Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyatakan dirinya akan mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Malaysia tahun ini meskipun usianya sudah 97 tahun.
Mahathir telah menjadi perdana menteri Malaysia dua kali, pertama dia menjabat selama 22 tahun. Kemudian, dia diangkat kembali pada tahun 2018 saat berusia 92 tahun.
Dia dirawat di rumah sakit awal tahun ini karena gangguan jantung. Tapi, dia mengatakan sekarang sudah sehat.
Namun demikian, Mahathir belum memutuskan apakah akan menjadi perdana menteri untuk ketiga kali jika partainya menang pada pemilu.
"Kami belum memutuskan siapa yang akan menjadi perdana menteri karena calon perdana menteri hanya relevan jika kami menang," kata Mahathir dalam konferensi pers seperti dikutip BBC.
Mahathir pertama kali menjadi anggota parlemen tahun 1964. Dia diterima secara luas jadi perdana menteri karena perkembangan dan transformasi ekonomi Malaysia yang pesat sejak tahun 1980-an.
Pada 2018, Mahathir bangkit dari masa pensiunnya dalam upaya untuk menjatuhkan mantan perdana menteri Najib Razak yang telah dituduh menggelapkan ratusan juta dolar dana negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
Dengan dukungan mantan saingannya Anwar Ibrahim, Mahathir terpilih lagi sebagai perdana menteri negara itu, sementara Najib didakwa dan akhirnya dipenjara atas tuduhan pencucian uang dan penyalahgunaan kekuasaan.
Tetapi aliansi Mahathir tidak mampu menahan persaingan politik di internal. Akhirnya, pada Februari 2020 Mahathir mendapati dirinya digulingkan.
Pria berusia 97 tahun itu memiliki riwayat masalah jantung, dan telah mengalami serangan jantung dan operasi bypass. Dia keluar dari rumah sakit pada bulan lalu setelah dirawat karena Covid-19.
Meskipun usia dan kesehatannya mengkhawatirkan tahun ini, Mahathir mengatakan dia akan mempertahankan kursi parlemennya di pulau Langkawi.
Pemilu Lebih Cepat
Parlemen Malaysia dibubarkan pada Senin 10 Oktober 2022 oleh Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob dan menyerukan pemilu dipercepat. Dia menyerah pada tekanan partainya Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang mengharapkan kemenangan besar di tengah perseteruan dengan sekutu dalam koalisi yang berkuasa.
Dengan pembubaran parlemen, Ismail yang berkuasa sejak Agustus 2021, menjadi perdana menteri terpendek dalam sejarah Malaysia.
Pemilu sedianya tidak dijadwalkan sampai September 2023, tapi Ismail telah berada di bawah tekanan yang meningkat dari beberapa faksi dari koalisi yang berkuasa untuk mengadakan pemungutan suara lebih awal.
Pemilihan umum diharapkan akan mengakhiri ketidakstabilan politik empat tahun terakhir. Ismail mengatakan pemilihan untuk mengakhiri pertanyaan tentang legitimasi pemerintahannya dan mengembalikan mandat kepada rakyat.
Komisi Pemilihan akan bertemu pada 20 Oktober untuk menentukan tanggal pemungutan suara. Pemilu diadakan dalam waktu 60 hari setelah pembubaran parlemen. Jumlah pemilih dapat dikurangi jika tanggal yang dipilih jatuh selama musim hujan dan memicu banjir pada akhir tahun.(BBC/Reuters)
Editor : Admin Padek