Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

PAI SD Negeri 02 Pampangan, Berterimakasih pada Diri Sendiri

Novitri Selvia • Senin, 3 November 2025 | 14:15 WIB

Mutya Rielvy, S.Pd.I, GURU SDN 02 PAMPANGAN.
Mutya Rielvy, S.Pd.I, GURU SDN 02 PAMPANGAN.

PADEK.JAWAPOS.COM-Kita sering kali begitu mudah mengirim doa terbaik untuk orang lain. Kita panjatkan Al-Fatihah untuk orang tua, kita ucapkan “semoga lekas sembuh” untuk teman, dan kita ucapkan “semoga bahagia” untuk orang-orang yang bahkan tak lagi hadir dalam hidup kita.

Namun, di antara banyaknya doa itu, adakah satu doa untuk diri sendiri? Kita lupa, bahwa diri ini juga pernah terluka, berjuang, dan bertahan.

Bahwa tubuh ini pernah menanggung lelah luar biasa hanya untuk tetap bisa tersenyum. Bahwa hati ini pernah memaafkan begitu banyak hal tanpa pernah dimintai maaf. Bahwa pikiran ini pernah nyaris menyerah, tapi tetap memilih untuk bangun dan melanjutkan hidup.

Kadang, kita terlalu sibuk menjadi kuat untuk orang lain. Sibuk tersenyum agar tak ada yang tahu kita sedang lelah. Sibuk menyemangati, padahal di dalam dada sendiri ada bagian yang nyaris runtuh.

Kita terbiasa memberi waktu, tenaga, bahkan cinta untuk orang lain namun lupa, diri ini juga butuh dipeluk dan disyukuri. Mungkin sudah saatnya kita belajar berkata:

“Terima kasih, diriku...” Terima kasih karena sudah kuat sejauh ini. Terima kasih karena tetap bertahan meski dunia sering kali tidak berpihak. Terima kasih karena tak berhenti berusaha menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri.

Kadang, diri ini tak butuh banyak hal, hanya butuh bersandar sejenak. Dari hiruk pikuk dunia yang menuntut lebih, dari suara orang-orang yang tak henti menilai dan berkomentar, dari luka-luka yang terus mengintip dalam kenangan.

Kita tak sedang menolak takdir, hanya ingin rehat sejenak untuk menata ulang hati yang sempat berantakan, dan mengisi ulang energi agar kembali bisa menghadapi hari esok dengan senyuman.

Namun di balik semua perjuangan itu, kadang ada satu hal yang luput kita sadari, kita terlalu sibuk merasa bersalah kepada manusia takut menyinggung, takut disalahpahami, takut dikira salah langkah.

Padahal, pernahkah kita merasa bersalah di hadapan Allah? Dia yang setiap hari menutupi aib kita, memberi rezeki di tengah lalai, menenangkan hati di saat manusia menjauh.

Kadang, kita terlalu keras pada diri sendiri. Merasa belum cukup baik, belum cukup kuat, belum cukup berhasil. Padahal, Allah tidak menilai hasil sebesar itu. Dia menilai ketulusan dan kesungguhan kita di setiap proses.

Allah tidak pernah meminta kita menjadi sempurna. Dia hanya ingin kita istiqamah, tetap berjalan walau pelan, tetap berusaha walau lelah, tetap berharap walau sering kecewa.

Dan kadang, salah satu bentuk syukur terbaik adalah dengan menghargai diri sendiri, karena itu juga bagian dari menghargai ciptaan Allah. Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu berbisik pada diri sendiri: “Terima kasih diriku, sudah bertahan sejauh ini.”

Istiqamah memang tak selalu tampak besar. Ia bisa sesederhana menahan diri dari keluh kesah, mencoba bangkit setelah jatuh, atau sekadar tetap menjalani hari dengan niat baik meski hati penuh luka. Allah melihat itu.

Bahkan, ketika dunia tidak mengerti, Allah tahu persis betapa berat langkah yang sedang kita perjuangkan. Berterima kasih bukan sekadar ucapan lembut, tapi juga pengakuan bahwa diri ini sudah berjuang keras.

Ia adalah bentuk penghargaan atas setiap luka yang diterima dengan sabar, atas setiap air mata yang jatuh tanpa keluhan, dan atas setiap langkah kecil yang diambil meski dalam ketidakpastian.
Kadang, diri ini menanggung terlalu banyak beban kehidupan.

Hati tersinggung karena ucapan dan tingkah seseorang, namun tetap memilih diam agar tidak menyakiti balik. Perasaan belajar memaklumi segala khilaf orang lain, padahal diri sendiri jarang dimaklumi.

Mata menangis karena kebohongan dan pengkhianatan seseorang, tangan tersalah berbuat karena niat baik yang disalahpahami, kaki lelah melangkah menuju tempat yang diinginkan, bahkan pikiran penuh karena tanggung jawab yang berat dan pengorbanan yang tak dihargai.

Kita sering berjanji kepada manusia: “Aku nggak akan mengulanginya lagi.” Tapi kepada Allah, berapa kali kita benar-benar menepati janji itu?

Dosa yang sama, kebiasaan yang sama, bahkan kelalaian yang sama, sering kita ulang tanpa ragu. Sementara Allah tak pernah berhenti menunggu kita kembali, dengan kasih sayang yang tak bersyarat.

Maka hari ini, sempatkanlah berterima kasih pada diri sendiri. Atas segala luka yang dihadapi tanpa banyak bicara. Atas semua sabar yang ditumbuhkan dalam diam.

Atas air mata yang tak terlihat siapa pun, tapi selalu disaksikan oleh Allah. Karena sejatinya, berterima kasih pada diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan — melainkan bentuk syukur yang paling tulus.

Syukur bahwa hingga hari ini, diri ini masih mau berjuang, masih percaya bahwa setiap lelah akan bermakna, dan setiap air mata tidak pernah sia-sia di sisi-Nya. “Terima kasih, diri. Telah sabar di jalan panjang menuju Ridha-Nya”.(Mutya Rielvy, S.PdI, GURU PAI SDN 02 PAMPANGAN)

Editor : Novitri Selvia
#Berterimakasih pada Diri Sendiri #Mutya Rielvy #SD Negeri 02 Pampangan