Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Remaja dan Bahaya Krisis Identitas

Adriyanto Syafril • Rabu, 29 April 2026 | 09:38 WIB
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)

Penulis : Alvin Gumelar Hanevi, M.Pd. - Guru SMK Negeri 6 Padang

PADEK.JAWAPOS.COM - 

Usia remaja merupakan fase ketika seseorang berupaya mencari jati diri.

Upaya membentuk eksistensi di tengah kelompok menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh seorang remaja.

Pada umumnya, remaja yang berada di lingkungan positif akan menampilkan perbuatan dan tingkah laku yang baik.

Berbeda dengan remaja yang hidup di lingkungan kurang baik, gaya hidup mereka cenderung hanya mencari sensasi dan eksistensi semata.

Di tengah upaya mewujudkan generasi emas Indonesia tahun 2025, berbagai persoalan terus menghadang.

Krisis identitas merupakan salah satu masalah yang mengintai para remaja.

Tidak sedikit remaja yang mengalami krisis identitas.

Merujuk pada teori Erikson (1968), pada usia 10 hingga 20 tahun, remaja berada pada tahap yang disebut identity versus identity diffusion.

Pada fase ini, remaja mengalami krisis psikososial antara pembentukan identitas diri dan kebingungan terhadap identitasnya.

Kondisi tersebut umum dikenal sebagai krisis identitas.

Dalam teori Erikson, krisis identitas merupakan tahap pengambilan keputusan terhadap berbagai persoalan penting yang berkaitan dengan jati diri.

Erikson juga menyatakan bahwa pada masa remaja, krisis utama yang harus diselesaikan adalah pencarian identitas diri.

Identitas diri yang perlu dikembangkan meliputi penerimaan kondisi fisik dan lingkungan sosial, kematangan emosi, pengembangan keterampilan intelektual, serta pemilihan nilai-nilai sosial yang sesuai untuk membentuk perilaku.

Dalam proses ini, ada remaja yang berhasil menemukan identitas dirinya, namun ada pula yang gagal sehingga berpotensi menimbulkan penyimpangan sosial.

Salah satu faktor utama penyebab krisis identitas adalah penolakan dan kurangnya perhatian dari orang tua serta lingkungan sekitar.

Meningkatnya kasus kenakalan remaja seperti tawuran, seks bebas, balap liar, perundungan, konsumsi minuman keras, dan penyalahgunaan narkoba selaras dengan meningkatnya krisis identitas di kalangan remaja.

Penolakan dari lingkungan masyarakat juga dapat memperparah kondisi ini.

Remaja akan merasa bingung dalam menempatkan diri di tengah masyarakat, terutama ketika menghadapi stereotip negatif.

Sebagai contoh, remaja yang dicap berasal dari keluarga broken home sering kali merasa pasrah dan kehilangan arah hidup.

Ada pula remaja yang sebenarnya memiliki arah hidup, namun mengalami tekanan akibat paksaan dan diskriminasi dari orang tua.

Orang tua kerap memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan minat dan bakat anak.

Contoh yang sering terjadi adalah pemaksaan untuk masuk sekolah favorit atau jurusan tertentu demi kebanggaan orang tua.

Padahal, kondisi tersebut dapat membuat remaja kesulitan menempatkan diri di masyarakat karena menjalani sesuatu bukan atas pilihan sendiri.

Hal ini berpotensi memicu masalah bagi remaja, orang tua, maupun lingkungan sekitarnya.

Di lingkungan sekolah, remaja yang mengalami krisis identitas cenderung kesulitan menentukan cita-cita.

Sebaliknya, remaja yang tidak mengalami krisis identitas umumnya memiliki keyakinan terhadap masa depan yang ingin dicapai.

Sementara itu, remaja yang mengalami krisis identitas cenderung bingung dan ragu ketika menentukan arah hidupnya.

Persoalan krisis identitas pada remaja memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak agar tidak menimbulkan dampak negatif di masa depan.

Diperlukan sinergi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat agar remaja terhindar dari krisis identitas.

Dengan demikian, remaja dapat tumbuh dengan rasa percaya diri terhadap cita-cita dan masa depannya. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#krisis identitas remaja #teori Erikson #peran orang tua #Generasi Emas Indonesia #kenakalan remaja