Penulis : Novia Aurora - Guru SMP IT ICBS Payakumbuh
Pernahkah kita berpikir, apakah guru yang lembut bisa sama efektifnya dengan guru yang lantang? Di zaman sekarang, istilah soft spoken dan hard spoken semakin populer di kalangan siswa.
Guru soft spoken dikenal dengan suara pelan tapi didengar, sedangkan guru hard spoken lantang agar ditakuti. Sering kali, guru soft spoken merasa minder karena dianggap kurang berwibawa.
Di Sebagian ruang guru, kalimat ini masih sering mampir, “siswa zaman sekarang harus dibentak dulu baru nurut, kalau gurunya lembut, kelas jadi kacau.”
Padahal kenyataannya, siswa tidak selalu merespon kerasnya suara. Ada siswa yang ngantuk karena semalaman bantu orang tua jaga warung. Ada yang tidak bawa buku karena malu belum bayar iuran.
Ada juga yang jahil di kelas untuk dapat perhatian karena kurangnya perhatian di rumah. Terkadang, mereka baru terbuka ketika ditanya pelan “Kamu sedang kenapa?”
Soft spoken bukan berati lemah. Aturan tetap konsisten. Telat tetap dicatat, tugas tetap ditagih. Bedanya, guru soft spoken menyampaikannya dengan pelan.
Guru hard spoken mengandalkan volume, guru soft spoken mengandalkan empati. Keduanya bisa bikin kelas tertib. Cuma kuncinya berbeda sesuai dengan siswa yang juga beragam. Tidak semua pintu bisa dibuka dengan kunci yang sama.
Perdebatan soft spoken dengan hard spoken sebenarnya tidak perlu dipertajam. Tujuan guru sama yaitu, menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman.
Jika dengan suara pelan mampu menumbuhkan rasa segan dan tanggung jawab maka tidak ada keharusan untuk meninggikan suara setiap saat.
Tentu ada kalanya guru perlu meninggikan suara, saat adanya perkelahian yang membahayakan fisik siswa maka volume adalah alarm, bukan gaya mengajar sehari-hari.
Pada dasarnya, tegas adalah soal konsisten memegang prinsip. Prinsip untuk menumbuhkan pendidikan karakter siswa.
Wibawa guru tidak lahir dari ketakutan siswa, tetapi wibawa lahir dari rasa homat. Rasa hormat yang paling bertahan lama tumbuh dari hati yang merasa didengar, bukan dari telinga yang dipaksa diam.Guru mendidik dengan hati bukan dengan volume adalah seni guru sejati. (*)
Editor : Adriyanto Syafril