Penulis : Desvitri Yanti, S.Pd., Gr - Guru kelas 1 UPT SD Negeri 01 Koto Laweh
Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, kekhawatiran akan pudarnya budaya daerah mulai dirasakan banyak kalangan, termasuk di lingkungan sekolah dasar. Berangkat dari kondisi itu, SD Negeri 01 Koto Laweh menggelar kegiatan “Pasambahan Makan Minum” pada 9 Mei 2026 sebagai upaya mengenalkan kembali budaya Minangkabau kepada generasi muda. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian adat, tetapi juga dijadikan ujian praktik mata pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau) bagi siswa kelas VI.
Tradisi pasambahan dalam budaya Minangkabau bukan sekadar kegiatan seremonial makan bersama. Di dalamnya terdapat nilai sopan santun, penghormatan kepada tamu, tata cara berbicara, hingga pembelajaran etika dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah semakin sedikit anak-anak yang memahami makna tradisi tersebut. Banyak siswa lebih akrab dengan budaya populer modern dibandingkan adat yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri. Kondisi inilah yang mendorong pihak sekolah menghadirkan pembelajaran budaya secara langsung dan nyata agar tidak hanya berhenti pada teori di dalam buku pelajaran.
Kegiatan ini dilakukan dengan persiapan dan latihan tentunya. Konsep pasambahan ditulis oleh Bapak Maswardi, S.Pd.I. Beliau adalah guru PAI tetapi memiliki kelebihan di bidang lain yang tentunya sangat menyukai budaya alam Minangkabau. Setelah konsep dibuat, para siswa menghafal konsep yang telah dibuat. Konsep yang diberikan cepat dihafal oleh siswa sehingga latihan pun dilakukan setelah Sholah Zuhur berjamaah di sekolah. Dalam waktu lebih kurang dua Minggu para siswa dapat mempraktekkannya.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa tampil mempraktikkan pasambahan makan minum dengan mengenakan pakaian adat Minangkabau. Mereka mempelajari tata cara penyambutan, susunan penyajian hidangan, hingga dialog adat yang biasa digunakan dalam acara resmi masyarakat Minang. Suasana sekolah pun berubah menjadi ruang pembelajaran budaya yang hidup dan penuh makna. Kegiatan ini dapat terlaksana berkat kerja sama yang erat antara kepala sekolah, majelis guru, tenaga kependidikan, serta dukungan penuh dari orang tua siswa. Kebersamaan seluruh unsur sekolah menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan kegiatan yang sarat nilai pendidikan karakter tersebut. Kepala Sekolah UPT SD Negeri 01 Koto Laweh yaitu Ibu Adrika Demi, S.Pd.SD berpesan kepada para siswa untuk belajar terus dimanapun dan dari siapa pun. Seperti kata pepatah “Alam takambang jadi guru”
Lebih dari sekadar ujian praktik, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sekolah memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga diajak memahami akar budaya mereka sendiri. Dari kegiatan pasambahan makan minum, siswa belajar tentang adab, kebersamaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Upaya sederhana yang dilakukan SD Negeri 01 Koto Laweh ini menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang kelas dan tumbuh melalui kolaborasi seluruh warga sekolah. Ketika budaya dikenalkan sejak dini, harapan untuk menjaga warisan Minangkabau di masa depan pun akan tetap hidup. (*)
Editor : Adriyanto Syafril