Karhutla di Taman Nasional Way Kambas menyisakan sekitar 40 hektare area terbakar. Pemadaman darat dan udara berlanjut di Lampung Timur.

PADEK.JAWAPOS.COM— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, masih menyisakan sekitar 40 hektare area terbakar yang belum padam hingga Sabtu (24/10/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan terus mengintensifkan pemadaman melalui jalur darat dan udara.

Berdasarkan laporan tim pendampingan BNPB, kebakaran yang terjadi sejak 22 September 2026 itu masih membutuhkan penanganan lanjutan. Pada Jumat (23/10), tim gabungan berhasil memadamkan api di area seluas sekitar 10,2 hektare.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut angka luasan yang dipadamkan merupakan estimasi berdasarkan pemantauan dan evaluasi di lapangan.

Helikopter Black Hawk Dikerahkan untuk Pemadaman

Pemadaman dari udara dilakukan menggunakan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L. Dalam operasi tersebut, helikopter melaksanakan dua sortie water bombing untuk membantu mengendalikan kebakaran.

Sementara itu, pemadaman darat melibatkan pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, masyarakat, serta unsur pendukung lainnya. Personel dibagi menjadi empat tim dengan tugas berbeda sesuai kondisi lapangan.

Tim pertama melakukan pemantauan menggunakan drone untuk mengidentifikasi perkembangan titik api. Tim lainnya menangani pemadaman di kawasan rawa gambut, mendistribusikan air dan memasang selang menuju lokasi kebakaran, serta melanjutkan pemadaman di titik B.

Selain itu, tim menyiapkan suplai air menuju titik D dengan menggelar selang penyalur sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Langkah ini diperlukan untuk mendukung distribusi air ke lokasi yang menjadi prioritas pemadaman.

Vegetasi Kering dan Lahan Gambut Hambat Pemadaman

Tim gabungan menghadapi sejumlah kendala dalam upaya mengendalikan kebakaran di kawasan konservasi tersebut. Vegetasi yang rapat dan kering, angin kencang, serta akses menuju lokasi yang sulit memperberat proses pemadaman.

Jarak sumber air yang mencapai sekitar 1,5 kilometer dari titik kebakaran juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini membuat distribusi air membutuhkan dukungan peralatan dan personel tambahan.

Karakteristik lahan gambut turut meningkatkan kesulitan penanganan. Api dapat bertahan di lapisan bawah tanah dan kembali muncul meskipun pemadaman sebelumnya telah dilakukan.

Karena itu, pemantauan lanjutan diperlukan untuk mendeteksi titik api yang masih aktif dan menentukan langkah penanganan berikutnya. Tim gabungan juga memprioritaskan titik B, titik D, dan kawasan rawa gambut.

Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan di Dua Wilayah

Selain pemadaman darat dan udara, BNPB bersama unsur terkait melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Jumat (23/10). Operasi tersebut menggunakan pesawat Cessna Caravan untuk penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl).

Dalam kegiatan itu, tim melaksanakan dua sortie penyemaian dengan masing-masing membawa 1.000 kilogram NaCl. Penyemaian dilakukan di wilayah Taman Nasional Way Kambas dan Kabupaten Lampung Barat.

Hasil pengamatan menunjukkan hujan ringan terjadi di kedua wilayah tersebut. Namun, laporan yang tersedia belum merinci kontribusi hujan terhadap perkembangan pemadaman di lokasi kebakaran.

Di sisi lain, BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan operasional. Dukungan tersebut mencakup peralatan pemadaman, logistik personel, pasokan air, serta bahan bakar.

Pemantauan Titik Api Dilanjutkan

Pemantauan menggunakan drone akan diteruskan untuk mengidentifikasi perkembangan titik api sekaligus menentukan prioritas pemadaman dari darat maupun udara. Tim juga memantau kondisi cuaca dan potensi penjalaran api ke area lain.

Operasi gabungan masih memprioritaskan titik B, titik D, serta kawasan rawa gambut. Upaya terpadu tersebut ditujukan untuk menekan perluasan kebakaran dan mengendalikan titik api yang belum tertangani secara optimal.

Dengan area terbakar yang belum padam diperkirakan mencapai 40 hektare, penanganan karhutla di Taman Nasional Way Kambas masih memerlukan koordinasi lintas unsur. Kondisi lapangan, akses sumber air, dan karakteristik lahan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas pemadaman selanjutnya.(*)

Editor : Hendra Efison
karhutla Way Kambas kebakaran Taman Nasional Way Kambas pemadaman karhutla Lampung bnpb