PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus berupaya mengajak negara-negara lain memerangi Iran. Terutama setelah militer Iran menutup Selat Hormuz untuk kapal-kapal berbendera AS, Israel, dan sekutunya.
Namun, ajakan Trump mendapat penolakan dari sejumlah negara. Mereka menyatakan tak mau terlibat dalam agresi militer yang dikomandani AS-Israel tersebut.
Ajakan membentuk koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz disampaikan Trump melalui platform Truth Social.
“Semoga Tiongkok, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain yang terdampak oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke wilayah tersebut,” tulis Trump.
Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa kemampuan militer Iran telah sepenuhnya dihancurkan. Karena itu, dia mengatakan bahwa pengamanan Selat Hormuz bakal berjalan dengan mudah.
Namun, kini dia justru meminta negara-negara yang menerima pasokan minyak melalui Selat Hormuz untuk mengirim kapal perang.
“Amerika akan memberikan banyak dukungan kepada mereka yang berpartisipasi,” katanya seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sikap Pemerintah Jepang disampaikan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi. Dia mengatakan, hingga kemarin belum ada permintaan resmi dari AS untuk pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz.
Namun, dia menegaskan bahwa permintaan itu akan dikaji sesuai dengan kerangka hukum Jepang. Bukan atas dasar mengikuti permintaan Trump atau pemerintah AS.
“Belum ada keputusan apa pun mengenai pengiriman kapal perusak,” kata Takaichi, dilansir dari NHK.
Anggota parlemen Hirota Hajime dari Partai Demokrat Konstitusional Jepang juga meragukan janji Trump untuk membantu negara-negara yang bergabung dalam misi tersebut.
Sebab, selama ini Trump dikenal sebagai presiden yang sering berubah sikap secara mendadak.
Sementara itu, Australia secara tegas menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Menteri Transportasi Australia Catherine King mengatakan, negaranya belum menerima permintaan resmi dari Washington. Namun, dia sudah menegaskan sikap.
“Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz. Itu bukan sesuatu yang diminta dari kami atau yang kami kontribusikan,” katanya kepada ABC Radio.
Menurut King, Australia saat ini lebih fokus pada kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah juga berkomitmen membantu keamanan Uni Emirat Arab dengan menyediakan dukungan udara.
Langkah itu dilakukan untuk melindungi warga Australia yang berada di kawasan tersebut.
Kapal Induk AS Mundur
Kapal Induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln mendadak mundur dari Laut Oman. Menjauhi Selat Hormuz. Iran mengklaim, kapal induk raksasa itu rusak setelah dihantam rudal dan drone militernya.
Juru bicara militer Iran Abolfazl Shekarchi pada Sabtu (15/3) waktu setempat mengatakan serangan rudal dan drone Iran membuat kapal induk bertenaga nuklir itu tidak lagi beroperasi.
“Serangan ini memaksa kapal induk tersebut menarik diri dari posisinya di Laut Oman,” kata Shekarchi seperti dikutip dari The New Arab.
Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps juga menyatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap kapal induk tersebut.
Kapal itu disebut sebagai salah satu dari dua kapal induk yang terlibat dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Namun, militer Amerika membantah keras klaim tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat, United States Central Command, menyebut pernyataan Iran sebagai propaganda lama yang didaur ulang.
“Untuk memperjelas: Abraham Lincoln Carrier Strike Group terus mendominasi wilayah udara Iran dari laut,” tulis CENTCOM melalui unggahan di platform X pada hari yang sama.
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berkembang menjadi salah satu konflik paling mahal secara ekonomi dalam sejarah modern Timur Tengah.
Hal itu diuraikan oleh jurnalis Agha Iqrar Haroon dalam analisis di DND Thought Center. Menurutnya, selain menimbulkan kerugian finansial besar, konflik ini juga memicu guncangan strategis dan psikologis.
Terlebih setelah muncul laporan bahwa USS Abraham Lincoln mengalami kerusakan serius dan mundur dari kawasan Teluk Persia.
Insiden tersebut memicu perdebatan mengenai kerentanan kapal induk terhadap serangan rudal dan drone modern.
Selama puluhan tahun, kapal induk dianggap sebagai simbol supremasi militer Amerika. Namun, sejumlah analis militer menilai paradigma itu mulai berubah.
Kapal induk yang dahulu dipandang sebagai “benteng terapung” kini dinilai sebagai target mahal yang mudah terdeteksi.
Jika benar sistem persenjataan Iran mampu menetralkan aset bernilai lebih dari USD 13 miliar dalam waktu singkat, keseimbangan kekuatan di kawasan dapat berubah signifikan. Kejadian tersebut juga memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Washington.
Biaya Perang Bisa Tembus Triliunan Dolar
Di sisi ekonomi, konflik ini juga berpotensi menjadi salah satu perang termahal di kawasan.
Analisis dari lembaga seperti Center for Strategic and International Studies, RAND Corporation, dan Congressional Budget Office memperkirakan operasi militer terbatas dapat menghabiskan biaya sekitar USD 300 juta hingga USD 800 juta per hari.
Jika konflik berkembang menjadi perang regional dengan pengerahan ratusan ribu pasukan, biaya harian dapat melonjak menjadi USD 1 hingga USD 2,5 miliar.
Dalam skenario perang panjang yang melibatkan pertempuran proksi di Irak dan Suriah serta gangguan jalur pelayaran di Strait of Hormuz, total biaya bahkan berpotensi melampaui USD 1–2 triliun.
Sebaliknya, strategi Iran dirancang untuk memanfaatkan perang asimetris yang jauh lebih murah.
Dengan anggaran militer tahunan sekitar USD 15–25 miliar, Teheran mengandalkan rudal balistik, drone, serta jaringan sekutu regional seperti Hezbollah.
Biaya operasional Iran diperkirakan hanya berkisar USD 50 juta hingga USD 300 juta per hari. Ketimpangan biaya ini menjadi inti strategi Iran.
Dengan rudal yang berharga ratusan ribu dolar, Iran dapat memaksa lawan menggunakan sistem pencegat bernilai jutaan dolar, sehingga menciptakan tekanan finansial besar bagi pihak yang bertahan. (mia/lyn/oni/jpg)
Editor : Novitri Selvia