PADEK.JAWAPOS.COM - Lahir dari keluarga bersahaja, Imam Santoso rutin berkeliling ke berbagai sekolah di banyak kota memotivasi anak-anak muda agar tidak takut mengejar pendidikan setinggi mungkin. Mudik Lebaran lalu, dia juga mengajak tiga mahasiswa ITB yang tak bisa pulang kampung karena mahalnya tiket pesawat.
PENGALAMAN mengharukan menjemput seorang siswa berprestasi di Jember itu masih basah dalam ingatan Imam Santoso. Afiq, siswa tersebut, merupakan putra seorang ibu tunggal yang membesarkan tiga anak dengan berjualan es capcin yang dititipkan di sejumlah sekolah.
Ketiadaan biaya nyaris membuat Afiq tak bisa berkuliah. Padahal, pelajar SMAN 1 Jember tersebut merupakan siswa berprestasi. Salah satunya, juara Olimpiade Sains Nasional Kebumian.
“Waktu itu saya dapat informasi kalau siswa ini berprestasi. Akhirnya, saya bersama tim beasiswa Paragon menjemput langsung dia,” ujar Imam kepada Radar Jember Grup Jawa Pos (grup Padang Ekspres) tentang pengalamannya tahun lalu.
Afiq akhirnya bisa berkuliah di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB. Imam adalah dosen Teknik Metalurgi di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan kampus ternama di tanah air tersebut. Berburu siswa berprestasi adalah salah satu kegiatan yang rutin dia lakukan di berbagai kota di tanah air.
Mirip Afiq, Imam lahir dari keluarga sederhana di Ambulu, Jember. Orang tuanya buruh tani, namun ketekunan dan kegigihan yang berbuah prestasi membawanya ke titik sekarang: dosen, motivator, dan kreator konten dengan pengikut lebih dari 800 ribu orang.
Konten-konten Imam berfokus pada memotivasi siswa berprestasi berlatar belakang keluarga kurang mampu yang ingin berkuliah di ITB, namun terkendala biaya. Dia berbagi cerita dan pengalaman.
Manusia Beasiswa
Pada 2024 dan 2025, misalnya, Imam juga sempat roadshow ke beberapa SMA di kawasan Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Selain untuk memotivasi anak-anak muda melanjutkan kuliah, Imam juga memberikan informasi berbagai beasiswa yang tersedia, sembari menyebarkan jala untuk mencari anak muda seperti Afiq yang memiliki potensi, namun kurang mampu secara finansial.
“Tahun lalu, saat saya roadshow ke SMA Ambulu, SMA 1 Jember, dan SMA 2 Jember, mereka sangat antusias bertanya tentang ITB. Tidak sedikit juga dari mereka takut karena passing grade ITB tinggi. Namun, selalu saya bilang, jangan takut, apalagi soal biaya,” jelasnya saat ditemui Radar Jember Grup Jawa Pos di Jember (20/3).
Soal beasiswa, Imam berbicara dari pengalaman. Dia sampai dijuluki “Manusia Beasiswa” karena pendidikannya dibiayai dari sana.
S1 Imam di ITB ditempuh dalam waktu 3,5 tahun dan lulus pada 2007 dengan status cumlaude. Dia lalu melanjutkan pendidikan S2 ke University of Queensland, Australia, dan lulus pada 2014. Imam juga mendapat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk S3 di Aalto University, Finlandia, pada 2019.
“Kampus-kampus besar itu juga punya banyak jalur beasiswa. Tak hanya dari pemerintah, tetapi juga perusahaan,” katanya.
Ajak Mahasiswa Mudik
Imam tak mudik sendirian ke kampung kelahirannya di Desa Andongsari, Ambulu, Jember, dalam momen Lebaran yang baru berlalu. Ada tiga mahasiswanya di ITB yang diajaknya pulang kampung.
“Tiga mahasiswa saya ini tidak bisa mudik ke kampung halamannya di Riau dan Sumatera Barat karena terkendala tiket pesawat yang mahal. Jadi, saya ajak mudik ke Jember sekaligus liburan di sini beberapa hari,” ungkapnya.
Devit Febriansyah, Nauli Al Ghifari, serta Adhyaksa Yusuf Iskandar, ketiga mahasiswa tersebut, diajak Imam berkeliling ke sekitar kampung halamannya, termasuk ke Kota Jember. “Saya juga ajak anak-anak ini ke kawasan Blok M (pasar buku bekas di belakang Johar Plaza, Jember, red). Karena saya dulu juga sering membeli buku bekas di sana,” beber Imam.
Bagi Imam, mengajak beberapa mahasiswa yang tidak pulang kampung tersebut merupakan keberkahan tersendiri. Sebab, Imam tidak ingin pada momen libur Lebaran anak-anak didiknya tersebut tidak merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga. (muchammad ainul/ttg/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril