PADEK.JAWAPOS.COM-Belajar merupakan suatu proses yang menghasilkan perubahan dalam hal memperoleh pengetahuan dan perubahan tingkah laku peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya.
Namun perubahan tersebut bukan hanya diperoleh dari pendidik saja yang berperan menstrasfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, akan tetapi dapat diperoleh dari lingkungan.
Seperti falsafah minang kabau mengatakan “ Alam Takambang Menjadi Guru”. Secara harfiah, artinya segala unsur yang terbentang luas di alam dapat dijadikan ilmu.
Terkait dengan keberhasilan belajar yang diperoleh oleh peserta didik, tentunya tidak terlepas dari unsur-unsur pendukungnya. Salah satunya adalah membudayakan literasi.
Definisi literasi bukan hanya mencakup membaca dan menulis saja. Literasi itu mencakup segala aspek yang terdiri dari mengidentifikasi, memahami, megartikan, menciptakan, mengomunikasikan, menghitung.
Salah satu lemahnya budaya literasi di sekolah, karena kurang memaknai literasi itu sendiri. Literasi dianggap hanya membaca dan tulis. Unsur-unsur literasi secara keseluruhan terdiskripsi dalam ilmu pengetahuan yang teruji kebenarannya (SAINS), atau dikenal dengan IPA.
Literasi sains erat kaitannya pada kajian IPA. Untuk pempelajari kajian IPA tersebut perlu pemahaman yang penuh, dan tidak terlepas dari kemampuan peserta didik menggunakannya.
Selama ini, banyak peserta didik beranggapan pelajaran IPA berupa hafalan tidaklah benar, karena pada prinsipnya pelajaran IPA pemahaman terhadap konsep materi dan melatih berpikir untuk menjawab masalah yang ada di lingkungan alam.
Sangatlah tepat kiranya menumbuhkan literasi sains dengan pendekatan saintifik yang berorentasi pada prinsip ilmiah, literasi sains terwujud dalam membiasakan peserta didik bernalar menjawab permasalahan ‘Bagaimana dan Mengapa”.
Sebetulnya implementasi literasi sains sederhana saja, diantaranya dengan mengenalkan lingkungan alam dan mengidentifikasinya serta menyimpulkan secara cermat hasil pengamatan kuantitas yang dilakukan.
Pembelajaran langsung yang diperoleh peserta didik dapat meningkatkan kemampuan literasinya sains. Guru bebas menentukan ruang gerak pembelajaran yang dilakukan peserta didikpun dapat mengekspresikan potensi belajarnya secara maksimal melalui lierasi sains.
Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasikan pertanyaan, menjelaskan fenomena ilmiah, serta menyimpulkan berdasar fakta yang berkenaan dengan alam.
Menumbuhkan literasi tepat kiranya dalam memulihkan kondisi pembelajaran di masa pandemi. Selama pandemi peserta didik terlena dengan suatu kekakuan dalam belajaran daring.
Litetasi yang lemah semasa pandemi ini menyebabkan permasalahan dalam pendidikan. Untuk itu perlu suatu gebrakan yang fundamental secara menyeluruh pada semua komponen yang berperan dalam pendidikan.
Kemudian langkah lain dalam menumbuhkan literasi sains di sekolah adalah mengimplementasikannya dalam pembelajaran di sekolah dalam bentuk nyata.
Peserta didik bukan hanya sekedar membaca dan menyimpulkan bacaan saja, tapai bagaimana literasi yang dilakukan itu bermakna.
Membudayakan literasi sains, misalnya melatih peserta didik untuk menulis dalam penulisan karya ilmiah di sekola. Terwujudnya litersi sains dalam bentuk nyata, tentunya akan memunculkan pemikir-pemikir yang andal yang dapat menjawab tantangan zaman.
Literasi sains belum teraktualisasi secara menyeluruh. Salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya minta baca peserta didik. Apalagi pada masa masih pandemi ini, mereka terlena dengan pembelajaran yang tidak ada umpan baliknya pada pembelajaran daring.
Selama pandemi yang berkepanjangan, alat dan sarana di sekolah seperti “rumah tak bertuan”. Laboratorium IPA dan perpustakaan tidak terjamah. Untuk itu perlu pemanfaatan kembali secara optimal.
Perpustakaan sebagai ujung tombak dalam melaksanakan literasi sains. Untuk itu perlu peningkatan pemanfaatan perpustakaan oleh peserta didik sebagai sumber belajar, terutama melakukan pembelajaran sains.
Banyak benturan-benturan dalam permasalahan literasi, baik pada literasi sains maupun pada literasi mata pelajaran laiinya. Lemahnya komunikasi verbal dari peserta didik merangkum suatu konsep pemahaman fenomena alam.
Di sinilah peranan pendidik berupaya mengoptimalkan kemampuan kecakapan berkomunikasi peserta didik dengan membiasakan untuk berkomunikasi ,menyampaikan ide-ide yang kreatif.
Melatih mereka menyampaikan transfer ilmu yang telah diperoleh dengan bahasa sendiri. Berikanlah ruang gerak bagi mereka untuk berekspresi dengan alam pikiran sendiri.
Dengan memberikan pertanyaan yang menantang untuk memancing berpikir kritisnya peserta didik. Oleh sebab itu, penerapan literasi sains harus diimbangi dengan prinsip ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik agar mampu menjawab permasalahan alam dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Literasi sains dalam kajian IPA memegang peranan yang sangat penting. Pembelajaran IPA merupakan rohnya literasi sains, karena untuk mencapai keberhasilan kajian IPA tersebut membutuhkan kemampuan literasi sains.
Berdasarkan penjabaran di atas, seyogyanyalah pendidik harus mampu menumbuh kembangkan kemampuan literasi sains peserta didik di sekolah agar berdaya guna nantinya untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Namun bukan hanya di pembelajaran IPA saja yang menjadi sasarannya, berharap juga kecakapan literasi terintegrasi pada semua mata pelajaran. Mudah-mudahan dalam era globalisasi ini, secara perlahan, permasalah dalam pendidikan dapat terselesaikan sesuai dengan harapan bangsa. (Irma Yenni, M.Pd, GURU SMPN 5 PADANG)
Editor : Novitri Selvia