Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menumbuhkan Semangat Kartini di Ruang Kelas

Adriyanto Syafril • Jumat, 24 April 2026 | 10:17 WIB
Murid SMPN 1 X Koto foto bersama guru di depan sekolah beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Murid SMPN 1 X Koto foto bersama guru di depan sekolah beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Yuliana Putri, S.Pd - Guru UPT SMPN 1 X Koto

PADEK.JAWAPOS.COM - Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April ini identik dengan peringatan berupa mengenakan kebaya dan pengadaan lomba-lomba tradisional daerah masing-masing.

Namun, peringatan Hari Kartini ini tidak berhenti pada seremonial itu saja, tetapi lebih dari itu. Momen ini kesempatan reflektif bagi dunia pendidikan menanamkan nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini kepada generasi muda.

Nilai yang di maksud diantaranya nilai keberanian, berpikir kritis, dan kemandirian. Nilai-nilai tersebut adalah nilai yang diperjuangkan Kartini yang sangat berperan penting di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Dunia pendidikan  memiliki tanggung jawab lebih besar menghidupkan nilai-nilai Kartini dalam proses belajar sehari-hari. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, nilai-nilai tersebut dapat dihidupkan melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Pendekatan ini tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan murid memahami, merefleksikan, dan mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. 
Dengan demikian, semangat Kartini tidak diajarkan sebagai hafalan sejarah saja, melainkan sebagai nilai yang dialami dan dipraktikkan.

Lalu, bagaimana upaya kita sebagai seorang pendidik dalam menumbuhkan semangat kartini di ruangan kelas? Kenapa harus di ruangan kelas?

Menumbuhkan semangat R.A. Kartini tepat dimulai dari ruang kelas karena di sanalah pola pikir, nilai, dan keberanian seseorang mulai dibentuk sejak dini. Melalui proses pembelajaran, murid dikenalkan pentingnya kesetaraan, keadilan, dan hak memperoleh pendidikan merupakan inti dari perjuangan Kartini.

Ruang kelas juga menjadi lingkungan yang aman bagi murid, terutama perempuan, berani menyampaikan pendapat, bertanya, dan mengekspresikan diri. 
Selain itu, guru berperan sebagai teladan dalam menerapkan sikap adil dan memberi kesempatan yang sama kepada semua murid tanpa memandang jenis kelamin.

Dengan demikian, pendidikan di kelas tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang membentuk karakter. Jika semangat ini ditanamkan sejak sekolah, murid akan tumbuh menjadi generasi yang sadar akan pentingnya pendidikan dan kesetaraan, serta mampu melanjutkan perjuangan Kartini dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu:

Pertama, keberanian dapat ditumbuhkan melalui ruang kelas yang memberi kebebasan berekspresi. Guru perlu menciptakan suasana aman di mana murid berani menyampaikan pendapat, bertanya, bahkan berbeda pandangan.

Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia atau IPS, murid dapat diajak mendiskusikan isu-isu kesetaraan gender atau peran perempuan di lingkungan sekitar. Guru berperan sebagai fasilitator yang menghargai setiap suara, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Di sinilah keberanian intelektual mulai tumbuh.

Kedua, kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan dengan memberikan tantangan kontekstual. Alih-alih sekadar membaca kisah hidup Kartini, murid bisa diajak menganalisis pemikiran beliau melalui karya seperti Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dari sana, murid dapat membandingkan kondisi masa lalu dengan realitas saat ini: apakah perjuangan Kartini sudah tuntas? Apakah masih ada ketimpangan? Kegiatan ini mendorong murid tidak hanya memahami, tetapi juga mengevaluasi dan membangun argumen.

Ketiga, kemandirian dapat diasah melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), yang merupakan salah satu strategi dalam Kurikulum Merdeka.

Misalnya, murid dapat membuat proyek sederhana seperti kampanye literasi tentang peran perempuan di lingkungan sekolah atau masyarakat.

Dalam prosesnya, murid belajar merencanakan, bekerja sama, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil kerjanya. Guru cukup memberikan arahan umum, sementara murid diberi ruang untuk mengeksplorasi ide mereka sendiri.

Pendekatan pembelajaran mendalam juga menekankan pentingnya refleksi. Setelah kegiatan belajar, murid dapat diajak merenungkan apa yang mereka pelajari dan bagaimana hal tersebut memengaruhi cara pandang mereka.

Refleksi ini bisa dilakukan melalui jurnal, diskusi, atau presentasi. Dengan demikian, nilai-nilai Kartini tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga terinternalisasi secara emosional dan sosial.

Lebih jauh, implementasi nilai Kartini dalam Kurikulum Merdeka sejalan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila, terutama pada dimensi bernalar kritis, mandiri, dan berkebinekaan global.

Semangat Kartini pada dasarnya adalah semangat berpikir maju tanpa meninggalkan jati diri, serta berani memperjuangkan keadilan dalam bingkai kemanusiaan.

Peran guru menjadi sangat strategis dalam proses ini. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan yang menunjukkan sikap terbuka, adil, dan reflektif.

Ketika guru memberi ruang dialog, menghargai perbedaan, dan mendorong murid berpikir mandiri, saat itulah semangat Kartini benar-benar hidup di ruang kelas. 

Murid akan lebih leluasa dan mempunyai ruang gerak ketika aspirasi mereka dapat didengar dan tersalurkan. Sehingga, mereka dapat menemukan arti keberadaan mereka sebagai generasi penerus semangat Kartini.

Akhirnya, memperingati Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada mengenang masa lalu. Pendidikan perlu menjadikannya sebagai momentum menyalakan semangat perubahan.

Melalui Kurikulum Merdeka dan pendekatan pembelajaran mendalam, ruang kelas dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berani, kritis, dan mandiri.

Generasi yang mampu melanjutkan cita-cita Kartini yaitu  membawa bangsa ini terus bergerak dari gelap menuju terang. Salam semangat generasi hebat Indonesia. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Hari Kartini 2026 #SMPN 1 X Koto #Laman Guru