PADEK.JAWAPOS.COM-Guru merupakan orang yang digugu dan ditiru. Filosofi itu sudah menjadi santapan dan ucapan kita dalam keseharian. Apakah kita tau apa arti dari ungkapan tersebut ?
Digugu artinya dipercaya, dipatuhi. Setiap ucapan, nasihat, dan tutur kata seorang guru harus bisa dipercaya dan dipatuhi oleh siswa. Kata ditiru artinya diikuti, dicontoh, diteladani.
Menjadi seorang guru ternyata tidak segampang yang diucapkan tetapi menjadi seorang guru merupakan beban yang sangat berat yang harus kita pikul.
Bisa kita bayangkan, guru adalah orang yang bisa dipercaya dan dipatuhi oleh setiap siswanya dan juga menjadi contoh dan teladan ditengah – tengah para siswa dan lingkungannya.
Di era yang semakin canggih dan zaman yang semakin modern peran dari seorang guru sebagai pendidik menjadi sangat – sangat penting karena sebagai pendidik guru harus mampu membentuk karakter dan membuat para peserta didiknya menjadi peserta didik yang memiliki akhlak dan perilaku yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Kalau untuk mengajar, di era digitalisasi sekarang ini seorang guru sangat terbantu sekali. Apalagi sudah banyaknya platform dan website serta aplikasi - aplikasi yang menyediakan proses pembelajaran secara online baik itu gratis maupun yang berbayar.
Guru bisa saja memberikan tugas dan latihan dan peserta didik bisa menemukan secara cepat dengan bantuan teknologi modern sekarang ini. Sangat berbeda dengan peran guru sebagai seorang pendidik.
Tugas ini merupakan tugas yang sangat berat yang dirasakan guru. Hal ini disebabkan karena peserta didik sekarang sudah terbiasa dengan yang namanya Handphone (HP).
Telepon genggam yang sudah menjadi kebutuhan dan dimiliki oleh setiap peserta didik tersebut menjadikan suatu faktor yang membuat para guru menjadi kewalahan dalam membentuk karakter peserta didiknya.
Apapun yang ingin dilihat oleh peserta didik sudah bisa mereka lihat di telepon genggamnya. Baik itu yang baik maupun yang tidak baik sehingga otak peserta didik sekarang ini sudah diracuni oleh yang namanya telepon genggam.
Racun yang disebarkan oleh telepon genggam tersebut lebih parah dibandingkan dengan narkoba sekalipun karena kecanduan narkoba masih bisa direhabilitasi sedangkan kecanduan telepon genggam itu tidak ada obatnya kecuali dirinya sendiri.
Di sinilah peran penting kolaborasi antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan. Ketika guru membolehkan peserta didiknya bermain HP untuk belajar maka orang tua selalu mengontrol dan membatasi waktu bermain anaknya bersama telepon genggamnya itu.
Jangan biarkan anak bermain HP tanpa ada pengawasan dan batasan waktu yang ditetapkan. Setiap kali anak selesai bermain HP seharusnya orang tua melihat kembali apa yang telah dilihatnya di telepon genggam tersebut.
Orang tua harus pintar dan harus bijak di era yang semakin canggih ini. Janga biarkan anak–anak kita bermain keasyikan tanpa adanya kontrol dari kita sebagai orang tua.
Semoga kelak anak–anak kita menjadi anak yang bisa membanggakan orang tuanya, membanggakan kampung halamannya dan membanggakan nusa, bangsa dan agamanya. Aamiin. (Muhammad Arief, S.Pd.SD, GURU UPTD SDN 01 BALAIPANJANG)
Editor : Novitri Selvia