Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Rusia-Ukraina dan kekhawatiran akan perlombaan senjata nuklir baru.
Menurut ahli B61-13 adalah bom gravitasi nuklir dengan daya ledak maksimum 360 kiloton setara dengan 361.000 ton TNT.
Media Amerika Serikat (AS) New York Post menyoroti percepatan produksi senjata nuklir, seperti B61-13, merupakan bagian dari strategi Amerika untuk menghadapi ancaman global yang meningkat, terutama dari Rusia dan China.
Ulasan tersebut mencatat bahwa langkah ini adalah respons terhadap perubahan lingkungan keamanan global yang semakin kompleks, termasuk ancaman dari Korea Utara.
Selain itu, media tersebut membahas bagaimana kebijakan ini dapat memicu perlombaan senjata nuklir baru, yang berpotensi mengganggu stabilitas internasional.
The New York Post melaporkan bahwa produksi bom gravitasi nuklir B61-13 dipercepat hingga tujuh bulan lebih awal dari jadwal. Berkat inovasi dalam perencanaan program di Sandia National Laboratories.
Proses ini melibatkan kolaborasi dengan Los Alamos National Laboratory dan National Nuclear Security Administration (NNSA).
Media tersebut mengulas bahwa percepatan ini dilakukan untuk merespons "tantangan kritis dan kebutuhan mendesak" di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, langkah ini bagian dari upaya modernisasi nuklir Amerika.
Beberapa media lainnya menyoroti kekhawatiran dari kelompok anti-nuklir dan aktivis perdamaian, yang menyebut langkah ini sebagai ancaman terhadap stabilitas global dan menyerukan dialog internasional untuk mengurangi ketegangan.
Langkah ini mencerminkan upaya Amerika untuk memperkuat posisi strategisnya di tengah meningkatnya ketegangan global, tetapi juga memicu perdebatan tentang dampaknya terhadap stabilitas internasional.
Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa B61-13 memberikan opsi tambahan bagi presiden untuk menghadapi ancaman strategis.
Pengembangan B61-13 dimulai pada tahun 2023 sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan dengan Rusia, China, dan Iran.
Bom ini dirancang untuk menyerang target militer besar dan area yang sulit dijangkau, seperti bunker bawah tanah. Teknologi modern memungkinkan bom ini memiliki variasi daya ledak hingga menembus tanah, sehingga dapat disesuaikan untuk memaksimalkan kerusakan kolateral.
Meskipun dianggap sebagai langkah strategis, pengembangan B61-13 juga menuai kritik dari kelompok anti-nuklir dan aktivis perdamaian. Mereka khawatir bahwa percepatan produksi senjata ini dapat memicu perlombaan senjata nuklir baru dan meningkatkan risiko konflik global.
Bom B61-13 menjadi simbol modernisasi nuklir Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan global. Dengan kemampuan yang jauh melampaui bom Hiroshima, senjata ini mencerminkan kekuatan teknologi sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang masa depan stabilitas internasional.(*)
Editor : Hendra Efison