PADEK.JAWAPOS.COM-Pagi ini, tepatnya pada 21 April 2025, seiring dengan diperingatinya Hari Kartini, mari kita menelisik lebih dalam bagaimana warisan perjuangan Raden Ajeng Kartini, dalam pendidikan dan emansipasi yang telah menginspirasi zamannya dan terus relevan hingga kini.
Di bumi Sumatera Barat yang kaya akan budaya Minangkabau dan tradisi matrilineal ini, peringatan Hari Kartini menjadi momen refleksi mendalam tentang sejauh mana kita, perempuan di Ranah Minang, telah merajut kesetaraan di berbagai lini kehidupan, sembari memegang teguh identitas luhur kita.
Sebagai bagian dari budaya Minangkabau dengan sistem kekeluargaan yang matrilineal, kita merasakan posisi unik yang diberikan kepada perempuan. Sebagai perempuan di Minangkabau, kita adalah Bundo Kanduang, sosok sentral dalam keluarga dan pewaris harta pusaka.
Namun, kita juga menyadari bahwa posisi ini tidak secara otomatis menghilangkan segala bentuk ketidaksetaraan. Warisan Kartini mengingatkan kita bahwa kesetaraan bukan hanya tentang posisi dalam adat, tetapi juga tentang kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, partisipasi publik, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi.
Kita bangga melihat bagaimana perempuan Minangkabau yang meraih kemajuan di berbagai bidang, justru semakin memperkuat esensi peran tradisional kita, menjunjung tinggi etika, harga diri, dan sifat santun yang melekat sebagai seorang anak kemenakan, Bundo Kanduang, dan Limpapeh Rumah Nan Gadang.
Dalam dunia pendidikan, kita melihat sendiri bagaimana perempuan Sumatera Barat telah menunjukkan kemajuan yang membanggakan. Jumlah kita yang mengenyam pendidikan tinggi terus meningkat, bahkan tak jarang mendominasi di beberapa bidang studi.
Kita percaya bahwa mendorong perempuan muda untuk berani memilih bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) serta memberikan dukungan bagi mereka untuk meraih pendidikan setinggi mungkin adalah wujud nyata meneruskan cita-cita Kartini.
Namun, kemajuan ini tidak membuat kita melupakan akar budaya kita. Sebagai anak kemenakan, kita tetap menghormati nilai-nilai kekeluargaan dan tata krama yang diwariskan.
Pendidikan tinggi justru memperkaya wawasan kita untuk menjadi Bundo Kanduang yang lebih bijaksana, mampu mendidik generasi penerus dengan landasan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai luhur Minangkabau. Kita berusaha menjadi teladan, menunjukkan bahwa intelektualitas dan kesantunan dapat berjalan seiring.
Di ranah pekerjaan, kita, perempuan Sumatera Barat, merasakan peran ganda yang seringkali menantang. Kita aktif dalam berbagai sektor ekonomi, dari menjadi pengusaha sukses dengan produk-produk UMKM yang mendunia, hingga menjadi profesional di berbagai bidang.
Semangat maota (berdagang) yang melekat pada budaya Minang juga menjadi modal bagi kemandirian ekonomi kita. Keberhasilan kita di dunia kerja tidak lantas membuat kita kehilangan sifat santun dan harga diri sebagai perempuan Minang.
Kita berusaha membangun relasi profesional dengan tetap menjaga etika dan integritas. Sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang, kemandirian ekonomi ini justru memperkuat peran kita sebagai pengelola rumah tangga yang tangguh dan mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi kesejahteraan keluarga dan komunitas.
Dalam keluarga dan masyarakat di Sumatera Barat, kita memegang peran yang sangat vital. Kita adalah penjaga nilai-nilai budaya dan penggerak utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Kita melihat keterlibatan perempuan dalam musyawarah dan pengambilan keputusan di tingkat nagari (desa adat) semakin diakui. Organisasi-organisasi perempuan di Sumatera Barat aktif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, memberikan pendampingan, dan memberdayakan komunitas.
Ini adalah bukti bahwa semangat Kartini untuk berorganisasi dan menyuarakan aspirasi terus tumbuh subur di antara kita, selaras dengan kodrat kita sebagai Bundo Kanduang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Kita berusaha membawa nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan kearifan dalam setiap interaksi sosial. Sebagai perempuan Minangkabau yang maju dengan pendidikan dan karier, kita tetap memegang teguh identitas kita sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang.
Kita berusaha menyeimbangkan antara tuntutan profesional dan tanggung jawab keluarga. Kekuatan kita terletak pada kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.
Kita ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda, menunjukkan bahwa perempuan dapat meraih impian setinggi langit tanpa tercerabut dari akar tradisinya.
Peringatan Hari Kartini di Sumatera Barat pada tahun 2025 ini adalah momentum bagi kita untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga untuk mengevaluasi langkah-langkah konkret yang telah dan perlu dilakukan. Semangat Kartini adalah panggilan bagi kita untuk terus bergerak maju, merajut kesetaraan di setiap aspek kehidupan.
Kita, perempuan Sumatera Barat, memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan, membawa inovasi, dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan daerah dan bangsa, dengan tetap menjunjung tinggi etika, harga diri, dan sifat santun sebagai perempuan Minangkabau.
Satu harapan, mari kita bergandengan tangan untuk mewujudkan cita-cita Kartini. Dengan pendidikan yang berkualitas, kesempatan kerja yang setara, partisipasi aktif dalam pembangunan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi, kita dapat membangun Sumatera Barat yang lebih adil, makmur, dan berkeadaban.
Semangat Kartini akan terus membimbing langkah kita menuju masa depan yang lebih gemilang bagi seluruh perempuan di Ranah Minang, yang maju tanpa kehilangan jati diri sebagai anak kemenakan, Bundo Kanduang, dan Limpapeh Rumah Nan Gadang. (Zahratil Husna, GURU SMPN 30 PADANG)
Editor : Novitri Selvia