Berakhirnya perjanjian tersebut mengakhiri pembatasan hukum internasional atas jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dimiliki dua negara dengan arsenal nuklir terbesar di dunia.
New START ditandatangani pada 2010 dan selama lebih dari satu dekade membatasi kepemilikan hulu ledak strategis maksimal 1.550 unit bagi masing-masing pihak.
Dengan berakhirnya masa berlaku perjanjian, tidak ada lagi kerangka hukum internasional yang mengatur pembatasan jumlah senjata nuklir strategis Rusia dan Amerika Serikat.
Rusia Nyatakan Tidak Lagi Terikat Pembatasan Hulu Ledak
Pemerintah Rusia menyatakan bahwa mereka tidak lagi terikat pada pembatasan jumlah hulu ledak nuklir setelah New START berakhir pada 5 Februari 2026.
Moskow menegaskan bahwa berakhirnya perjanjian tersebut memberi kebebasan bagi Rusia untuk menentukan kapasitas arsenal nuklirnya sesuai kepentingan nasional.
Meski demikian, pihak Rusia menyampaikan bahwa pengelolaan senjata nuklir akan tetap dilakukan secara bertanggung jawab dan terukur.
Rusia menekankan bahwa langkah tegas hanya akan diambil apabila keamanan nasional mereka dinilai benar-benar terancam oleh pihak luar.
Informasi mengenai berakhirnya kerja sama ini juga disampaikan melalui unggahan akun berita bushcoo pada Jumat, 6 Februari 2026, yang mengutip sumber dari CNBC.
“Rusia menyatakan tidak lagi terikat pada pembatasan jumlah hulu ledak nuklir setelah perjanjian pengendalian senjata terakhir dengan Amerika Serikat, New START, resmi berakhir pada 5 Februari 2026,” tulis keterangan tersebut.
Sikap Amerika Serikat dan Kekhawatiran Global
Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan bahwa pengendalian senjata nuklir tetap menjadi prioritas kebijakan luar negeri mereka ke depan.
Namun, Washington menegaskan bahwa kesepakatan baru di masa mendatang harus melibatkan China sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan kekuatan global yang lebih luas.
Sebelum perjanjian berakhir, Presiden Rusia Vladimir Putin disebut sempat menawarkan kepatuhan sementara terhadap aturan New START selama satu tahun.
Pihak Rusia menyatakan bahwa tawaran tersebut tidak memperoleh respons formal dari pemerintah Amerika Serikat hingga masa berlaku perjanjian berakhir.
Berakhirnya New START memicu kekhawatiran internasional akan potensi meningkatnya ketegangan dan perlombaan senjata nuklir tanpa pengawasan yang sebelumnya diatur.
Sejumlah pihak dan organisasi perdamaian menyampaikan peringatan mengenai risiko jangka panjang terhadap stabilitas keamanan global, terutama jika negara-negara lain merespons dengan meningkatkan kapasitas militernya.
Situasi ini dinilai meningkatkan risiko kesalahpahaman antarnegara akibat berkurangnya transparansi, yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam mekanisme perjanjian New START.(cr3)
Editor : Hendra Efison