Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Taman Edukasi di Tengah Debu: Potret Ironi Taman Bermain Museum Adityawarman

Mengki Kurniawan • Jumat, 7 November 2025 | 05:50 WIB

Kondisi Taman Bermain Anak di Kompleks Museum Adityawarman Padang, Sumatera Barat, sungguh memprihatinkan. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
Kondisi Taman Bermain Anak di Kompleks Museum Adityawarman Padang, Sumatera Barat, sungguh memprihatinkan. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di bawah rindangnya pohon mahoni di halaman Museum Adityawarman, tawa anak-anak sesekali terdengar memecah kesunyian siang.

Mereka berlarian di antara ayunan dan perosotan yang mulai pudar warnanya. Namun di balik keceriaan itu, debu menari di udara setiap kali kaki kecil mereka berlari.

Di sudut taman, seorang ibu tampak gelisah memperhatikan anaknya bermain tanpa alas kaki.

“Ibu lihat taman ini tidak bersih dan banyak debu. Padahal ini tempat anak-anak bermain dan menyentuh banyak alat,” ujar Ayu Pramoni Suci (36), warga Purus, Kecamatan Padang Barat, Kamis (6/11/2025).

“Yang paling saya khawatirkan itu tidak ada tempat cuci tangan atau fasilitas sanitasi di sekitar sini.”

Keluhan Ayu bukan tanpa alasan. Ia harus berjalan cukup jauh ke toilet museum hanya untuk membersihkan tangan anaknya setelah bermain.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hal sepele. Namun bagi para orang tua, kebersihan menjadi hal utama di ruang yang seharusnya menjadi tempat aman dan mendidik bagi anak.

Dari Taman Melati ke Taman Edukasi

Taman yang kini menjadi sorotan itu dulunya dikenal sebagai Taman Melati, salah satu ruang publik legendaris di pusat Kota Padang.

Setelah direvitalisasi dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, pada 13 Agustus 2023, kawasan ini diubah menjadi taman edukatif anak yang diharapkan mampu mengenalkan budaya Minangkabau sejak dini.

Konsepnya menarik: anak-anak bisa bermain sambil belajar tentang warisan budaya di kompleks museum yang berdiri megah di Jalan Diponegoro itu.

Namun, realitas di lapangan tak sepenuhnya seindah harapan. Cat yang mulai mengelupas, alat bermain berdebu, dan minimnya fasilitas sanitasi membuat pengalaman berkunjung tak lagi nyaman.

Antara Edukasi dan Kenyamanan

Pihak pengelola, UPTD Museum Adityawarman, menyebut taman tersebut masih dalam proses optimalisasi.

Mereka menegaskan, taman memiliki fungsi ganda—sebagai ruang rekreasi sekaligus pintu gerbang edukasi menuju museum.

Namun, kondisi kebersihan yang memprihatinkan menimbulkan ironi. Taman yang seharusnya menjadi contoh ruang belajar yang sehat justru menyisakan kekhawatiran bagi pengunjungnya.

“Kalau tempatnya kotor, anak-anak malah enggan datang ke sini. Sayang sekali padahal idenya bagus,” ujar seorang pengunjung lain yang enggan disebut namanya.

Perlu Sentuhan Perawatan

Sebagai ruang publik yang berdampingan langsung dengan ikon budaya Sumatera Barat, taman ini sejatinya memiliki potensi besar untuk menjadi living museum—tempat di mana anak-anak belajar melalui pengalaman.

Namun tanpa perawatan rutin dan fasilitas sanitasi memadai, konsep edukatif tersebut sulit terwujud.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan, selaku penanggung jawab UPTD Museum Adityawarman, diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh.

Penambahan tempat cuci tangan, perbaikan alat bermain, dan pembersihan rutin akan menjadi langkah awal mengembalikan fungsi taman sesuai niat awalnya: ruang bermain yang sehat, aman, dan sarat nilai budaya.

Sore itu, ketika Ayu menggandeng tangan anaknya meninggalkan taman, debu masih menempel di telapak tangan kecil itu.

Sebuah pengingat sederhana bahwa di balik niat baik pembangunan fasilitas publik, perawatan dan kepedulian adalah kunci agar ruang belajar itu benar-benar hidup.(CR3)

Editor : Hendra Efison
#museum adityawarman padang #kebersihan fasilitas publik #taman bermain anak #taman edukatif Padang