PADEK.JAWAPOS.COM-PADA 28 Februari lalu, hidup Mojtaba Khamenei tercabik. Akibat serangan Israel–Amerika Serikat (AS), dia tak hanya kehilangan sang ayah Ayatollah Ali Khamenei pada hari itu. Tapi, juga istri, anak lelaki, adik perempuan, dan keponakan.
Sang ibu, Mansoureh Khojasteh Bhagerzadeh, terluka parah akibat serangan tersebut. Dua hari kemudian dia juga berpulang.
Di tengah duka yang berlarat-larat itu, pria kelahiran 8 September 1969 tersebut harus mengemban tugas mahaberat menjadi Pemimpin Tertinggi Iran saat negaranya harus bertempur melawan Israel–AS.
Beruntung, masa kecil dan mudanya juga dihabiskan dalam masa pergolakan. Mulai Revolusi Islam 1979 dengan sang ayah menjadi salah seorang tokoh sampai Perang Iran vs Irak 1980–1988, ketika dia juga ikut angkat senjata.
Semua pilar kekuatan Iran juga langsung bersumpah mematuhi sepenuhnya sang Pemimpin Tertinggi.
“Apa saja yang diperintahkan Pemimpin Tertinggi akan kami jalankan sepenuh hati,” bunyi pernyataan resmi Garda Revolusi, seperti dikutip dari Kantor Berita Tasnim.
Demikian pula dengan Presiden Masoud Pezeshkian. “Keputusan yang sangat tepat dari Majelis Pakar ini menandai era baru Iran yang bermartabat dan penuh kekuatan,” kata Pezeshkian, juga dikutip dari Tasnim.
Mojtaba menjadi Pemimpin Tertinggi Iran ketiga setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei. Selama ini Mojtaba lebih banyak membantu sang ayah dari balik layar.
Dia sempat bergabung dengan Garda Revolusi dan bertugas dalam Batalyon Habib Ibn Mazahir.
Pengalaman tersebut membuatnya mampu membangun jaringan dengan sejumlah tokoh yang kemudian menempati berbagai posisi penting di lembaga keamanan dan intelijen Iran.
Meski jarang muncul di ruang publik dan tak pernah memegang jabatan publik, Mojtaba dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkar kekuasaan.
Sejumlah analis menggambarkannya sebagai figur misterius namun berpengaruh dalam politik Iran.
Kedekatan pengajar teologi di Kota Suci Qom itu dengan IRGC juga menjadi faktor penting dalam karier politiknya.
Pasukan elite tersebut selama ini dipandang sebagai salah satu institusi paling kuat dalam sistem politik dan keamanan Iran.
Namanya mulai mencuat dalam Pemilihan Presiden 2005 ketika Mahmoud Ahmadinejad secara mengejutkan menjadi pemenang. Sejumlah pengamat menyebut Mojtaba berperan penting dalam kemenangan Ahmadinejad.
Menewaskan seorang Khamenei tetapi yang menggantikan juga Khamenei tentu saja mengecewakan AS dan Israel.
Padahal, mengganti rezim menjadi salah satu narasi yang sempat diapungkan sebagai alasan menyerbu Iran, meski belakangan disangkal Gedung Putih.
“Saya tidak senang,” kata Trump ketika dimintai tanggapan.
Israel Katz, menteri pertahanan Israel, juga sudah melempar ancaman.
Dia menyebut bahwa siapa pun yang menggantikan Khamenei bakal menjadi target untuk dieliminasi. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia