PADEK.JAWAPOS.COM-Sebagai guru tentu dapat melihat wajah-wajah murid secara langsung di pagi hari bulan Ramadhan adalah sebuah pengalaman yang selalu menggetarkan hati.
Ada pemandangan yang kontras dan berbeda namun indah. Mata yang sedikit mengantuk karena bangun sahur, bibir yang tampak kering, namun di hadapan mereka, layar digital dan pembelajaran tetap menyala terang dengan buku-buku catatan tetap terbuka lebar di depan mata diatas meja.
Di momen inilah saya menyadari bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat transfer materi pelajaran, melainkan sebuah medan tempur yang sunyi tempat logika dan iman bertemu dalam perjuangan menimba ilmu.
Keteguhan Jiwa terlihat anak-anak didik saya duduk rapi menghadap layar monitor.
Kami sedang membedah materi yang cukup menguras logika mungkin itu deret algoritma angka, perhitungan, persiapan menyambut dan menyongsong akan datangnya Tes Kemampuan Akademik.
Di hari biasa, materi ini saja sudah cukup membuat kening berkerut. Namun, hari ini situasinya berbeda. Mereka mengerjakannya tanpa asupan, tanpa tegukan, dan tanpa camilan di meja.
Di sinilah logika diuji oleh fisik, secara logika manusiawi, tubuh yang kekurangan glukosa akan sulit berkonsentrasi.
Namun, ada kekuatan lain yang bekerja di sana sebuah dorongan iman yang membisikkan bahwa mencari ilmu adalah bagian dari ibadah.
Saya melihat seorang murid yang sempat menyandarkan kepalanya sejenak di meja, lalu sedetik kemudian ia tegak kembali, jemarinya kembali menari di atas keyboard.
Itu bukan sekadar ketangkasan motorik tetapi adalah manifestasi dari pengendalian diri yang diajarkan oleh puasa.
Layar Digital Penggunaan teknologi di ruang kelas selama Ramadhan memberikan dimensi tersendiri. Cahaya monitor memantul di wajah mereka.
Di satu sisi, teknologi merepresentasikan kecepatan, efisiensi proses pembelajaran, dan logika dunia modern yang serba instan.
Di sisi lain, puasa adalah tentang perlambatan, kesabaran, dan proses batiniah yang mendalam dalam kekuatan keimanan.
Saya tidak hanya melihat murid yang sedang belajar menjadi petarung logika.
Saya melihat jiwa-jiwa yang sedang belajar menjadi manusia yang utuh. Logika mereka dipaksa bekerja tajam untuk menyelesaikan tugas, sementara iman mereka bekerja lembut untuk menjaga lisan dari keluhan dan menjaga hati dari rasa malas.
Ruang kelas ini menjadi saksi bahwa kecerdasan intelektual tidak harus berseberangan dengan ketaatan spiritual.
Justru, Ramadhan kali ini menjadi “laboratorium” terbaik untuk membuktikan bahwa iman adalah bahan bakar bagi logika yang mulai meredup karena rasa lelah.
Sebagai guru, saya pun merasakan ujian yang sama. Menjelaskan materi di depan kelas dengan tenggorokan yang mulai terasa adalah tantangan tersendiri.
Namun, setiap kali saya melihat antusiasme mereka, rasa haus itu seolah menguap. Ada semacam ikatan batin yang kuat antara guru dan murid di bulan ini.
Kami sedang berada di “perahu” yang sama, mengarungi samudra ilmu sambil menjaga kemudi ibadah agar tidak karam.
Bagi saya, keberhasilan mengajar di bulan Ramadhan bukan diukur dari berapa banyak soal yang mereka jawab dengan benar, melainkan dari bagaimana mereka tetap menjaga integritas dan semangat di tengah keterbatasan fisik.
Ruang kelas ini telah bertransformasi menjadi tempat suci perjuangan , tempat dimana logika pelajaran sembari penguat doa-doa dalam hati.
Mereka telah membuktikan bahwa logika dan iman bukanlah dua kutub yang saling menjauh, melainkan dua sayap yang membuat mereka mampu terbang lebih tinggi, bahkan di saat raga sedang lemah-lemahnya.
Ramadhan di kelas adalah sebuah pembelajaran. Pembelajaran tentang perjuangan muda yang sedang belajar bahwa untuk mengejar cahaya masa depan, terkadang mereka harus melewati ujian gelapnya rasa lapar dengan lentera iman yang tetap menyala di dada. (Rahmad Saleh, S.Pd, GURU SDN 31 PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia