Teks Mesir kuno menyebutkan, kematian diakibatkan penyakit yang tidak dapat didiagnosis oleh dokter manapun bagi siapa saja yang mengganggu sisa-sisa mumi kerajaan itu.
Namun, sebuah penelitian terbaru mungkin bisa memberikan jawaban ilmiah di balik kematian mereka. Seorang ilmuwan mengaku telah mengungkap penyebab 'kutukan Firaun' itu.
Seperti dilansir dari Dailymail, Peneliti Ross Fellowes berpendapat bahwa para arkeolog yang meninggal saat penggalian makam itu, bukan karena terkena kutukan gaib, melainkan karena racun dan radiasi.
Penelitian tersebut menunjukkan penyebab kematian adalah keracunan radiasi dari unsur alam yang mengandung uranium dan limbah beracun.
Unsur-unsur ini sengaja ditempatkan di dalam makam yang tertutup. Paparan zat tersebut diduga memicu kanker tertentu, seperti yang merenggut nyawa arkeolog Howard Carter, orang pertama yang memasuki makam Tutankhamun lebih dari 100 tahun lalu.
Teori tersebut secara efektif membuktikan bahwa makam tersebut memang "dikutuk" -meskipun secara biologis disengaja- bukan dengan cara supernatural seperti yang disebutkan oleh beberapa ahli Mesir Kuno.
Teori Fellowes didukung oleh penemuan prasasti di makam lain di Mesir yang menunjukkan bahwa orang-orang kuno mengetahui tentang racun tersebut. Ada temuan teks memuat area yang dilarang karena 'roh jahat'.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Scientific Exploration menjelaskan bahwa tingkat radiasi yang tinggi juga didokumentasikan di reruntuhan makam Kerajaan Lama, di dua lokasi di Giza, dan di beberapa makam bawah tanah di Saqqara.
Kesimpulan yang sama ditemukan di seluruh makam Osiris di Giza. Fellowes mencatat bahwa radiaktivitas yang kuat dikaitkan dengan dua peti batu, terutama dari bagian dalam.
Profesor Robert Temple mencatat bahwa pundi-pundi tersebut terbuat dari basal. Sehingga ia menyimpulkan bahwa adalah sumber titik radiasi, bukan jejak umum tingkat alami (radon) dari batuan dasar batu kapur di sekitarnya.
Penelitian lain telah mengukur secara langsung gas radon di berbagai lokasi makam di Saqqara.
Gas radon merupakan produk antara peluruhan uranium, dengan waktu paruh 3,8 hari.
Konsentrasi radon ambien diidentifikasi di enam lokasi melalui reruntuhan Saqqara: Makam Selatan, gudang piramida Djoser, dan terowongan makam Serapeum.
Ribuan pot yang digali di bawah Piramida Bertingkat pada tahun 1960an berisi hingga 200 ton zat tak dikenal yang belum teridentifikasi -menunjukkan bahwa racun terkubur bersama sisa-sisa mumi.
Kasus Kematian yang Mencurigakan
Lord Carnarvon, salah satu orang yang turut memasuki makam, meninggal karena sepsis (keracunan darah) lima bulan setelah penemuan tersebut. Penyebab kematiannya diduga gigitan nyamuk yang terinfeksi.
Sementara itu, Howard Carter meninggal pada tahun 1939, diduga akibat serangan jantung setelah berjuang melawan penyakit Hodgkin's lymphoma (kanker kelenjar getah bening). Penyakit ini diketahui bisa disebabkan oleh paparan radiasi.
Para peneliti lain yang terlibat dalam penggalian dilaporkan meninggal karena berbagai sebab seperti sesak napas, stroke, diabetes, gagal jantung, pneumonia, keracunan, malaria, dan paparan sinar X. Mereka semua meninggal di usia 50-an.
Ahli Mesir Kuno asal Inggris, Arthur Weigall menghadiri pembukaan makam Tutankhamun, di mana dia dituduh menghasut mitos kutukan dan meninggal karena kanker pada usia 54 tahun.
Makam Penuh Harta Karun
Pada 4 November 1922, kelompok Carter menemukan tangga yang menuju ke makam Tutankhamun dan menghabiskan beberapa bulan untuk membuat katalog ruang depan.
Tim membuka ruang pemakaman dan menemukan sarkofagus pada Februari tahun berikutnya.
Makam Raja Tutankhamun dikenal sebagai salah satu makam terkaya yang pernah ditemukan.
Makam tersebut berisi 5.000 artefak, termasuk sepatu pemakaman emas murni, patung, permainan, dan benda-benda lainnya.
Meskipun ukuran ruang makam terbilang kecil, isinya sangat melimpah. Para ahli memerlukan waktu 10 tahun untuk mengeluarkan semua harta karun tersebut.
Raja Tutankhamun dinobatkan menjadi Firaun pada usia 9 atau 10 tahun. Ia menderita berbagai masalah kesehatan karena kedua orang tuanya yang merupakan saudara kandung.
Rekonstruksi wajah dan tubuhnya menunjukkan bahwa Tutankhamun memiliki gigi tonggos, kaki bengkok, dan pinggul yang condong ke depan.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa ia kemungkinan besar menggunakan tongkat penyangga untuk berjalan.
Para ilmuwan menduga kondisi kesehatan Tutankhamun yang buruk dan riwayat keluarga menjadi penyebab kematiannya di usia 18 tahun.(dym)