Guru merupakan teladan dan agen transformasi pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila di abad 21. Dan guru juga adalah ujung tombak dalam mendorong tumbuh kembang siswa secara holistik, aktif dan proaktif agar menjadi pemimpin pendidikan masa depan.
Perkembangan dunia pendidikan di masa pengetahuan atau knowledge age di abad 21 kian menuntut kebutuhan pembelajaran di sekolah menjadi hal yang menyenangkan bagi siswa. Pola pembelajaran satu arah yang berpusat pada guru selama ini sudah banyak dinilai membosankan.
Kondisi ini mengharuskan guru untuk terus berupaya mengasah kepiawaian mengajar mereka. Di SMAN 1 Lubukbasung, guru-guru menanggapi tuntutan tersebut dengan memperkuat peranan mereka. Menariknya, para guru tidak berbenah sendiri-sendiri, melainkan saling berbagi. Pola kerjasama ini dikenal tutor sebaya atau peer teaching.
“Selain diklat, workshop dan pelatihan-pelatihan, guru-guru di sekolah kami mulai menerapkan peer teaching untuk meningkatkan kompetensi mereka. Metode ini sudah berjalan selama satu bulan ini,” kata Kepala Sekolah SMAN 1 Lubukbasung, M. Mustapa Kamil.
Ia menjelaskan, peer teaching merupakan suatu strategi pembelajaran yang kooperatif dimana rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Metode ini sudah berjalan dua kali di SMAN 1 Lubukbasung dan mulai diterapkan sebulan yang lalu.
Lewat metode tutor sebaya itu, guru-guru di sekolah ini akan tampil mengajar di depan guru-guru lain sekali dua minggu. Ini untuk melatih dan meningkatkan pola pembelajaran guru.
“Latihan terus menerus. Nanti ada masukan dan saran dari guru-guru lain. Dengan begitu, guru akan menemukan kekurangan masing-masing dan bersama menyempurnakannya,” kata Mustapa didampingi Wakil Bidang Humas SMAN 1 Lubukbasung, Afdil.
Muara dari strategi itu, lanjut Mustapa, yakni meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi sekolah sebagai salah satu sekolah tertua di Kabupaten Agam. Baik prestasi guru maupun siswa.
Ditanya terkait program peningkatan prestasi siswa, Mustapa menjelaskan, sekolah mengupayakan dengan merangsang imajinasi dan daya pikir siswa. Caranya, sekali dua minggu siswa diarahkan untuk menulis, belajar mengemukakan pendapat dan lainnya.
“Jadi siswa kita kumpulkan sekali dua minggu, kita ajari cara menulis. Tulisan apa saja, baik puisi, cerpen, dan lainnya. Ini manfaatnya untuk merangsang imajinasi dan daya pikir mereka. Nanti karya mereka akan kami bukukan,” sebutnya.
Kemudian lanjutnya, untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila sekolah secara bertahap menanamkan karakter siswa yang memahami keanekaragaman etnis, ras dan agama. Pemahaman ini diharapakan dapat menjauhkan siswa dari sikap kenakalan remaja seperti tawuran dan lainnya.
Menurutnya, siswa boleh bersaing dengan sekolah lain, tapi persaingan yang berkompetisi. Menanamkan rasa toleransi seperti ini, pihaknya sekolah mulai membangun hubungan person to person antara guru dan siswa.
Banyak cara yang dilakukan dalam mendekatkan guru dan siswa, salah satunya pihak sekolah membudayakan sambutan pagi. Saat masuk sekolah, baik guru, osis, petugas piket sekolah akan menyalami siswa yang datang.
Dengan cara ini, guru dan siswa akan saling mengenal. Ini juga strategi untuk mendeteksi penampilan siswa, seperti kerapian pakaian, rambut dan lainnya.
“Jika ditemukan siswa yang tak rapi atau tidak sesuai aturan disiplin sekolah, kami tidak mengutamakan sanksi. Namun mengutamakan pendidikan. Mereka kami tanya dari hati ke hati, apa persoalan mereka dan kita carikan solusi yang baik. Intinya disiplin tetap, namun secara halus kami masukkan nasehat-nasehat,” ucapnya.
Untuk siswa berprestasi, sekolah akan memberi reward secara moral dan finansial. “Seperti ada tiga siswa kami yang lulus ke tingkat provinsi, kami foto dan kami pajang spanduk mereka, kami buat mereka bangga sebagaimana bangganya kami kepada mereka. Ini dukungan moral, sedangkan finansial seperti bebas biaya SPP atau banyak juga alumni yang mensupport biaya pendidikan mereka,” sebutnya.
Segi peningkatkan pengetahuan dan kecerdasan, sekolah akan membina siswa untuk mengikuti lomba-lomba. Sekolah menyiapkan guru-guru yang melatih siswa. Sekolah juga akan berkerja sama dengan berbagai lembaga melatih siswa untuk menghadapi dunia luar, dunia usaha atau perguruan tinggi.
“Selain itu, sekolah juga terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa dengan meningkatkan sarana dan prasarana modern. Sarana olahraga, kesenian untuk siswa terus dilengkapi,” ujar Mustapa.(Putra Susanto, PADANG EKSPRES) Editor : Novitri Selvia