Di zaman yang kemajuan teknologi dibilang sangat pesat ini, Hp bukan lagi barang yang langka atau mewah. Hp sudah menjadi kebutuhan bahkan gaya hidup masyarakat.
Mulai dari anak-anak sampai orang tua, pada umumnya memiliki Hp.
Mulai dari yang biasa dan tanpa kamera, hingga Hp yang canggih, android atau Iphone yang memiliki fitur atau aplikasi yang komplit.
Fenomena penggunaan Hp di kalangan siswa saat ini sudah cukup memprihatinkan. Dimana-mana, pemandangan siswa yang memegang dan memainkan Hp sudah tidak asing lagi kita lihat.
Di jalan, ketika mengobrol dan sambil menunggu angkot atau jemputan, di dalam angkot atau mobil, di pasar, di mall, bahkan di sekolah. Ketika sedang makan atau beristirahat, ketika pergantian jam, menunggu guru masuk kelas pun, Hp tak lepas dari genggaman.
Jika dikaitkan dengan minat belajar, ternyata melihat dan menggunakan Hp jauh lebih menarik ketimbang melihat dan membaca buku-buku pelajaran. Hal ini disebabkan oleh fitur dan aplikasi di dalam Hp yang membuat mereka selalu ingin memainkan atau menggunakannya.
Murahnya paket-paket internet yang ditawarkan, menambah kemudahan untuk chatting dan berinteraksi atau membuat konten di media sosial, seperti tiktok, facebook, instagram, twitter, line, path, whatsapp, dll.
Mereka dengan mudahnya mengakses internet, browsing dan upload gambar dan video dengan bebas tanpa kontrol dari orang tua atau guru.
Sehingga dari mulanya hanya sekedar iseng seperti melihat foto atau video porno, akhirnya menjadi ketagihan, bahkan “mencobakannya” langsung kepada pacar atau teman atau bahkan orang lain baik secara paksa ataupun sukarela.
Ironis sekali, Hp yang seyogyanya digunakan untuk yang positif sudah ternodai oleh hal-hal yang negatif tersebut. Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi pola pikir dan konsentrasi seorang siswa. Konsentrasi belajar akan berkurang, minat belajarpun menurun. Mereka menjadi malas untuk berfikir dan belajar.
Tanda-tanda umum kecanduan internet juga dipaparkan oleh Stephen Juan, Ph.D, seorang Antropolog di University of Sydney, di antaranya adalah bisa lupa waktu, muncul gejala-gejala penarikan diri, seperti perasaan stress, kecemasan, kegelisahan, mudah tersinggung, bergetar, menggigil, gerakan mengetik tanpa sadar, obsesif, hingga berkhayal atau bermimpi mengenai internet. Bisa mengurangi kegiatan penting, baik dalam pekerjaan, sosial atau rekreasi.
Penggunaan Hp yang berlebihan tentu saja tidak baik bagi pelajar. Perlu kesadaran diri dari pelajar untuk menggunakan Hp sebatas wajar dan sesuai dengan kebutuhan.
Seperti untuk kebutuhan komunikasi dengan keluarga dan teman atau mencari materi pembelajaran melalui internet. Bahkan pembuatan tugas juga bisa difasilitasi dengan menggunakan aplikasi di internet.
Tapi jangan sampai penggunaan Hp menyebabkan disiplin menurun. Sibuk memainkan game atau berinteraksi di media sosial juga mengakibatkan lupa waktu, lupa sholat, makan dan belajar, tentu saja akan berdampak terhadap kesehatan mata dan prestasi belajar mereka.
Mungkin salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh seorang guru adalah dengan memperketat penggunaan Hp di sekolah melalui razia terhadap Hp kamera yang dimiliki oleh siswa.
Lalu penggunaan Hp mungkin hanya boleh digunakan jika dan hanya diperlukan di dalam kelas terkait dengan pelajaran dan itu harus dalam pengawasan guru. Orangtua juga tidak kalah penting peranannya untuk mengontrol penggunaan Hp.
Perlu pendekatan dari seorang guru dan orang tua kepada anak mereka. Terutama anak yang sudah mulai menginjak usia remaja agar memberikan pengertian dan meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya teknologi yang mungkin tidak bisa kita bendung pengaruhnya, tetapi mungkin bisa diminimalkan.
Selain itu dengan cara meningkatkan keimanan mereka dengan salat lima waktu (bagi muslim), serta penguatan program 18-21, menggiatkan kembali wirid remaja atau kegiatan positif lainnya seperti pramuka, PMR, beladiri dan sebagainya.
Dengan bekal nilai-nilai agama dan mawas diri, diharapkan bisa mencegah dari hal–hal yang buruk yang bisa menyebabkan kerusakan moral dan turunnya prestasi belajar siswa.
Dengan demikian, diharapkan anak anak kita menjadi peserta didik yang cerdas, berprestasi dan memiliki Profil Pelajar Pancasila yang digadang–gadang saat ini. Semoga.(Arlina, S.S, M.Pd, GURU SMPN 33 PADANG) Editor : Novitri Selvia