Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Skandal Epstein Kembali Mengguncang, Nama Elite Dunia dan Kerajaan Inggris Terseret

Novitri Selvia • Rabu, 4 Februari 2026 | 12:03 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

PADEK.JAWAPOS.COM-Jeffrey Epstein sudah meninggal bunuh diri di selnya di New York, Amerika Serikat, pada 10 Agustus 2019.

Namun, dampak terbukanya kedok kejahatannya sebagai pelaku kekerasan seksual terhadap anak, pemerkosa berantai, dan penyelundup orang masih menjulur hingga kini.

Berbagai nama tenar, mulai pebisnis besar, penulis laris, ilmuwan terkemuka, sineas top, jurnalis kelas atas, hingga politikus berpengaruh, ikut terseret.

Misalnya saja Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris, eks Perdana Menteri Israel Ehud Barak, dan cendekiawan Noam Chomsky.

Epstein, semasa berjaya sebagai seorang finansier (profesional atau individu yang ahli dalam mengelola, menginvestasikan, dan mengatur sejumlah besar uang untuk organisasi, lembaga pemerintah, atau kepentingan bisnis, red), membentuk sebuah lingkaran sosial elite.

Dia juga menjalankan bisnis prostitusi dengan korban sekitar 1.000 gadis, remaja, dan perempuan muda. Mereka diperkosa dan menjadi korban kekerasan seksual pria Yahudi kelahiran New York, 20 Januari 1953, itu dan lingkarannya.

Epstein ditangkap untuk kali kedua pada 6 Juli 2019 dan kemudian ditahan di Metropolitan Correctional Center, New York, tempatnya mengakhiri hidup.

Dikutip dari AFP, kemarin (3/2), dari dokumen yang telah dirilis ke publik tampak hubungan hangat Epstein dengan sejumlah tokoh penting Inggris.

Isinya mencakup korespondensi pribadi, dugaan transaksi keuangan mencurigakan, hingga foto-foto pribadi yang memicu kontroversi baru di kalangan politik dan keluarga kerajaan.

Salah seorang di antaranya Peter Mandelson, mantan duta besar Inggris ke AS di era Perdana Menteri Keir Starmer.

Starmer sudah memerintahkan penyelidikan resmi atas kontak Mandelson dengan Epstein, menyusul tuduhan bahwa ia pernah membocorkan memo rahasia pemerintah Inggris kepada Epstein.

Starmer juga mendesak Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor memberikan kesaksian di hadapan Kongres Amerika.

Ini menyusul pengakuan seorang perempuan yang mengklaim diperdagangkan ke Inggris untuk berhubungan seksual dengan adik Raja Inggris Charles III tersebut.

Mantan istri Andrew, Sarah Ferguson alias Fergie, juga menjalin kedekatan setelah beberapa email bocor.

“Terima kasih, Jeffrey, karena telah menjadi saudara yang selalu kuinginkan,” tulis Fergie dalam email Agustus 2009.

Tokoh lain yang juga diduga terlibat adalah mantan Presiden AS Bill Clinton dan istrinya yang juga eks Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Bill disebut beberapa kali terbang dengan pesawat Epstein pada awal 2000-an.

Senin (2/2) waktu Washington DC, Bill dan Hillary bersaksi di hadapan Kongres AS.

“Mantan presiden dan mantan menteri luar negeri akan hadir. Diharapkan, kehadiran mereka dapat menjadi preseden yang berlaku untuk semua orang,” kata Wakil Kepala Staf keluarga Clinton Angel Urena, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Orang-orang Berpengaruh

Jejaring komunikasi Epstein dengan para tokoh berpengaruh dunia melintas bidang. Hubungan dan komunikasi Epstein dengan kalangan elite tetap berlangsung bertahun-tahun, bahkan setelah penangkapan pertamanya pada 2008.

Contohnya korespondensi dengan bos Tesla Elon Musk yang tercatat hingga 2014. Termasuk pesan yang mengisyaratkan rencana pesta dan ketertarikan pada pengalaman yang bukan sekadar liburan di pulau yang tenang.

Nama Presiden AS Donald Trump juga muncul dalam berkas, meski Departemen Kehakiman menegaskan penyebutan nama tidak otomatis berarti adanya pelanggaran. Trump sendiri membantah pernah mengunjungi pulau Epstein. (lyn/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#kerajaan inggris #donald trump #jeffrey epstein #dokumen epstein