Hilangnya rutinitas harian serta perubahan lingkungan yang drastis sering kali memicu gangguan emosional dan fisik yang nyata pada anak-anak.
Dikutip dari laman resmi ayosehat.kemkes.go.id pada Minggu (4/1/2026), dampak stres pada anak pascabencana umumnya timbul dalam bentuk kemunduran perilaku, seperti menjadi lebih rewel, mengalami kecemasan saat berpisah (separation anxiety), hingga gangguan pola tidur.
Gejala sulit tidur, sering terbangun di malam hari, hingga mimpi buruk menjadi sinyal adanya beban mental yang dialami anak.
Padahal, tidur merupakan perangkat penting bagi tumbuh kembang serta proses pemulihan mental dan fisik anak.
Kualitas tidur yang terjaga membantu tatanan emosi, menjaga imunitas tubuh, serta meningkatkan kemampuan coping atau adaptasi anak dalam menghadapi situasi sulit.
Faktor Pemicu Gangguan Tidur
Gangguan tidur pada anak di masa krisis dipengaruhi oleh empat faktor utama. Pertama, faktor emosional berupa rasa takut dan tidak aman yang membuat anak terus waspada.
Kedua, faktor lingkungan pengungsian yang cenderung bising, padat, dan memiliki pencahayaan yang tidak menentu.
Ketiga, faktor fisik seperti kelelahan, kurang gizi, hingga gangguan suhu dan serangga. Terakhir, faktor sosial, di mana anak cenderung menyerap kecemasan yang dirasakan orang tua atau pengasuh di sekitarnya.
Langkah Strategis Menjaga Kualitas Tidur Anak
Untuk memastikan kesehatan anak tetap optimal saat bencana dan pascabencana, orang tua perlu melakukan langkah-langkah mitigasi berikut:
- Membangun Rasa Aman melalui Kontak Fisik
Kehadiran orang tua yang tanggap adalah kunci. Memberikan pelukan, penguatan terhadap perasaan anak, serta pendampingan saat tidur dapat menurunkan kadar hormon stres sehingga anak lebih rileks.
- Menciptakan Zona Tidur Konsisten
Meski berada di tenda darurat, usahakan anak memiliki tempat tidur yang menetap setiap malam. Gunakan benda familiar seperti selimut atau jaket yang sama. Membuat sekat sederhana dengan tas atau bantal dapat memberikan ilusi ruang pribadi yang mengurangi gangguan cahaya dan lalu lalang orang.
- Mempertahankan Rutinitas Sebelum Tidur
Lakukan kebiasaan sederhana secara konsisten, seperti menyeka tubuh anak dengan kain basah jika tidak bisa mandi, mengganti pakaian, berdoa, atau membacakan cerita. Rutinitas ini memberi sinyal biologis bahwa waktu istirahat telah tiba.
- Mengatur Aktivitas Fisik dan Stimulasi
Salurkan energi anak dengan aktivitas fisik ringan di siang hari. Selain itu, berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi melalui gambar atau bercerita. Pastikan anak tidak mengonsumsi makanan berat atau minuman manis satu jam sebelum tidur untuk menjaga ritme biologisnya.
- Manajemen Stres Orang Tua
Anak adalah cermin emosi orang tua. Sebelum menenangkan anak, orang tua disarankan melakukan stabilisasi diri, misalnya dengan teknik napas dalam.
Selain itu, jauhkan anak dari percakapan traumatis atau paparan berita bencana yang dapat memperburuk kecemasannya.
Upaya menjaga kualitas tidur anak pascabencana merupakan investasi penting dalam mencegah dampak psikologis jangka panjang. Dengan lingkungan yang peduli, pemulihan anak diharapkan dapat berjalan lebih cepat meski dalam keterbatasan. (CC1)
Editor : Hendra Efison