PADEK.JAWAPOS.COM - Harvey Mackay pernah mengatakan, “Lakukan apa yang Anda sukai, sukai apa yang Anda lakukan, dan berikan lebih dari yang Anda janjikan.” Bagi seorang guru, setiap tindakan yang dilakukan akan meninggalkan jejak. Jejak yang baik akan menjadi bukti nyata sebuah dedikasi, yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga memberi manfaat luas bagi dunia pendidikan.
Selama 30 tahun mengabdi sebagai guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), penulis meyakini bahwa dedikasi tanpa titik lahir dari cinta, kesabaran, dan komitmen untuk terus memberi. ABK adalah anak-anak yang mengalami hambatan dalam mengikuti proses pembelajaran akibat kondisi tertentu yang mereka alami. Mereka menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), tempat mereka belajar dan berkembang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Mengajar anak-anak pada umumnya saja sudah menjadi tantangan bagi sebagian orang, apalagi mengajar ABK yang memiliki karakteristik beragam. Tantangan tersebut bukan terletak pada kondisi geografis atau kerasnya alam, melainkan pada keunikan setiap peserta didik yang membutuhkan pendekatan berbeda. Di sinilah kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan menjadi kunci utama. Seperti yang dikatakan Yusuf Kalla, kesulitan akan tunduk pada orang yang berjuang, dan kesukaran akan takluk pada mereka yang sabar.
Baca Juga: Persis Solo Kalahkan Semen Padang FC 2-1, Kabau Sirah Makin Terpuruk di Zona Degradasi
Dedikasi seorang guru ABK tidak cukup hanya dengan hadir di depan kelas. Dibutuhkan empati, inovasi, serta keteguhan hati untuk terus berbuat dalam berbagai situasi. “Detik” menjadi simbol perjalanan pengabdian tanpa henti. Setiap detik adalah kesempatan untuk menumbuhkan potensi dan kemandirian peserta didik, tanpa mengenal akhir.
Perjalanan pengabdian ini dimulai ketika penulis diangkat dan ditempatkan di Desa Kubur Harimau, Selayo. Kehadiran penulis disambut hangat oleh masyarakat. Saat itu terdapat sekitar 30 peserta didik, namun kehadiran mereka tidak selalu konsisten. Minat belajar masih rendah karena sebagian besar anak lebih terlibat dalam aktivitas membantu orang tua, seperti menangkap ikan di musim hujan atau mengumpulkan sisa panen saat musim panen tiba.
Kondisi pembelajaran pun masih terbatas. Media belajar bersifat konvensional dan belum mampu mengakomodasi kebutuhan ABK. Buku-buku pengayaan hampir tidak tersedia. Padahal, daerah tersebut kaya akan sumber daya alam. Ibarat pepatah, “ayam mati di atas lumbung padi,” kondisi pendidikan ABK justru berada dalam keterbatasan. Ditambah lagi, pemahaman orang tua terhadap pentingnya pendidikan masih rendah.
Situasi ini menjadi titik awal pemikiran penulis, apa yang bisa dilakukan agar anak-anak ini memiliki kesempatan belajar yang lebih baik? Dari sinilah muncul tekad untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna melalui literasi dan numerasi.
Dengan keterbatasan yang ada, penulis mulai menulis bahan ajar sederhana menggunakan tulisan tangan dan mesin tik. Prosesnya dilakukan secara bertahap, dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan peserta didik, menentukan jenis buku yang sesuai, hingga menulis dan merevisi konten. Berbagai strategi dilakukan, seperti memodifikasi gambar dari majalah, mengadaptasi buku asing, serta mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Pipa PDAM Diperbaiki, Pelayanan Terganggu
Seiring waktu, karya-karya tersebut terus berkembang. Dari yang awalnya manual, kini bertransformasi dengan memanfaatkan teknologi. Penulis mulai menggunakan laptop untuk membuat bahan ajar yang lebih menarik dan relevan. Semangat belajar dan berbagi terus dijaga agar dapat menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan.
Selain menulis bahan ajar, penulis juga aktif menulis berita tentang ABK di berbagai media. Hal ini bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat mereka di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, penulis telah menghasilkan puluhan buku ber-ISBN, baik buku tunggal maupun antologi bersama. Bahkan, beberapa di antaranya telah mendapatkan pengakuan nasional.
Kehadiran buku-buku sederhana tersebut memberikan dampak nyata. Peserta didik menjadi lebih tertarik untuk belajar, kemampuan membaca dan memahami materi meningkat, serta rasa percaya diri mereka tumbuh. Buku-buku ini juga dimanfaatkan oleh guru lain dan mendapat respon positif dari orang tua.
Pada akhirnya, “Detik” bukan sekadar kata, melainkan simbol perjalanan seorang guru yang tak pernah berhenti berkarya. Setiap detik dipenuhi dengan ketulusan, kesabaran, dan cinta bagi anak-anak istimewa. Melalui tulisan, dedikasi ini diharapkan dapat terus hidup dan memberi manfaat.
Karena bagi penulis, mengabdi melalui karya adalah cara untuk mengabadikan kasih dan melalui tulisan,penulis seakan ingin hidup seribu tahun lagi. (Lyfia, Guru SLB Negeri 1 Padang)
Editor : Adriyanto Syafril