PADEK.JAWAPOS.COM— Sebanyak 115 hektare sawah terdampak bencana di Kota Solok. Kerusakan tanggul, sedimentasi, sampah, serta keterbatasan akses alat berat mengganggu pasokan air ke lahan pertanian sehingga penanganan darurat melalui pompanisasi dipercepat.
Penanganan tersebut menjadi salah satu agenda dalam monitoring dan evaluasi khusus Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera di Kabupaten Solok dan Kota Solok, Kamis (13/8/2026).
Tim yang dipimpin Kepala Posko Nasional Satgas PRR Irjen Pol Wahyu Bintono Hari Bawono meninjau sejumlah lokasi terdampak serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, dan organisasi perangkat daerah teknis.
Pompanisasi untuk Menjaga Pasokan Air
Penanganan 115 hektare sawah terdampak menjadi salah satu agenda mendesak dalam pemulihan pascabencana di Kota Solok.
Kerusakan tanggul, sedimentasi, dan sampah membuat pasokan air ke lahan pertanian terganggu. Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya akses alat berat untuk melakukan penanganan.
Satgas PRR bersama Pemerintah Kota Solok mengoordinasikan pompanisasi darurat untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian terdampak.
Selain pompanisasi, dukungan bibit cadangan dan pompa berskala besar akan dikonsolidasikan dengan Kementerian Pertanian untuk mencegah terjadinya gagal panen.
Banjir Bandang dan Longsor Berdampak Luas
Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada November 2025 di Kota Solok berdampak terhadap 2.978 keluarga atau 9.375 jiwa di sembilan kelurahan.
Bencana tersebut juga merusak sekitar 14 kilometer badan jalan, empat ruas sungai, 11 titik jaringan irigasi, 292 fasilitas UMKM, satu koperasi, serta empat sistem penyediaan air minum.
Kondisi tersebut membuat pemulihan berbagai sektor dilakukan secara bertahap, termasuk penanganan lahan pertanian yang terdampak.
Pengendalian Banjir Masuk Penanganan Permanen
Selain penanganan darurat terhadap lahan pertanian, pemulihan di Kota Solok juga diarahkan pada penanganan permanen untuk mengurangi risiko dampak banjir.
Proyek pengendalian banjir dan normalisasi Batang Gawan serta Batang Lembang senilai Rp170 miliar kini telah memasuki tahapan tender tahun jamak.
Penanganan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana di Kota Solok, sementara kebutuhan air untuk 115 hektare sawah ditangani melalui langkah darurat dan dukungan lintas kementerian.
Satgas PRR bersama pemerintah daerah terus mengoordinasikan berbagai kebutuhan penanganan agar dampak bencana terhadap lahan pertanian dan masyarakat dapat segera ditangani.(*)
Editor : Hendra Efison