Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 30 Padang, Guru Sebagai Penjaga Ranah Minang

Novitri Selvia • Senin, 20 Oktober 2025 | 07:30 WIB
ANTUSIAS: Para siswa SMPN 30 Padang terlihat antusias dalam kegiatan berbudaya Minang.
ANTUSIAS: Para siswa SMPN 30 Padang terlihat antusias dalam kegiatan berbudaya Minang.

PADEK.JAWAPOS.COM-Pendidikan adalah investasi karakter. Di Ranah Minang, investasi itu tidak boleh lepas dari akarnya: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Dalam semangat Kurikulum Merdeka yang memberikan otonomi penuh kepada guru dan sekolah, momentum ini harus kita tangkap untuk menjadikan sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga baleh (balai) tempat menumbuhkan identitas ke-Minangan sejati.

Kurikulum Merdeka muncul membawa janji fleksibilitas, membuka ruang bagi satuan pendidikan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, tantangan terbesar kita di Sumatera Barat bukan lagi sekadar mengajarkan matematika atau sains, tetapi bagaimana memastikan generasi muda kita tetap teguh sebagai anak nagari yang bangga dengan budayanya.

Inilah mengapa program seperti ‘Minang Day’ (atau nama sejenisnya yang mengintegrasikan budaya lokal) harus kita maknai sebagai jantung implementasi kurikulum.

Konsep yang diusung Kurikulum Merdeka adalah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Pembelajaran jenis ini berbeda dari sekadar menghafal.

Ia berfokus pada pemahaman yang utuh, kemampuan menghubungkan antar-konsep, dan yang terpenting, penerapan ilmu dalam kehidupan nyata.

Bagaimana Pembelajaran Mendalam bisa terwujud melalui “Minang Day”? (1) Koneksi Nyata: Ketika guru Sejarah tidak hanya mengajarkan materi tentang sistem Ninik Mamak, tetapi juga mengundang datuak (pemangku adat) ke sekolah untuk berdialog langsung dengan siswa, pemahaman yang terjadi akan jauh lebih dalam.

Siswa tidak sekadar tahu, tapi merasakan urgensi dan peran tokoh adat. (2) Keterampilan Abad 21 dalam Konteks Lokal: Pembelajaran mendalam mendorong siswa menguasai 6C (Communication, Collaboration, Critical Thinking, Creativity, Citizenship, dan Character).

Bayangkan tugas kolaborasi yang mengharuskan siswa mendesain ulang rumah gadang secara digital (Creativity, Digital Literacy) atau menulis naskah drama tentang filosofi samba lado (Communication, Critical Thinking). Ini membuat pelajaran menjadi relevan dan bermakna.

(3) Identitas yang Kuat: Dengan menjadikan tradisi sebagai subjek yang dihormati dan dipelajari mendalam, siswa tidak akan lagi merasa bahwa budaya Minang adalah sesuatu yang kuno atau terpisah dari modernitas.

Mereka akan melihatnya sebagai identitas yang kuat dan bekal untuk berinteraksi di dunia luar. Begitu juga dengan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Bagai mana menerapkan Budaya Melalui Tujuh Kebiasaan Harian.

Pembelajaran Mendalam yang berakar pada budaya lokal adalah katalisator untuk menumbuhkan karakter melalui Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang praktis. Implementasi kebiasaan ini dapat diselaraskan dengan nilai-nilai ABS-SBK:

Pertama, Bangun Pagi: Kebiasaan ini mengajarkan disiplin dan menghargai waktu. Dalam konteks Minang, keteraturan ini sejalan dengan filosofi malangkah sairiang, duduak sarato (berjalan seiring, duduk bersama) yang membutuhkan ketepatan janji dan waktu dalam kehidupan komunal.

Guru dapat menekankan bahwa kedisiplinan pagi hari berkontribusi pada kualitas hidup yang lebih baik.

Dua, Beribadah: Kebiasaan ini adalah fondasi moral yang sejalan dengan Syarak Basandi Kitabullah. Sekolah menguatkan hubungan spiritual dan moral ini melalui program Subuh Berjamaah atau Wirid Remaja. Praktik ini membentuk kepribadian yang baik dan berakhlak mulia.

Tiga, Berolahraga: Menjaga kesehatan fisik dan mental serta mengembangkan ketahanan dan disiplin. Di “Minang Day,” olahraga bisa dikaitkan dengan permainan tradisional yang menumbuhkan kebersamaan dan kegembiraan.

Empat, Makan Sehat dan Bergizi: Kebiasaan ini selaras dengan ajaran untuk bersyukur dan merawat diri. Guru dapat mengaitkan pengetahuan gizi dengan kekayaan kuliner Minangkabau yang sebenarnya penuh nutrisi, mengajarkan siswa hidup sehat dan seimbang sesuai tradisi.

Lima, Gemar Belajar: Mendorong pertumbuhan pemahaman yang baik. Nilai Alam Takambang Jadi Guru mengajarkan bahwa pembelajaran terjadi di mana saja. Tugas guru adalah memastikan rasa ingin tahu siswa terfasilitasi, membuat mereka melihat segala fenomena alam dan sosial sebagai sumber ilmu.

Enam, Bermasyarakat: Kebiasaan ini mengajarkan nilai-nilai sosial dan kepedulian, yang dalam budaya Minang diwujudkan melalui semangat badoncek (gotong royong) dan sikap salingka nagari (peduli lingkungan sekitar).

Sekolah menjadi miniatur masyarakat yang mendorong siswa untuk aktif berinteraksi dengan santun.

Tujuh, Tidur Cepat: Mendorong konsentrasi yang optimal dan kesehatan. Kebiasaan ini mendukung kesiapan siswa dalam menjalankan rutinitas, termasuk saat harus Bangun Pagi untuk Beribadah dan ke sekolah, sehingga mereka dapat menyerap pelajaran secara maksimal.

Momentum Guru Merancang Kurikulum Sendiri Pada akhirnya, keberhasilan “Minang Day” dan Pembelajaran Mendalam sangat bergantung pada kemampuan guru sebagai perancang kurikulum di tingkat mikro.

Fleksibilitas Kurikulum Merdeka bukanlah alasan untuk bekerja lebih santai, melainkan panggilan untuk menjadi lebih kreatif, reflektif, dan kolaboratif.

Guru harus berani keluar dari zona nyaman buku teks, bekerjasama dengan komunitas adat, dan merancang skenario pembelajaran yang menantang siswa untuk mempraktikkan budaya mereka, bukan sekadar menghafalnya.

Dengan cara inilah, kita memastikan bahwa generasi muda Minang tidak hanya mahir secara akademis, tetapi juga utuh dalam karakter dan bangga menjadi bagian dari Ranah Minang.

Jika sekolah kita bisa menjadi pusek jalo, pumpunan banda (pusat kegiatan dan rujukan) bagi pelestarian adat dan budaya, maka kita telah berhasil mengukir Anak Indonesia Hebat yang berpijak kuat di bumi Minangkabau.(Zahratil Husna, GURU SMPN 30 PADANG)

Editor : Novitri Selvia
#SMP Negeri 30 Padang #Penjaga Ranah Minang #Zahratil Husna #ABS-SBK