Penulis : Yesi Arisanti, S.Pd. - SD Semen Padang
Di tengah riuhnya perlombaan yang dipenuhi tepuk tangan dan sorak kemenangan, ada satu perjuangan yang lahir dari kesunyian: menulis. Tidak ada gemuruh penonton ketika seorang anak sibuk merangkai kalimat.
Tidak ada sorotan lampu saat ia menghapus lalu menulis ulang paragraf berkali-kali. Namun, justru dari proses sunyi itulah sebuah prestasi membanggakan lahir di SD Semen Padang.
Tahun ini menjadi sejarah baru bagi SD Semen Padang. Untuk kali pertamanya, sekolah ini mengikuti cabang menulis cerita pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Lomba ini diadakan pada Rabu, 13 Mei 2026.
Acara ini diadakan di UPCC UPGRI Gunung Pangilun. Alhamdulillah, siswi kelas 5 SD Semen Padang, Bening Putri Naera, berhasil meraih Juara 2 melalui cerpennya yang berjudul Pahlawan di Balik Kata-Kata.
Prestasi itu tentu tidak datang secara tiba-tiba. Di balik kemenangan tersebut, ada proses panjang yang dijalani Bening dengan penuh kesungguhan. Sebagai guru bahasa Indonesia di SD Semen Padang, saya memang sering menceritakan kepada murid-murid tentang buku-buku yang telah saya tulis.
Saat mengajar, saya membawa karya-karya tersebut ke kelas agar mereka percaya bahwa menulis bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak pun bisa berkarya dan menghasilkan tulisan yang bermakna.
Dari sekian banyak murid yang saya ajar, Bening adalah salah satu anak yang diam-diam memperhatikan semua cerita itu. Ia mulai tertarik menulis setelah sering mendengar pengalaman saya sebagai penulis. Sedikit demi sedikit, ia mencoba menuangkan pikirannya ke dalam bentuk cerita.
Awalnya, tulisan Bening masih sangat sederhana. Alurnya kadang belum teratur, penggunaan katanya pun masih terbatas. Namun, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua anak: kemauan untuk terus belajar. Ia tidak malu menerima koreksi dan tidak cepat puas dengan hasil tulisannya sendiri.
Ketika mengetahui ada cabang menulis di FLS3N, nama Bening langsung terlintas di pikiran saya. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sebelum lomba dimulai, salah satu cerpen karya Bening sudah dimuat di Majalah Literasi Indonesia. Saat itu saya semakin yakin bahwa anak ini memiliki potensi besar dalam dunia menulis.
Sejak ditunjuk menjadi peserta FLS3N, Bening mulai berlatih lebih serius. Hampir setiap hari ia menulis. Sepulang sekolah, ia meluangkan waktu untuk memperbaiki ceritanya bersama saya. Kadang ia mengganti paragraf pembuka berkali-kali karena merasa belum cukup menarik. Kadang ia berhenti lama hanya untuk mencari satu kata yang paling tepat.
Ada hari-hari ketika ia merasa lelah dan kehabisan ide. Pernah suatu kali ia berkata bahwa tulisannya terasa biasa saja dibanding karya orang lain. Namun, ia tidak menyerah. Saya melihat sendiri bagaimana Bening mulai menikmati proses itu. Ia memahami bahwa menulis bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang siapa yang mau terus mencoba.
Cerpen yang ditulisnya berjudul Pahlawan di Balik Kata-Kata. Cerita tersebut mengangkat pengalaman pertamanya belajar menulis dan bagaimana seorang guru mampu menumbuhkan keberanian dalam dirinya untuk berkarya. Dengan bahasa yang sederhana, tetapi penuh ketulusan, Bening berhasil menyampaikan emosi yang menyentuh.
Menjelang perlombaan, latihan semakin intens. Bening belajar memperbaiki tanda baca, memilih diksi yang tepat, hingga melatih fokus, dan disiplin waktu. Semua perjuangan itu akhirnya terbayar ketika pengumuman lomba tiba. Nama Bening Putri Naera diumumkan sebagai Juara 2 FLS3N tingkat Kota Padang cabang menulis cerita.
Saat itu, rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Bukan hanya karena kemenangan yang diraih, tetapi karena saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak tumbuh melalui proses literasi. Prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak sebenarnya memiliki potensi besar dalam menulis. Mereka hanya membutuhkan ruang, dukungan, dan kepercayaan untuk berkembang.
Namun, di balik kebahagiaan ini, ada pekerjaan rumah besar yang masih menunggu kita. Saat ini, literasi masih menjadi tantangan bagi banyak pelajar. Tidak sedikit anak yang menganggap membaca sebagai kegiatan membosankan. Mereka lebih akrab dengan layar gawai dibanding halaman buku. Akibatnya, kemampuan mereka dalam menuangkan gagasan juga semakin terbatas.
Oleh karena itu, literasi tidak boleh hanya menjadi slogan di sekolah. Literasi harus dihidupkan melalui keteladanan dan kebiasaan nyata. Guru perlu menjadi contoh dengan menunjukkan kecintaan terhadap membaca dan menulis. Sekolah juga harus memberi ruang bagi karya siswa untuk diapresiasi. Sebab, satu pujian sederhana kadang mampu membuat seorang anak percaya pada kemampuannya sendiri.
Kisah Bening membuktikan bahwa satu anak yang diberi kesempatan dapat menyalakan semangat bagi banyak anak lainnya. Dari sebuah cerita sederhana, lahirlah keberanian. Dari keberanian itu, tumbuhlah mimpi. Siapa sangka, dari ruang kelas SD Semen Padang, mungkin sedang lahir penulis-penulis besar Indonesia di masa depan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril